Memerangi Nafsu, Menjaga Hati di Jalan Menuju Allah

Tausiyah Kiai Ali Barqul Abid dalam baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi di Masjid Mamba’ul Huda, Bedingin, Sambit, Ponorogo, mengingatkan jamaah tentang perjuangan melawan hawa nafsu yang kerap menyeret manusia pada kemaksiatan.

Bisikan hawa nafsu kerap hadir secara halus, membuat kemaksiatan terasa biasa, bahkan nyaman dilakukan. Sejelek-jeleknya kemaksiatan adalah ketika manusia menuruti bisikan hawa nafsunya, hingga kehilangan kepekaan hati terhadap kebenaran.

Pemikiran ini mengingatkan pada sebuah petuah yang dinisbatkan kepada Syekh Sahl at-Tustari, bahwa ketika seseorang terus bertahan dalam kemaksiatan, amal-amal baiknya dapat bercampur dengan hawa nafsu. Karena itu, memperbaiki diri bukan hanya tentang memperbanyak ibadah, melainkan juga berusaha meninggalkan hal-hal yang diketahuinya dibenci Allah.

Jalan melawan hawa nafsu ditempuh dengan mengingat Allah melalui dzikir, mendekat kepada orang-orang saleh, dan melatih pengendalian diri. Jika terlanjur berbuat salah, manusia perlu bertobat, memperbarui niat, dan memperbaiki amalnya.

Dalam Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dzikir La ilaha illallah dan dzikir Allah-Allah menjadi bagian dari latihan rohani untuk menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Allah. Penghayatan dzikir diharapkan tercermin dalam akhlak dan kemampuan menahan diri dari kemaksiatan.

Pada akhirnya, perjalanan mendekat kepada Allah menuntut kesungguhan untuk terus menjaga hati. Sebab, salah satu perjuangan terberat manusia adalah mengenali dan menundukkan hawa nafsu dalam dirinya sendiri.

***

Posting Komentar untuk "Memerangi Nafsu, Menjaga Hati di Jalan Menuju Allah"