Di sela hiruk-pikuk pembangunan Madrasah Mamba'utholab di Dusun 4, Desa Bangunsari, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Palembang, nama Kiai Ali Barqul Abid terus bergerak seperti jarum kompas yang tak pernah diam.
Madrasah ini adalah bagian dari Pondok Mamba'utholab—pondok yang didirikan oleh para alumni Pondok Pesantren Mamba'ul Admin Bagbogo, Nganjuk, Jawa Timur, yang berakar dari pendirinya, KH. Imam Muhadi. Kini, di tanah Palembang yang jauh dari kampung halaman, estafet perjuangan dilanjutkan oleh para santri dan alumni yang merindukan keberkahan ilmu dari sang guru.
Dari sudut Bangunsari yang sunyi, Kiai Ali melintasi kabupaten demi kabupaten, provinsi demi provinsi. Bukan karena tak mengenal lelah, tapi karena kelelahan fisik terasa ringan dibanding "kelelahan hati" yang menggunung.
"Apakah Kiai tidak capek?" tanya seorang sahabat saya, heran menyaksikan derap langkah beliau lewat video yang tak pernah surut.
Bagi Kiai Ali, capek baru benar-benar terasa saat melihat santri atau alumninya diam membatu—hati membeku, ilmu yang sudah dicurahkan tak bergerak, tak mengalir, tak memberi manfaat bagi siapa pun. Pak Yadi, salah satu pengurus pondok, menyebutnya dengan istilah yang gamblang: "Wis diwenehi ilmu, duwe bekal, nanging beku ora guno." Sudah dikasih ilmu, punya bekal, tapi membeku tak berguna.
Di tengah pembangunan fisik madrasah yang sedang berjalan, Kiai Ali justru sibuk membangun yang lebih fundamental: membangun gerak hati. Baginya, letih itu wajar. Yang tak wajar adalah ilmu yang mati di dada pemiliknya.
Maka dari Pondok Mamba'utholab, Dusun 4 Bangunsari ini, beliau terus bergerak, mengingatkan, dan membakar semangat—agar tak ada santri yang hanya menjadi patung berilmu di tengah zaman yang terus mengalir. Sebab pondok ini bukan sekadar bangunan, tapi mata rantai perjuangan KH. Imam Muhadi yang harus terus hidup dan mengalir dalam dada setiap santrinya.
---
Dilaporkan dari Dusun 4, Bangunsari, Tanjung Lago, Palembang.
Posting Komentar untuk "Lelah yang Berarti"