Merdeka Secara Fisik, Merdeka Secara Jiwa, Tausyiah Kiai Ali Barqul Abid di Gadel Sidorejo


Indonesia telah 81 tahun merdeka. Kemajuan pembangunan, teknologi, dan teknologi informasi berkembang begitu pesat. Manusia semakin mudah bekerja, berkomunikasi, dan memenuhi berbagai kebutuhan.

Namun, di tengah kemajuan itu, ada kegelisahan yang sering tidak terlihat. Tubuh tampak sehat, aktivitas semakin padat, semangat mengejar dunia tetap tinggi, tetapi hati justru mengalami kelelahan. Jiwa terasa kosong dan hidup kehilangan ketenangan.

Dalam tausyiahnya pada bai'atan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Mushola Gadel, Sidorejo, Sukorejo, Ponorogo, selepas Isya, Kiai Ali Barqul Abid mengingatkan bahwa manusia dapat mengalami kemajuan secara lahiriah, tetapi justru semakin jauh dari hakikat hidup apabila hati jauh dari Allah.

"Kenapa hati gelisah? Karena hati jauh dari mengingat Allah, jauh dari dzikrullah," tutur Kiai Ali.

Al-Qur'an telah memberikan jawaban sederhana:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS Ar-Ra'd: 28)

Karena itu, dzikir bukan sekadar amalan lisan. Dzikir adalah upaya menghidupkan hati agar manusia tidak kehilangan arah di tengah kesibukan dunia.

Bagi Kiai Ali, kecintaan kepada tanah air juga tidak terpisah dari tanggung jawab spiritual. Orang yang menempuh jalan thoriqoh tidak berarti menjauh dari kehidupan berbangsa. Justru dzikir dan pembinaan hati dapat menjadi bagian dari upaya mengisi kemerdekaan dan membentengi negeri dengan manusia yang memiliki akhlak, ketenangan dan tanggung jawab.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa kiamat tidak akan terjadi selama masih ada manusia yang menyebut nama Allah di bumi. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sahih Muslim 148a.

Pesannya jelas: jangan sampai kehidupan yang semakin maju membuat manusia justru kehilangan hubungan dengan Allah.

Di sinilah pentingnya istiqamah.

"Istiqamah adalah bukti kecintaan dan ketaatan kepada Allah. Sedangkan istiqamah akan menumbuhkan kecintaan kepada Allah," jelas Kiai Ali.

Istiqamah bukan sesuatu yang otomatis dimiliki seseorang. Menurut Kiai Ali, istiqamah merupakan anugerah Allah bagi mereka yang dikehendaki-Nya sekaligus sungguh-sungguh berusaha menjalaninya.

Harta, kemewahan dan kesenangan dunia dapat diberikan kepada siapa saja. Namun istiqamah adalah karunia yang harus dicari, dijaga dan diperjuangkan.

Kecintaan kepada Allah pun demikian. Jika tidak dirawat, kecintaan itu dapat melemah. Begitu pula bai'at. Bai'at bukan sekadar janji yang diucapkan sesaat, melainkan ikatan untuk terus berusaha berjalan dalam ketaatan kepada Allah melalui tuntunan Rasulullah SAW dan para guru mursyid.

Karena itu, kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan secara fisik. Kemerdekaan juga berarti membebaskan hati dari belenggu hawa nafsu dan kecintaan berlebihan kepada dunia.

Bangsa yang maju membutuhkan pembangunan fisik dan teknologi. Namun bangsa juga membutuhkan manusia yang hatinya hidup, jiwanya kuat dan kehidupannya memiliki arah.

Mengisi kemerdekaan, dengan demikian, bukan hanya membangun negeri dari luar, tetapi juga membangun manusia dari dalam.

Dzikir menghidupkan hati. Istiqamah menjaga langkah. Dan hati yang dekat dengan Allah diharapkan melahirkan manusia yang lebih baik bagi keluarga, masyarakat dan negeri.


Di akhir tausyiahnya, Kiai Ali mendoakan agar Indonesia senantiasa menjadi negeri yang baik, aman, tenteram dan mendapat keberkahan Allah—baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Semoga kemerdekaan Indonesia tidak hanya menghadirkan kemajuan teknologi dan kesejahteraan lahiriah, tetapi juga menghadirkan masyarakat yang hatinya dekat kepada Allah, istiqamah dalam kebaikan, serta mencintai dan menjaga negeri.

***

Posting Komentar untuk "Merdeka Secara Fisik, Merdeka Secara Jiwa, Tausyiah Kiai Ali Barqul Abid di Gadel Sidorejo"