Suasana menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia terasa di Masjid Kepuh Buntung, Jimbe, Jenangan, Ponorogo. Selepas salat, jamaah mengikuti baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi. Sebelum prosesi dimulai, Kiai Ali Barqul Abid menyampaikan tausyiah tentang makna ibadah, dzikir, cinta tanah air, dan tanggung jawab seorang pengamal thoriqoh terhadap bangsa.
Kiai Ali menjelaskan perbedaan orientasi ibadah antara orang awam dan orang yang telah mengenal Allah. Orang awam beribadah karena mengharapkan nikmat dan balasan dari Allah. Sementara orang yang makrifat memandang ibadah sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah.
Dengan demikian, ibadah tidak semata-mata dilakukan karena mengharapkan sesuatu, tetapi karena menyadari bahwa seluruh kehidupan merupakan nikmat dan karunia Allah.
Dalam kesempatan itu, Kiai Ali mengajak jamaah mengirimkan Al-Fatihah dan doa kepada para guru, khususnya KH Imam Muhadi dan KH Muhamad Amenan Zam Zami. Doa juga ditujukan kepada para pejuang bangsa, para pahlawan, serta orang-orang yang pernah berjasa dan memberikan manfaat dalam kehidupan.
Pesan tersebut menjadi relevan dengan momentum peringatan kemerdekaan. Kiai Ali mengingatkan ungkapan yang dikenal luas di kalangan pesantren, “Hubbul wathan minal iman”—cinta tanah air bagian dari iman. Ungkapan ini bukan hadis Nabi, tetapi dipahami sebagai nilai yang sejalan dengan ajaran Islam tentang menjaga kemaslahatan dan tidak membuat kerusakan. Baik kerusakan alam, lingkungan, maupun psikologis dan rohani.
Al-Qur'an mengingatkan, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.” (QS Al-A'raf: 56).
Menurut Kiai Ali, para pejuang bangsa juga banyak berasal dari kalangan ulama, kiai, santri, dan pengamal tarekat. Pangeran Diponegoro, misalnya, memiliki hubungan erat dengan tradisi tasawuf dan jaringan tarekat. Karena itu, perjuangan spiritual dan perjuangan membela masyarakat tidak seharusnya dipertentangkan.
Kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendahulu, lanjut Kiai Ali, kini menjadi tanggung jawab generasi berikutnya untuk meneruskan dan mengisinya. Bagi warga negara, tugas itu dilakukan melalui pengabdian dan perbuatan baik. Sementara bagi pengamal thoriqoh, salah satu bentuk pengabdian adalah menjaga kehidupan batin masyarakat melalui doa dan dzikir.
Kiai Ali kemudian mengingatkan keutamaan dzikir. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebut dzikir kepada Allah sebagai salah satu amal yang utama. Dzikir bukan sekadar ucapan lisan, tetapi harus membentuk perilaku dan akhlak.
Karena itu, dzikir harus melahirkan manusia yang lebih sabar, rendah hati, tidak mudah menyakiti orang lain, serta menjauhi tindakan yang merusak.
Kiai Ali juga mengingatkan hadis riwayat Muslim bahwa kiamat tidak akan terjadi sampai tidak lagi terdengar di bumi seruan “Allah, Allah.” Pesan tersebut menjadi pengingat agar dzikir kepada Allah tetap hidup di tengah masyarakat.
“Jangan sampai dzikir punah dari bumi Indonesia,” pesan Kiai Ali.
Syiar thoriqoh, menurutnya, pada hakikatnya juga merupakan syiar dzikir. Karena itu, tugas generasi sekarang adalah meneruskan ajaran para guru, menjaga sanad, dan menghidupkan dzikir di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, cinta tanah air tidak cukup diwujudkan melalui slogan. Ia harus hadir dalam tindakan: menjaga persaudaraan, tidak membuat kerusakan, menghormati jasa para pendahulu, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Bagi pengamal thoriqoh, menjaga negeri juga dapat dilakukan melalui doa dan dzikir. Dengan demikian, kemerdekaan tidak hanya dirawat dari sisi lahiriah, tetapi juga dari sisi batin.
Kemerdekaan diteruskan dengan pengabdian, tanah air dijaga dengan kebaikan, dan bumi Indonesia dihidupkan dengan dzikir.
***
Posting Komentar untuk "Kemerdekaan dengan Dzikir, Bai'atan TQN di Kepuh Buntung Jimbe"