Ponorogo, Srawungan – Malam itu Masjid Darusholihin di Srawungan, Kauman, Ponorogo, terasa berbeda. Selepas isya, suasana tidak segera cair seperti biasanya. Para jamaah yang baru saja mengikuti prosesi baiatan—janji setia dalam Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dengan sanad keilmuan bersambung hingga KH Imam Muhadi—masih duduk dengan khusyuk di lantai masjid. Di hadapan mereka, Kiai Ali Barqul Abid, sang mursyid, mulai menyampaikan tausyiah yang bukan sekadar nasihat, melainkan peringatan tentang medan spiritual yang akan mereka lalui.
Seorang murid tarekat, lanjut Kiai Ali, setelah mengucapkan baiat tidak lantas menjadi "suci" atau terbebas dari godaan. Ia justru memasuki fase paling kritis: terbukanya pintu-pintu pengalaman batin yang tak terduga. Di sinilah ia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar tekad. Ia membutuhkan tawajuh. Bukan sekadar ritual menghadapkan diri kepada Allah, melainkan sebuah benteng pertahanan utama yang akan menjaganya dari kekeliruan yang paling halus sekaligus.
Tawajuh, secara sederhana, adalah proses menghadap—menghadapkan hati, pikiran, dan seluruh eksistensi kepada Allah. Namun dalam praktik tarekat, ia tidak pernah dilakukan sendirian. Ia selalu melibatkan peran sang guru, sang mursyid, yang bertindak sebagai jembatan. Dalam tawajuh, murid duduk dengan khusyuk, sering kali dengan mata terpejam, menghadirkan sosok gurunya dalam hati melalui apa yang disebut rabithah. Kemudian ia melantunkan dzikir yang telah ditentukan, bukan sekadar mengucapkan, tetapi membiarkan getarannya meresap ke dalam relung jiwa. Proses inilah yang menjadi perisai.
Setan, kata Kiai Ali, tidak lagi menggoda dengan maksiat yang kasat mata setelah seseorang masuk ke jalan tarekat. Godaan menjadi lebih halus. Setan bisa menyamar sebagai cahaya, memberi ilham yang tampak indah, bahkan menyuruh amalan yang terasa spiritual, tetapi justru menjauhkan dari syariat. Tanpa tawajuh yang benar, seorang murid bisa terjebak. Ia bisa merasa mendapat "wahyu" pribadi, lalu dengan percaya diri mengamalkannya, padahal itu hanyalah bisikan yang berbalut kemuliaan semu.
Di sinilah tawajuh berfungsi sebagai filter. Dalam kondisi tawajuh, murid diajak mengosongkan hati dari segala angan dan khayalan. Istilahnya tafrigh—mengosongkan agar siap diisi. Dengan dzikir yang terstruktur dan diawasi guru, setiap bisikan yang tidak sejalan dengan lafal dan cara yang diajarkan akan tertolak dengan sendirinya. Tidak ada ruang bagi ilham liar yang tidak dikenal. Semua dikembalikan pada rambu-rambu yang telah digariskan.
Lebih dari itu, tawajuh juga menjadi benteng melawan penyakit paling berbahaya dalam perjalanan spiritual: ujub, atau bangga diri. Ketika seorang murid mulai merasakan sesuatu—melihat cahaya, mendengar suara tanpa sumber, atau merasa "tahu" sesuatu yang tidak diketahui orang lain—godaan terbesar adalah merasa istimewa. Ia bisa menganggap dirinya lebih tinggi dari sesama murid, bahkan tidak butuh lagi pada gurunya. Dalam tawajuh, kesombongan itu dipatahkan. Dengan menghadirkan guru dalam hati, murid diingatkan bahwa cahaya yang ia rasakan adalah titipan, bukan miliknya. Gurulah yang lebih dulu bersih dan menjadi saluran. Murid hanyalah penerima limpahan. Kesadaran ini memupuk kerendahan hati dan membunuh benih kesombongan sebelum tumbuh.
Yang tidak kalah penting, tawajuh juga membentengi murid dari tindakan ceroboh di luar kapasitasnya. Kiai Ali mengingatkan dengan tegas bahwa murid haram membuat keputusan sendiri soal hal-hal gaib atau kepemimpinan jamaah berdasarkan pengalaman pribadinya. Jika ia "melihat" sesuatu tentang pemimpin jamaah, atau "mendengar" perintah yang tampak penting, ia wajib menahan diri. Ia tidak boleh menyebarkan, tidak boleh mengamalkan, dan tidak boleh memvonis. Ia harus menyimpannya dan melapor kepada gurunya. Dan kebiasaan untuk tidak bertindak sebelum bertanya ini justru dilatih dalam tawajuh. Sikap pasrah dan tunduk yang dibangun dalam setiap majelis tawajuh akan terbawa ke kehidupan sehari-hari. Murid menjadi terbiasa untuk tidak terburu-buru, tidak berspekulasi, dan tidak mengambil jalan sendiri.
