Di Masjid Jami Tegalsari, Kiai Ali Barqul Abid mengajak jamaah merenungkan salah satu nama Allah: Al-Karim—Allah Yang Mahamulia dan luas karunia-Nya.
Menurut Kiai Ali, kemuliaan Allah bersifat hakiki. Allah tidak menjadi mulia karena dimuliakan makhluk. Ciri Al-Karim tampak pada kemuliaan-Nya yang sempurna, keluasan karunia-Nya, kemurahan-Nya dalam memberi, serta pemberian-Nya yang melampaui perhitungan manusia. Allah memberi dan mencukupi makhluk-Nya dengan berbagai bentuk nikmat yang kadang baru disadari manusia setelah waktu berlalu.
Karena itu, banyak atau sedikitnya rezeki dunia bukan ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah. Orang yang mengenal Al-Karim semestinya belajar menjadi hamba yang mulia: ringan berbuat baik, tidak mengungkit pemberian, tidak menyakiti orang lain, dan beramal bukan untuk mencari pujian, melainkan mengharap ridha Allah.
Kiai Ali kemudian mengisahkan Nabi Ibrahim. Seorang pendeta Nasrani datang dalam keadaan lapar. Dalam kisah yang disampaikan Kiai Ali, Ibrahim sempat mensyaratkan makanan dengan keimanan sehingga pendeta itu pergi. Allah kemudian menegur Ibrahim. Selama lebih dari 80 tahun, Allah telah memberi makan pendeta tersebut tanpa menunggu ia beriman terlebih dahulu.
Ibrahim segera mengejarnya dan menyampaikan teguran itu. Sang pendeta kemudian beriman, tersentuh oleh keluasan kemurahan Allah.
Kisah itu menjadi pelajaran bahwa karunia Allah jauh lebih luas daripada hitungan manusia.
Mengenal Al-Karim pun tidak cukup berhenti di lisan. Dzikir diharapkan membentuk hati dan akhlak. Demikian pula baiat dalam Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dengan sanad KH Imam Muhadi Bagbogo menjadi ikhtiar seorang murid untuk mendekatkan hati kepada Allah.
Guru adalah pembimbing dan wasilah. Sanad menjaga kesinambungan ajaran. Baiat dan tawajuh adalah bagian dari perjalanan.
Namun semuanya bukan tujuan.
Guru bukan tujuan. Baiat bukan tujuan. Tawajuh pun bukan tujuan. Tujuannya tetap Allah.
La maqsuda illallah.
Tidak ada tujuan selain Allah.
Karena itu, doa yang mengiringi perjalanan seorang murid:
“Ilahi anta maqsudi, wa ridhaka mathlubi.”
Ya Allah, Panjenengan ingkang kula tuju; ridha Panjenengan ingkang kula goleki.
Pada akhirnya, mengenal Al-Karim mengajarkan satu hal sederhana: rezeki bukan ukuran kemuliaan, kebaikan bukan jalan mencari pujian, dan seluruh perjalanan seorang hamba bermuara pada satu tujuan—Allah dan ridha-Nya.
***
Posting Komentar untuk "Al-Karim dan Jalan Kembali kepada Allah"