Dalam baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Kyai Asyik, Sukosari, Dagangan, Madiun, Kiai Hasan Ali mengingatkan jamaah agar mengamalkan thoriqoh yang telah diterima dengan istiqamah. Baiat bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kualitas batin.
Beliau menjelaskan bahwa ajaran agama tidak hanya menyangkut kewajiban lahiriah seperti shalat, puasa, dan zakat, tetapi juga pembinaan rohani untuk membersihkan hati. Dalam tradisi TQN, dzikir jahar dan dzikir sirr menjadi bagian dari ikhtiar tersebut. Dzikir jahar dilafalkan secara nyata, sedangkan dzikir sirr dilakukan dalam keheningan batin, antara lain melalui dzikir Allah, Allah, Allah.
Hati, sebagaimana benda yang berkarat, perlu terus dibersihkan dari sifat-sifat tercela seperti kesombongan, iri hati, dan kebencian. Karena itu, tugas orang yang menempuh jalan thoriqoh bukan sekadar memperbanyak dzikir, melainkan juga memperbaiki perilaku dan mengendalikan hawa nafsu. Proses ini membutuhkan kesungguhan yang berkelanjutan, bukan hanya semangat sesaat setelah baiat.
Kiai Ali Barqul Abid menambahkan pentingnya mensyukuri kesempatan bertawajuh bersama guru mursyid. Dalam tradisi tarekat, tawajuh merupakan bagian dari latihan rohani dengan bimbingan guru, untuk menjaga kesungguhan berdzikir, menata niat, dan memusatkan hati kepada Allah. Kesempatan tersebut bukan sekadar pertemuan dengan guru, tetapi juga ruang belajar tentang adab dan kesungguhan dalam menempuh perjalanan spiritual.
Bimbingan mursyid hendaknya mendorong murid semakin tekun mengamalkan dzikir dan menjaga istiqamah dalam kehidupan sehari-hari. Kedekatan dengan guru bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan untuk semakin mendekat kepada Allah.
Kiai Hasan Ali juga mengingatkan agar jamaah tidak terlena oleh amalan thoriqoh hingga melupakan kewajiban syariat. Shalat wajib tetap harus dilaksanakan, puasa wajib tetap dijalankan, dan kewajiban agama lainnya tetap dijaga. Tujuan perjalanan spiritual adalah keselamatan dunia dan akhirat, bukan semata-mata memperoleh ketenangan batin.
Pesan kedua kiai itu bertemu pada satu hal: baiatan dan tawajuh merupakan awal dari tanggung jawab untuk terus memperbaiki diri. Dzikir tidak semestinya berhenti ketika seseorang meninggalkan masjid, tetapi harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, melalui kesabaran, kerendahan hati, ketaatan, dan kepedulian kepada sesama.
Sebab, keberhasilan menempuh thoriqoh bukan semata-mata diukur dari banyaknya dzikir atau seringnya mengikuti tawajuh, melainkan dari kesungguhan menjaga syariat dan perubahan akhlak. Baiat adalah awal perjalanan, tawajuh menjadi bagian dari bimbingan, dan istiqamah menjaga langkah seorang murid untuk terus membersihkan hati hingga akhir hayat.
***
Posting Komentar untuk "Baiatan dan Tawajuh, Jalan Istiqamah Membersihkan Hati"