Semua mekanisme ini—filtering ilham, pengendalian diri, dan kepasrahan pada keputusan guru—bermuara pada satu fondasi utama yang tidak bisa ditawar: adab. Dalam tradisi sufi, adab ditempatkan lebih tinggi daripada ilmu. Seorang murid yang memiliki adab sempurna akan selamat meski ilmunya sedikit. Sebaliknya, murid yang berilmu tinggi tetapi tidak beradab justru menjadi ancaman bagi dirinya sendiri dan jamaahnya. Adab kepada guru, misalnya, menuntut murid untuk selalu berprasangka baik terhadap setiap keputusan gurunya, meski secara logika terasa janggal. Adab kepada diri sendiri menuntut murid untuk menahan diri, tidak mengamalkan atau menyebarkan pengalaman batin sebelum mendapat izin lisan. Adab kepada jamaah menuntut murid untuk menjaga lisan, tidak membanding-bandingkan karomah sesama murid, dan menutupi aib jamaah. Dan puncak dari semua adab itu adalah sikap al-faqr—merasa tidak punya apa-apa. Sebesar apa pun pengalaman spiritual yang diraih, murid harus sadar bahwa itu hanyalah titipan Allah melalui perantara guru. Ia tidak pernah merasa berjasa, tidak pernah merasa berwenang memberi putusan, dan tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain.
Yang membuat tawajuh istimewa adalah ia bukan sekadar amalan sesaat yang dilakukan di dalam masjid. Ia adalah kondisi hati yang terus dibawa. Seorang murid tidak hanya bertawajuh saat majelis bersama guru, tetapi juga menghadirkan gurunya dalam setiap amalan harian. Kebiasaan ini membentuk karakter mental yang tangguh: tidak mudah terpengaruh bisikan, tidak sombong atas pengalaman pribadi, dan tidak ceroboh dalam bertindak. Ia seperti orang yang berjalan di tepi jurang dengan tali pengaman yang kokoh. Tali itu adalah tawajuh. Dan pemegang tali itu adalah gurunya.
Namun Kiai Ali mengingatkan satu hal yang sering dilupakan: tawajuh tidak akan maksimal tanpa kehadiran fisik sang guru. Karena itu, ia menekankan pentingnya sering bertemu dengan guru, meskipun jarak jauh dan waktu terbatas. Cahaya spiritual, ujarnya, harus diterima secara langsung, tidak cukup dari kejauhan. Ia mengibaratkan seperti api: seseorang tidak akan merasakan panasnya jika hanya melihat dari jauh. Ia harus mendekat, harus merasakan hangatnya di kulit. Semakin sering seorang murid menemui gurunya, semakin tebal pula benteng yang melindunginya dari segala kekeliruan. Kehadiran guru bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan ruhani yang menyegarkan kembali ikatan batin antara murid dan mursyid. Dalam setiap pertemuan, ada energi spiritual yang ditransfer, ada ketenangan yang dihirup, dan ada arahan yang langsung mengenai sasaran.
Yang menarik, di antara jamaah yang hadir malam itu, tidak sedikit yang telah mengikuti prosesi baiat berkali-kali—bahkan ada yang mencapai tujuh kali. Bagi sebagian orang, mungkin itu terkesan berlebihan. Namun Kiai Ali justru memaknainya sebagai tanda cinta dan kerinduan. Baiat, ujarnya, tidak cukup dilakukan sekali. Ia mengibaratkan seperti mandi, yang harus dilakukan setiap hari. Hati manusia seperti kain yang setiap hari kotor. Maka harus diulang, harus diperbarui. Bagi mereka yang telah datang berkali-kali, itu adalah isyarat hati yang mengatakan: aku butuh guru, aku butuh tuntunan, aku tidak bisa berjalan sendiri. Kedatangan berulang kali bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kesadaran spiritual yang matang. Semakin sering seseorang datang memperbarui janji setianya, semakin kuat ikatannya dengan guru, dan semakin kokoh benteng tawajuh yang melindunginya dari segala kekeliruan.
Di akhir tausyiah, Kiai Ali mengajak para jamaah untuk membiasakan sebuah doa setiap selesai shalat. Doa itu pendek tetapi sarat makna: "Ya Allah, pertahankan aku dalam adab kepada guruku. Jangan biarkan ilmuku membuatku sombong, dan jangan biarkan pengalaman batinku membuatku keluar dari jalur syariat-Mu." Dengan tawajuh yang istiqamah, kehadiran guru yang rutin, dan adab yang kokoh, seorang salik tidak hanya selamat dari kesesatan, tetapi juga mencapai derajat ridha—lapang dada menerima semua keputusan sebagai bentuk kepasrahan total kepada Allah.
Dalam hiruk-pikuk dunia modern yang gemar mengukur segala sesuatu dengan logika dan nalar, pesan malam itu mengingatkan bahwa jalan spiritual membutuhkan pemandu. Dan pemandu membutuhkan kepasrahan. Tawajuh adalah kuncinya. Kehadiran guru adalah napasnya. Adab adalah bentengnya. Dan Allah adalah tujuannya. Para jamaah yang hadir perlahan bangkit dari duduknya, malam masih panjang, tetapi cahaya di hati mereka mulai terarah. Dan bagi mereka yang telah berkali-kali datang, malam itu menjadi penegas: perjalanan ini panjang, tetapi tidak pernah sendiri.
***
Posting Komentar untuk "Tawajuh, Benteng Murid di Tengah Gelombang Spiritual"