Istiqamah di Tengah Keterbatasan

PONOROGO — Terik matahari tidak menyurutkan langkah jamaah untuk hadir di Mushola Banggel, Slahung, Ponorogo. Sebagian besar jamaah sudah lanjut usia. Beberapa di antaranya bahkan melaksanakan shalat sambil duduk.

Mereka datang mengikuti bai’atan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi.

Di awal tausyiahnya, Kiai Ali Barqul Abid mengajak jamaah untuk selalu bersyukur, apa pun keadaannya. Menurut beliau, bisa hadir, menjalankan kewajiban, memenuhi perintah Allah, serta menepati janji kepada guru merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Tidak semua orang mendapatkan kesempatan tersebut. Ada yang sehat, memiliki waktu dan kemampuan secara finansial, tetapi belum tentu mendapatkan karunia untuk menggunakannya dalam beribadah.

Karena itu, selagi masih diberi kesempatan, jangan disia-siakan.

Allah berfirman dalam QS Al-Anbiya’ ayat 94:

«“Maka usahanya tidak akan diingkari (disia-siakan), dan sungguh, Kamilah yang mencatat untuknya.”»

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap usaha dalam kebaikan tidak pernah sia-sia di hadapan Allah.

Kiai Ali kemudian berpesan agar jamaah tidak terlalu memikirkan apakah ibadahnya sudah ikhlas, khusyuk, atau sudah terasa nikmat.

“Paksa diri, kalahkan nafsu. Urusan ikhlas, khusyuk, dan nikmat adalah wilayah Allah. Tugas manusia adalah istiqamah,” pesannya.

Menurut Kiai Ali, istiqamah justru merupakan nikmat yang utama. Sebab, kesehatan, usia, kekuatan, dan kesempatan tidak selalu sama.

Hal itu terasa nyata di tengah jamaah Banggel. Sebagian sudah tidak lagi leluasa berdiri ketika shalat.

Pak Yono, salah seorang jamaah, bergurau, “Gak enak dadi wong tuwek, arep ngadek wae sempoyongan. Enak jaman enom, arep sholat, arep ibadah bisa leluasa.”

Kiai Ali tersenyum lalu menjawab dengan nada bercanda.

“Mangke yen pancet kuat, rosa, sehat, malah salah paham. Dikira dunia iki bakal selawase. Lali yen dunia iki fana, mung sedhela.”

Menurut Kiai Ali, kondisi tubuh yang semakin terbatas justru dapat menjadi pengingat bahwa manusia tidak selamanya hidup di dunia.

Sebaliknya, jika seseorang terlihat tetap muda, kuat, dan sehat tanpa perubahan berarti, ia justru perlu waspada.

Dengan nada guyon, Kiai Ali mengatakan, “Malah wedi, ora ana perubahan, ora ana tanda-tanda. Tiba-tiba meninggal, durung sempat persiapan.”
Pak Miskun kemudian menimpali, “Rasanya ingin balik zaman enom.”

Candaan itu sekaligus menjadi pengingat. Waktu tidak dapat diputar kembali. Selagi masih sehat, kuat dan memiliki kesempatan, itulah saatnya berjuang melawan kemalasan dan menundukkan nafsu.

Sebab, suatu saat tubuh mungkin tidak lagi sekuat hari ini.

Istiqamah bukan selalu tentang mampu melakukan banyak hal. Kadang, istiqamah adalah tetap melangkah meski kemampuan sudah terbatas.

Posting Komentar untuk "Istiqamah di Tengah Keterbatasan"