Ketika Dzikir Menjadi Jalan untuk Menjaga Sambungan Ruhani


Malam di Masjid Tegalsari, Ponorogo, berlangsung dalam suasana yang khidmat. Jamaah mengikuti rangkaian baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi Bagbogo. Saat rangkaian baiat, perhatian jamaah tertuju pada tausiyah Kiai Ali Barqul Abid tentang makna dzikir, baiat, dan hubungan rohani antara murid dengan guru.

Bagi Kiai Ali, dzikir tidak semata-mata berkaitan dengan bacaan yang diulang oleh lisan. Ada proses pembentukan batin yang menyertainya. Terlebih ketika dzikir tersebut diterima melalui baiat dalam sebuah thoriqoh.

Ia menjelaskan, dalam praktik keagamaan terdapat amalan yang bersumber dari tuntunan Al Quran dan hadis. Ada pula amalan yang diperoleh melalui ijazah seorang guru. Sementara dalam tradisi thoriqoh, terdapat amalan yang pelaksanaannya didahului dengan baiat.

Perbedaan tersebut bukan berarti dzikir yang tidak dibaiatkan tidak diterima oleh Allah. Keduanya tetap dapat menjadi amal ibadah. Perbedaannya terletak pada hubungan yang menyertai amalan tersebut.

Dzikir yang diterima melalui baiat, menurut Kiai Ali, memiliki ikatan rohani antara murid dan guru. Ikatan itu kemudian tersambung melalui sanad guru-guru sebelumnya hingga kepada Rasulullah Muhammad SAW.

“Kalau sudah ada ikatan atau rabitah, di mana pun tetap tersambung,” ujar Kiai Ali.

Rabitah menjadi salah satu konsep penting dalam penjelasan tersebut. Secara sederhana, rabitah merupakan hubungan atau keterikatan batin seorang murid dengan guru. Hubungan itu tidak semata-mata bergantung pada pertemuan fisik.

Seorang murid bisa berada jauh dari gurunya. Namun, hubungan rohani tetap dijaga melalui ingatan, doa, dzikir, serta kesetiaan terhadap ajaran yang telah diterima.

Gagasan tentang hubungan ruhani itu memiliki pijakan yang dapat ditemukan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, “Al-arwahu junudun mujannadah”, bahwa ruh-ruh itu seperti pasukan yang dihimpun. Ruh yang saling mengenal cenderung bersesuaian, sedangkan yang tidak saling mengenal cenderung berbeda.

Hadis tersebut tidak secara khusus membahas baiat atau rabitah dalam pengertian thoriqoh. Namun, bagi Kiai Ali, hadis tersebut dapat menjadi gambaran bahwa kedekatan manusia tidak selalu ditentukan oleh jarak fisik.

Dalam perjalanan spiritual, hubungan batin menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan.

Al Quran juga mengajarkan pentingnya mencari jalan untuk mendekat kepada Allah. Dalam QS Al-Ma'idah ayat 35, orang-orang beriman diperintahkan untuk bertakwa, mencari wasilah, dan berjihad di jalan Allah agar memperoleh keberuntungan.

Dalam tradisi thoriqoh, guru ditempatkan sebagai pembimbing dalam perjalanan tersebut. Guru bukan tujuan ibadah. Allah tetap menjadi tujuan. Guru menjadi orang yang memberikan tuntunan agar murid menjalani jalan spiritual dengan amalan, adab, dan bimbingan yang jelas.

Karena itu, baiat tidak berhenti pada saat ikrar diucapkan.

Justru setelah baiat, seorang murid mempunyai tanggung jawab untuk menjaga amalan sekaligus menjaga hubungan dengan guru.

Menurut Kiai Ali, hubungan itu dapat diperkuat melalui tawajuh. Pertemuan langsung dengan guru memiliki keutamaan tersendiri karena murid dapat menghadapkan perhatian dan hatinya kepada guru yang membimbingnya.

Tawajuh bukan sekadar pertemuan fisik. Di dalamnya terdapat upaya menghadirkan kembali kesadaran murid terhadap jalan yang sedang ditempuh.

