“Jangan sampai niat, tujuan hati kita berhenti pada selain Allah.” Pesan itu disampaikan Kiai Ali Barqul Abid dalam tausyiahnya pada baiatan TQN dengan sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Al Anam, Pintu, Sidorejo, Sukorejo, Ponorogo. Kiai Ali mengingatkan sebuah hikmah Syekh Ibn ‘Athaillah: jangan biarkan cita-cita dan harapan hati melewati selain Allah, sebab Dzat Yang Maha Mulia tidak semestinya dilewati oleh harapan hamba-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang membutuhkan banyak jalan. Ketika sakit, kita datang kepada dokter dan menggunakan obat. Ketika membutuhkan ilmu, kita berguru. Ketika mencari rezeki, kita bekerja. Ketika menghadapi persoalan, kita meminta bantuan kepada orang lain. Teknologi, pengetahuan, jabatan, pekerjaan dan manusia dapat menjadi bagian dari ikhtiar.
Namun, semua itu hanyalah wasilah—jalan atau perantara. “Kalau lewat wasilah, lewat jalan, silakan. Tetapi tujuan akhirnya harus Allah,” demikian pesan Kiai Ali. Ikhtiar tetap dijalankan, tetapi hati tidak berhenti pada ikhtiar. Dokter bukan penentu kesembuhan, obat bukan penentu kesembuhan, dan pekerjaan bukan penentu rezeki. Semua itu menjadi jalan, sementara Allah-lah yang menentukan hasilnya.
Karena itu, Ibn ‘Athaillah mengingatkan agar seorang hamba tidak mengangkat kebutuhannya kepada selain Dia yang mendatangkan kebutuhan tersebut. Bukan berarti manusia dilarang meminta pertolongan kepada sesama. Yang perlu dijaga adalah keyakinan hati: manusia membantu karena Allah menggerakkan, obat bekerja karena Allah memberi sebab, dan rezeki datang melalui jalan yang dibukakan Allah.
Di sinilah sifat Al-Karim menjadi sandaran. Allah Yang Maha Mulia menepati janji-Nya, termasuk janji untuk mengabulkan doa. Dia tidak mengecewakan hamba-Nya, meskipun jawaban tidak selalu hadir dalam waktu dan bentuk yang kita inginkan. Allah dapat memberi lebih dari yang diminta, bahkan melampaui apa yang mampu dibayangkan manusia. Kemurahan-Nya juga tidak terbatas hanya kepada mereka yang sempurna dalam ketaatan. Kehidupan, rezeki dan berbagai kenikmatan tetap mengalir kepada manusia sebagai bagian dari kemurahan-Nya.
Karena itu, ketika meminta kepada Allah, kata Kiai Ali, jangan tanggung-tanggung. Besarnya kebutuhan manusia tidak pernah lebih besar daripada keluasan kemurahan Allah. Jika Allah menjadi tempat berharap, jangan batasi doa hanya karena pikiran kita merasa sesuatu itu sulit atau tidak mungkin.
Al-Qur’an pun menegaskan kedekatan Allah dengan hamba yang berdoa. Allah berfirman bahwa Dia dekat dan mengabulkan doa orang yang berdoa ketika memohon kepada-Nya. Namun, pengabulan doa tidak selalu berarti persis seperti yang diminta dan tepat pada waktu yang diinginkan. Allah mengetahui apa yang tidak diketahui manusia. Karena itu, tugas seorang hamba adalah meminta, berikhtiar, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Kiai Ali juga menyampaikan sebuah kisah yang berkembang dalam literatur tasawuf tentang Nabi Ibrahim dan seorang lelaki yang telah lama beliau beri makan. Suatu ketika Ibrahim meminta lelaki itu mengakui Allah sebelum makan. Lelaki tersebut kemudian pergi. Dalam kisah itu, Allah menegur Ibrahim karena selama puluhan tahun lelaki tersebut telah diberi kehidupan dan rezeki tanpa terlebih dahulu diminta beriman. Ibrahim pun mengejarnya dan menyampaikan teguran tersebut. Kisah itu menggambarkan keluasan kemurahan Allah yang tidak menunggu manusia menjadi sempurna untuk menerima karunia-Nya.
Pesan tersebut kembali kepada satu hal: jangan sampai hati tertipu oleh jalan yang sedang ditempuh. Kita boleh menggunakan teknologi, meminta pertolongan manusia, mencari ilmu, bekerja, berobat dan menggunakan berbagai sarana. Tetapi jangan sampai wasilah mengambil tempat Allah dalam hati.
Dalam tradisi TQN, arah hati itu diringkas dalam kalimat “La maqsuda illallah”—tidak ada tujuan selain Allah. Juga dalam doa, “Ilahi anta maqsudi wa ridhaka matlubi”—Ya Allah, Engkaulah tujuanku dan ridha-Mu yang kucari.
Itulah makna kumandelo: bersandar kepada Allah. Boleh ada ikhtiar, boleh ada perantara, boleh ada jalan yang ditempuh. Tetapi tujuan hati jangan berhenti pada jalan tersebut. Sebab yang membuka jalan adalah Allah, yang memberi kemampuan untuk menempuhnya adalah Allah, dan kepada-Nya pula seluruh harapan akhirnya kembali.
Maka, berusahalah dengan sungguh-sungguh, gunakan semua wasilah yang tersedia, dan berdoalah tanpa mengecilkan kemurahan-Nya. Sebab bagi seorang hamba, jalan boleh banyak, tetapi tujuan hati tetap satu: Allah.
***
Posting Komentar untuk "Jangan Sampai Tujuan Hati Kita Berhenti pada Selain Allah"