Ada perjumpaan yang tampak sederhana di mata manusia, tetapi diyakini menyimpan makna panjang dalam perjalanan hidup. Seseorang datang ke sebuah majelis, duduk di antara jamaah, mendengarkan dzikir dan nasihat. Namun bagi seorang salik, perjumpaan dengan guru mursyid tidak berhenti pada pertemuan antara seseorang dengan seseorang. Di dalamnya ada sanad, tuntunan, dan jalan yang hendak ditempuh menuju Allah.
Gambaran tentang perjumpaan itulah yang disampaikan Kiai Ali Barqul Abid dalam tausyiahnya pada baiatan Thoriqoh Qodriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Mushola Thoriqul Huda, Gadel, Sidorejo, Sukorejo, Ponorogo.
Menurut Kiai Ali, ruh-ruh yang sebelumnya pernah bertemu akan dipertemukan kembali. Begitu pula ketika ruh ditiupkan dan manusia kemudian dipertemukan di dunia. Bahkan, dalam pemahaman tersebut, perjumpaan tidak berhenti pada kehidupan dunia, tetapi berlanjut hingga akhirat.
Karena itu, bertemu dengan seorang mursyid dipandang sebagai anugerah bagi orang yang dikehendaki Allah.
Kiai Ali mengutip pemahaman Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari dalam Al-Hikam bahwa seseorang tidak akan berjumpa dengan wali-wali Allah kecuali atas kehendak-Nya. Dalam pemahaman tarekat yang disampaikan Kiai Ali, perjumpaan dengan mursyid menjadi bagian dari jalan seorang hamba menuju Allah.
Mursyid adalah wasilah, sarana pembimbing yang mengarahkan murid dalam perjalanan itu. Bukan kepada dirinya murid diarahkan, melainkan kepada Allah.
Pertanyaan itu kemudian menemukan jawabannya dalam kalimat yang menjadi pegangan:
لا مقصود إلا الله
La maqsuda illa Allah—tidak ada yang menjadi tujuan kecuali Allah.
Dari sanalah dzikir memperoleh kedudukannya. Dzikir yang diterima melalui guru mursyid, dalam tradisi tarekat, bukan sekadar rangkaian lafaz yang diamalkan tanpa bimbingan. Ia diterima melalui mata rantai guru dan sanad yang diyakini bersambung kepada guru-guru sebelumnya, Syekh Abdul Qadir Jailani, para sahabat, Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Malaikat Jibril, hingga Allah SWT.
Sanad menjadi bagian dari keyakinan bahwa dzikir tersebut memiliki jalur pengajaran dan tuntunan. Guru tidak hanya memberikan bacaan, tetapi membimbing bagaimana seorang murid menjalani amalan itu.
Di titik inilah Kiai Ali membawa jamaah pada pengertian tentang baiat.
Baiat berarti menyambung. Apa yang telah tersambung jangan sampai terputus, terlebih sengaja diputus. Maka baiat bukan semata-mata sebuah prosesi yang selesai ketika tangan bersalaman atau ikrar diucapkan. Ada janji yang harus dijaga setelah jamaah kembali ke rumah masing-masing.
Menjaga sambungan itu, antara lain, dengan istiqamah terhadap dzikir, tuntunan, dan amanah guru.
Lalu bagaimana hubungan itu tetap dirasakan ketika murid tidak sedang berada di hadapan guru?
Di sinilah rabitah mengambil tempat.
Rabitah merupakan upaya menjaga ingatan dan kesadaran batin terhadap guru serta sanad yang menjadi jalan pengajaran. Murid mengingat guru bukan sekadar sebagai sosok yang pernah ditemui, tetapi sebagai pembimbing yang telah memberikan tuntunan. Jarak tidak menjadi alasan untuk melupakan amanah yang telah diterima.
Sedangkan tawajuh mempunyai suasana yang berbeda. Tawajuh merupakan perjumpaan murid dengan guru secara langsung untuk menerima bimbingan dan pengarahan. Murid menghadap, mendengarkan, memperhatikan, dan memperoleh penguatan dalam menjalankan jalan yang telah dipilihnya.
Jika rabitah menjaga kesadaran ketika murid berjauhan, tawajuh menjadi ruang ketika murid kembali menghadap guru.
Dan setelah perjumpaan itu selesai, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Murid pulang, membawa dzikirnya, membawa amanahnya, membawa janji baiatnya. Tidak setiap saat guru berada di sampingnya. Tidak setiap waktu ada yang mengingatkan.
Barangkali justru di situlah makna baiat terasa paling dalam: ketika seseorang berjalan sendirian dalam kesibukan hidup, tetapi tetap mengingat apa yang pernah dijanjikannya.
Sebab ada sambungan yang ingin terus dijaga—dengan guru, dengan sanad, dengan dzikir, dan terutama dengan tujuan yang sejak awal telah ditanamkan dalam hati:
لا مقصود إلا الله.
La maqsuda illa Allah.
*) Sidorejo Gadel
Posting Komentar untuk "Ketika Seorang Murid Dipertemukan dengan Mursyid"