Kiai Ali menilai pengalaman tawajuh bersama guru tidak mudah dibandingkan dengan perjalanan dzikir yang dilakukan tanpa keterhubungan dengan guru. Perbedaannya bukan semata-mata pada bacaan dzikir, tetapi pada adanya bimbingan dan kesinambungan rohani.

Dalam tradisi sanad thoriqoh, hubungan tersebut dipahami sebagai mata rantai yang menyambungkan seorang murid dengan guru-gurunya terdahulu hingga Rasulullah SAW. Dalam penjelasan spiritual yang disampaikan Kiai Ali, mata rantai tersebut berkaitan pula dengan perantaraan Malaikat Jibril hingga Allah SWT.

Pemahaman mengenai kesinambungan itu menjadi bagian dari keyakinan dan tradisi spiritual thoriqoh. Sanad tidak hanya dipahami sebagai catatan tentang siapa mengajarkan kepada siapa, tetapi juga sebagai simbol kesinambungan ajaran dan bimbingan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kiai Ali juga mengaitkannya dengan konsep nurullah dan Nur Muhammad yang dalam tradisi spiritual tersebut dipahami mengalir melalui mata rantai guru kepada murid.

Namun, guru tetaplah perantara.

Tujuan perjalanan tidak berubah.

Allah tetap menjadi tujuan dari seluruh dzikir dan ibadah.

Pemahaman tersebut penting agar hubungan murid dan guru tidak berhenti pada ketergantungan kepada sosok, melainkan berkembang menjadi kesungguhan menjalankan ajaran yang telah diterima.

Sebab, hubungan dengan guru tidak hanya diperlukan ketika seorang murid sedang berada di majelis.

Justru ketika ia telah kembali ke rumah, kembali bekerja, berada di tengah keluarga, atau menjalani kesibukan sehari-hari, hubungan itu diuji.

Apakah dzikir masih dijalankan?

Apakah nasihat guru masih diingat?

Apakah adab masih dijaga?

Apakah amalan yang telah diterima melalui baiat tetap dilaksanakan ketika tidak ada yang mengawasi?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuat rabitah tidak cukup dipahami sebagai hubungan batin semata. Ia juga menuntut konsekuensi dalam perilaku.


Menjaga hubungan dengan guru berarti menjaga ajaran yang telah diberikan. Mengingat guru berarti mengingat nasihatnya. Menghormati sanad berarti menghargai amanah ilmu dan amalan yang telah diterima.

Karena itu, Kiai Ali mengajak para murid untuk terus menjaga rabitah.

Jarak, menurutnya, tidak semestinya menjadi alasan terputusnya hubungan rohani. Seorang murid tidak harus selalu berada di hadapan guru untuk menjaga keterhubungan tersebut.

Ada doa yang dapat terus dipanjatkan. Ada dzikir yang terus diamalkan. Ada nasihat yang terus diingat.

“Yakinlah, guru akan menjawab,” pesan Kiai Ali kepada para murid.

Pesan itu menjadi penutup yang sekaligus mengembalikan makna baiat kepada hakikatnya. Baiat bukan sekadar peristiwa ketika seorang murid menyatakan kesanggupan mengamalkan dzikir. Lebih dari itu, baiat merupakan awal dari perjalanan untuk menjaga hubungan, menjalankan amalan, dan istiqamah dalam bimbingan.

Pada akhirnya, dzikir yang dibaiatkan dan dzikir yang tidak dibaiatkan sama-sama dapat menjadi ibadah kepada Allah. Yang membedakan adalah adanya sanad, bimbingan, dan ikatan rohani dalam tradisi thoriqoh.

Dzikir menghidupkan hati. Guru menunjukkan jalan. Sanad menjaga kesinambungan. Rabitah menjaga hubungan.

Semua itu bermuara pada satu tujuan: mendekat kepada Allah SWT.

Dan perjalanan tersebut, seperti yang ditekankan Kiai Ali, tidak cukup hanya dimulai dengan baiat. Ia harus terus dijaga setelah baiat selesai.

***

Posting Komentar untuk "Ketika Dzikir Menjadi Jalan untuk Menjaga Sambungan Ruhani"