Feature Tausiyah Kiai Ali Barqul Abid pada Baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Al Misbah, Banyuarum, Kauman.
Di Masjid Al Misbah, Banyuarum, Kauman, Kiai Ali Barqul Abid mengajak jamaah memahami makna baiat dalam Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Bukan sekadar ikrar untuk mengamalkan dzikir, baiat merupakan ikatan rohani antara murid dan guru sekaligus bagian dari kesinambungan ajaran yang diwariskan melalui sanad.
Dalam tausiyahnya, Kiai Ali menjelaskan dua amalan utama tarekat tersebut: dzikir La ilaha illallah dalam Thoriqoh Qodiriyah dan dzikir Allah, Allah dalam Thoriqoh Naqsyabandiyah. Keduanya bukan amalan yang baru muncul pada masa Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dan Syekh Muhammad Bahauddin an-Naqsyabandi, melainkan ajaran dzikir yang diyakini bersumber dari Rasulullah dan diteruskan melalui para guru hingga generasi sekarang.
Lantas, mengapa seseorang perlu berbaiat jika dzikir tetap dapat diamalkan tanpa baiat?
Kiai Ali menjelaskan bahwa dzikir tanpa baiat tetap dapat diamalkan dengan harapan diterima Allah selama dilandasi keikhlasan. Namun, baiat memiliki faedah khusus, yakni liirtibathil qulub, menjalin ikatan hati dan hubungan rohani antara murid dan guru.
Ikatan itu tersambung melalui sanad, dari seorang guru kepada guru sebelumnya hingga rangkaian yang diyakini bersambung kepada Rasulullah. Dalam sanad yang menjadi pijakan baiatan tersebut, ajaran diteruskan melalui para guru, termasuk KH Muhammad Amnan Zamzami dan KH Imam Muhadi Bagbogo. Dengan demikian, sanad bukan sekadar rangkaian nama, melainkan penanda kesinambungan bimbingan rohani.
Menurut Kiai Ali, hubungan batin ini tidak dibatasi jarak dan waktu. Seorang murid mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan guru-guru terdahulu, tetapi melalui baiat ia menjadi bagian dari mata rantai bimbingan yang sama.
Untuk menjelaskan hal itu, Kiai Ali mengibaratkan sanad seperti kabel penghantar listrik. Lampu dapat menyala karena aliran daya tersambung dari sumbernya melalui kabel. Demikian pula, baiat menjadi sarana untuk menjaga hubungan rohani agar tetap terpelihara.
Karena itu, baiat tidak semestinya berhenti sebagai ikrar sesaat. Kesungguhan mengamalkan dzikir, mengikuti bimbingan guru, dan menghadiri majelis menjadi bagian dari upaya merawat ikatan tersebut. Mengamalkan dzikir sendiri di rumah tetap memiliki nilai, tetapi kebersamaan dalam majelis juga penting untuk memperbarui semangat dan menjaga istiqamah.
Di tengah penjelasan tentang sanad dan baiat, Kiai Ali menyampaikan pengingat penting: jangan sampai seseorang berhenti pada perantara dan melupakan inti perjalanan spiritualnya.
Mengikuti tarekat bukanlah jalan untuk memburu karamah, kesaktian, atau kemuliaan di mata manusia. Menjadikan keistimewaan semacam itu sebagai alasan berdzikir justru dapat mengaburkan niat. Bagi Kiai Ali, seorang murid harus menjaga keikhlasan dan mengarahkan amalnya untuk mencari ridha Gusti Allah.
“La maqshuda illallah,” tegas Kiai Ali, mengingatkan bahwa tidak ada tujuan hakiki selain Allah. Prinsip itu sejalan dengan ungkapan yang dikenal dalam tradisi tasawuf, “Ilahi anta maqsudi wa ridhaka mathlubi”—Tuhanku, Engkaulah tujuanku dan ridha-Mu yang kucari.
Kiai Ali kemudian mengajak jamaah melihat fungsi dzikir dalam kehidupan sehari-hari. Dzikir bukan sekadar bacaan yang diulang dalam hitungan tertentu, melainkan ikhtiar membersihkan hati dari sifat-sifat buruk, seperti kemunafikan, kesyirikan, kedengkian, dan berbagai penyakit batin lainnya.
Dalam bahasa tasawuf, upaya tersebut berkaitan dengan penyucian hati dan jiwa. Dzikir juga menjadi sarana bermunajat dan membangun hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Karena itu, pengamalannya perlu disertai kesungguhan memperbaiki hati dan perilaku, bukan hanya keteraturan melafalkan bacaan.
Pada bagian akhir tausiyah, Kiai Ali menjelaskan tata cara dzikir Thoriqoh Qodiriyah yang diajarkan kepada jamaah. Sebelum membaca La ilaha illallah, jamaah mengawali dengan istighfar sebanyak tiga kali, dengan bacaan Astaghfirullahal Ghafurur Rahim. Lisan memohon ampun, sementara hati diarahkan untuk senantiasa mengingat Gusti Allah.
Dari baiatan di Masjid Al Misbah, Banyuarum, Kauman, tersampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kesinambungan bimbingan rohani dan mengamalkan dzikir dengan hati yang ikhlas. Baiat bukan garis akhir, melainkan ikrar untuk menapaki jalan yang diwariskan para guru dengan penuh kesungguhan.
Pada akhirnya, nilai perjalanan tarekat tidak semata-mata terletak pada panjangnya silsilah atau banyaknya baiat yang diikuti, melainkan pada bagaimana ajaran itu membimbing seseorang membersihkan hati, memperbaiki perilaku, dan menjalani kehidupan dalam upaya meraih ridha Gusti Allah.
***
Posting Komentar untuk "Menjaga Sambungan Hati, Merawat Jalan Pulang kepada Gusti Allah"