Berjalan Menuju Allah, Meski Tertatih (Pincang)

Di Masjid Gading, Sraten, Jenangan, Ponorogo, baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi Bagbogo menjadi momentum untuk memahami kembali perjalanan seorang hamba menuju Allah. Dalam tausiyahnya, Kiai Ali Barqul Abid mengingatkan pentingnya baiat, menjaga dzikir, dan terus melangkah dalam perjalanan rohani meskipun diri belum sempurna.

Pesan itu menemukan maknanya dalam nasihat Syekh Sahl at-Tustari yang dikutip Syekh Abdul Wahhab asy-Sya'rani dalam kitab Al-Minahus Saniyyah:

> سِيرُوا إِلَى اللهِ تَعَالَى عَرْجًا وَمَكَاسِيرَ، وَلَا تَنْتَظِرُوا الصِّحَّةَ، فَإِنَّ انْتِظَارَ الصِّحَّةِ بَطَالَةٌ

“Berjalanlah menuju Allah meskipun dengan kaki pincang atau anggota tubuh yang patah. Jangan menunggu sampai sehat, karena menunggu sehat berarti menyia-nyiakan waktu.”

Nasihat ini mengandung ajakan untuk tidak menunda perjalanan menuju Allah hanya karena merasa diri belum pantas. Jangan menunggu hati sepenuhnya bersih, pikiran tenang, atau dzikir terasa khusyuk untuk mulai mendekat kepada-Nya. Jika kesempurnaan dijadikan syarat untuk memulai, seseorang bisa terus menunda tanpa pernah sungguh-sungguh melangkah.

Begitu pula dalam berdzikir. Ketika hati belum khusyuk, jangan lantas berputus asa dan meninggalkan dzikir. Jangan pula terlalu sibuk menilai kekurangan diri hingga lupa kepada Allah yang dituju. Teruslah berdzikir, teruslah menghadap kepada-Nya. Hati yang masih lalai bukan alasan untuk berhenti, melainkan alasan untuk semakin tekun menjaga amalan.

Pesan ini sejalan dengan penekanan Kiai Ali tentang pentingnya baiat dalam Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Baiat bukan sekadar ikrar menerima amalan, melainkan awal tanggung jawab untuk menjaga dan mengamalkannya secara istiqamah. Melalui bimbingan guru dan sanad yang bersambung, seorang murid menempuh jalan rohani dengan amalan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam uraian Kiai Ali, sanad menghubungkan para guru thoriqoh, di antaranya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Syekh Junaid al-Baghdadi, dan Syekh Bahauddin Naqsyabandi, hingga para sahabat, Rasulullah Muhammad SAW, dan Malaikat Jibril, atas izin Allah. Jalinan tersebut bukan sekadar silsilah yang disebutkan, melainkan amanah untuk menjaga ajaran, adab, dan amalan yang diterima.

Kedekatan murid dengan guru, Kanjeng Nabi, dan Allah, menurut Kiai Ali, tidak diukur dengan jarak kilometer, melainkan oleh kelalaian. Seorang murid bisa berada jauh dari gurunya, tetapi tetap menjaga dzikir dan mengingat ajaran yang diwariskan. Mengingat guru, mendoakannya, dan merawat amalan menjadi bagian dari ikatan batin yang dijaga dalam perjalanan thoriqoh. Melalui kasih sayang para guru dan syafaat Rasulullah, seorang murid berharap memperoleh pertolongan Allah.

Dalam perjalanan itu, dzikir thoriqoh menjadi ikhtiar menyucikan hati. Dzikir bukan semata-mata mengejar pengalaman batin atau perasaan khusyuk, melainkan latihan untuk terus mengingat Allah dengan ikhlas, tanpa tuntutan atau pamrih. Bahkan ketika belum merasakan kekhusyukan, amalan tetap perlu dijaga.

Sebab, merasa diri telah khusyuk pun dapat menjadi pintu ujub, ketika seseorang mulai mengagumi keadaan rohaninya sendiri. Karena itu, seorang murid perlu menjaga kerendahan hati, tidak mudah berpuas diri, dan tidak menjadikan pengalaman spiritual sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain.

Kiai Ali juga memberikan peringatan keras tentang bahaya meninggalkan dzikir setelah berbaiat. Dalam penekanan beliau, kelalaian terhadap amalan yang telah diterima disebut sebagai bentuk kekufuran yang perlu ditaubati. Pesan ini menjadi peringatan rohani agar murid tidak meremehkan tanggung jawab baiat, tetapi segera kembali berdzikir dan memperbaiki diri ketika mulai lalai. Penekanan tersebut merupakan nasihat untuk membangunkan kesadaran, bukan alasan untuk mudah menghakimi keimanan seseorang.

Pada akhirnya, baiat adalah awal perjalanan, sedangkan istiqamah adalah perjuangan untuk terus berjalan. Dzikir menjadi salah satu jalan menjaga hati agar tetap mengarah kepada Allah. Kita tidak harus menunggu sempurna untuk memulai, sebagaimana orang yang tertatih tidak harus menunggu sembuh untuk melangkah.

Kaki yang pincang bukan alasan untuk berhenti berjalan. Hati yang belum bersih bukan alasan untuk meninggalkan dzikir. Teruslah mengamalkan amalan yang telah diterima, dengan ikhlas dan rendah hati. Sebab, perjalanan menuju Allah bukan tentang merasa telah sampai, melainkan kesediaan untuk terus melangkah, meskipun tertatih, sampai akhir hayat.

Posting Komentar untuk "Berjalan Menuju Allah, Meski Tertatih (Pincang)"