Di Balik Benteng Pegunungan Pacitan: Menjaga Api Keimanan dari Generasi ke Generasi


Suasana haru tak mampu disembunyikan sore itu di Jurang Kasihan, Glagahombo, Tegalombo, Pacitan. Mas Reki terdiam seketika. Ia sedikit memalingkan wajah, menyembunyikan selintas kaca di sudut matanya yang nyaris luruh. Di hadapannya, puluhan anak usia TK hingga sekolah dasar duduk rapi, tenang, dan penuh harap menunggu kehadiran sang guru, Kiai Ali Barqul Abid.

Anak-anak ini adalah denyut kehidupan di ceruk benteng alam ujung selatan Pulau Jawa. Pagi hari mereka menimba ilmu formal di MI Muhammadiyah Kasihan, lalu melangkahkan kaki menuju rumah Mas Reki untuk mengaji. Mereka bukan sekadar generasi muda setempat, melainkan wujud hidup dari ikatan sejarah yang panjang. Bapak, ibu, bahkan nenek dan buyut mereka adalah para perawat keimanan yang dahulu berkhidmat dan menjadi santri KH Imam Muhadi (abah dari Kiai Ali) serta Mbah Nyai Siti Masfufah.


Memandang para santri kecil ini menghadirkan rasa yang sulit dilukiskan. Seakan tampak kembali jejak perjuangan Mbah Yai Imam Muhadi dan Mbah Nyai Siti Masfufah yang kini telah berpulang ke hadirat Allah SWT. Sering kali terlintas dalam hati, bagaimana dahulu Mbah Yai mampu menjangkau gugusan pegunungan yang terisolasi ini. Medan yang berat, jalan yang berliku, dan pegunungan yang seolah menjadi benteng terakhir di selatan Jawa tak pernah mampu menghalangi langkah dakwah beliau. Yang menggerakkan beliau hanyalah satu: rasa cinta yang membuncah kepada Allah dan kasih sayang yang mendalam kepada para pencari jalan-Nya.

Tak hanya Mas Reki yang terenyuh, Kiai Ali pun seolah kehabisan kata saat berdiri di hadapan kepungan mata-mata lugu itu. Suaranya terbata, matanya berkaca-kaca, dadanya bergetar. Dalam keremangan tatapan anak-anak tersebut, seolah terpancar kembali keteladanan dan raut wajah KH Imam Muhadi serta Ibu Nyai Masfufah.

"Pohon menjulang itu ada batasnya, namun dahan yang tumbuh menyamping itu terus menjalar," ucap Mas Reki terbata, seiring tangisnya yang pecah tak lagi mampu ditahan. "Boleh saja Mbah Yai Imam Muhadi dan Bu Nyai Masfufah sedo, namun Kiai Ali dan dzurriyah-nya terus mengakar. Para santrinya akan terus menjalar dan mekar di mana pun mereka tinggal."

Di balik pelupuk mata anak-anak itu, tersimpan kesucian yang murni. Mereka tak pernah peduli dari mana suapan nasi ayahnya berasal, apa latar belakang keluarganya, warna bendera partai politik mana yang diusung, atau ke mana aliansi organisasinya berlabuh. Di lembah sunyi pegunungan ini, pilihan begitu terbatas. Ketika seorang anak menangis ingin ikut mengaji karena melihat teman-temannya melangkah ke surau, tak ada sekat yang mampu melarang atau memaksanya. Mereka bertumbuh polos dalam pelukan alam.

Setahun sekali, Kiai Ali Barqul Abid rawuh di tanah Kasihan sebagai mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqshabandiyah. Kehadirannya melanjutkan mata rantai pembaiatan sanad sufi yang dahulu ditancapkan oleh ayahandanya bersama Kiai Amenan Zam-Zami yang pernah hadir di tempat ini.


Apa yang dahulu ditanam oleh para sepuh dengan keikhlasan murni, hari ini tumbuh bertunas dalam diri para santri kecil yang tetap menjaga ilmu, adab, dan dzikir. Kedatangan Kiai Ali yang hanya setahun sekali menjelma oase yang amat dahsyat—sebuah kerinduan mendalam yang terbayar lunas. Kehadiran sang mursyid menegaskan bahwa meski raga sang perintis telah beristirahat, benih kasih dan ajaran di tanah Kasihan ini akan terus merambat, melintasi zaman dan sunyinya benteng pegunungan Pacitan.

***

Posting Komentar untuk "Di Balik Benteng Pegunungan Pacitan: Menjaga Api Keimanan dari Generasi ke Generasi"