Suatu ketika, Kiai Amenan Zam Zami menerima pesan singkat melalui telepon seluler. Isinya meminta pulsa dengan alasan darurat, mengatasnamakan seseorang yang membutuhkan pertolongan.
Beliau kemudian meminta Mas Kurniawan untuk membelikan pulsa tersebut.
Mas Kurniawan curiga. Ia menyampaikan kepada romonya bahwa pesan itu kemungkinan penipuan. Pada saat yang sama, Mas Har, kakaknya, juga datang dan memberikan peringatan yang sama.
Namun Kiai Amenan tetap meminta diantar ke konter pulsa.
Bahkan ketika tidak ada yang bersedia mengantar, beliau mengatakan akan berjalan kaki sendiri meski jaraknya cukup jauh. Akhirnya Mas Kurniawan mengantar romonya.
Sesampainya di konter, orang yang melayani pun mengatakan bahwa pesan tersebut kemungkinan penipuan. Tetapi Kiai Amenan tetap meminta pulsa dikirimkan. Dengan sedikit nada keras, beliau hanya mengatakan bahwa dirinya datang untuk membeli pulsa, bukan untuk diceramahi.
Pulsa pun dikirim ke nomor yang meminta bantuan tadi.
Setelah itu, tidak ada penjelasan.
Sampai Kiai Amenan wafat, Mas Kurniawan tidak pernah mengetahui alasan di balik keputusan romonya. Bagi dirinya, seperti kebanyakan orang, hal itu sulit diterima. Jika tahu sedang ditipu, mengapa masih memberi?
Pertanyaan itu baru menemukan jawaban ketika setelah romonya wafat, Mas Kurniawan menceritakan peristiwa tersebut kepada Kiai Ali Barqul Abid.
Menurut Kiai Ali, apa yang ada di benak seorang guru, terlebih seorang Mursyid, tidak selalu sama dengan cara berpikir kebanyakan orang. Bisa jadi ada perhitungan dan pertimbangan batin yang tidak perlu disampaikan kepada orang lain.
Bagi orang kebanyakan, memberi kepada orang yang membutuhkan adalah hal yang lumrah. Memberi kepada orang dekat, orang yang disayangi, atau orang yang memang pantas dikasihani, tidak terlalu sulit dilakukan.
Tetapi memberi kepada orang yang menipu, membohongi, memusuhi, atau bahkan kepada orang yang menurut ukuran kita tidak pantas diberi, adalah perkara lain.
Di situlah, kata Kiai Ali, seorang guru belajar menjaga hati agar tidak memilih-milih dalam memberi.
Ada pelajaran lain yang lebih dalam di baliknya.
Seorang Mursyid, menurut Kiai Ali, senantiasa berusaha menjaga hati dari keinginan-keinginan duniawi. Sebab sesuatu yang berada di tangan, sekecil apa pun nilainya, dapat menumbuhkan keinginan: ingin membeli ini, ingin memiliki itu, atau menyimpannya untuk sesuatu yang belum tentu diperlukan.
Karena itu, ketika uang tersebut diberikan kepada orang lain, yang dilepaskan bukan sekadar sejumlah uang. Ada keinginan yang ikut dilepaskan. Ada keterikatan yang diputus. Ada ruang dalam hati yang kembali dikosongkan agar tidak dipenuhi oleh keinginan-keinginan baru.
Maka memberi, dalam pengertian seorang Mursyid, bukan hanya memindahkan sesuatu dari tangan kepada tangan lain. Lebih dari itu, ia adalah latihan melepaskan apa yang mulai melekat di hati.
Kiai Ali juga mengingatkan, memberikan sesuatu tidak semestinya menunggu ucapan terima kasih atau penghargaan. Setelah diberikan, biarkan selesai.
Sebab pada akhirnya, yang penting bukan siapa yang menerima, melainkan apakah hati orang yang memberi masih menyimpan tuntutan setelah pemberian itu dilepaskan.
Pulsa itu mungkin hanya bernilai beberapa ribu rupiah.
Namun dari sesuatu yang kecil itu, Mas Kurniawan kemudian menemukan pelajaran yang jauh lebih besar: bahwa terkadang yang paling sulit untuk dilepaskan bukanlah benda yang ada di tangan, melainkan keinginan yang diam-diam telah melekat di hati.
***
Posting Komentar untuk "Ketika Memberi Berarti Melepas"