Ketika Murid Belajar Taat: Dari Dzikir, Guru, hingga Perjuangan Kemerdekaan


Selepas Dhuhur, Masjid Gebang, Banjarejo, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, belum segera beranjak dari suasana khidmat. Jamaah masih duduk bersaf. Sebagian menundukkan kepala, sebagian lain menyimak tausyiah yang disampaikan Kiai Daroini.

Siang itu bukan sekadar pengajian biasa. Jamaah datang untuk mengikuti baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi. Sebelum prosesi baiat dimulai, mereka diajak terlebih dahulu memahami kembali apa arti menjadi seorang murid: bukan sekadar menerima amalan, melainkan bersedia menempuh jalan ketaatan.

Kiai Daroini mengurai panjang tentang perjalanan batin seorang murid. Dzikir Lā ilāha illallāh, dalam tradisi thoriqoh, tidak berhenti pada gerakan lisan. Ia merupakan latihan untuk membersihkan bagian-bagian terdalam manusia dari berbagai penyakit hati.

Ada qalb, ruh, sirr, khafi, akhfa, nafs, hingga seluruh jasad yang dalam perjalanan dzikir diharapkan semakin bersih. Ghibah, riya, ujub, dengki, aniaya, amarah, keserakahan, kesombongan dan berbagai bentuk keakuan perlahan dilawan.

Sebab persoalan terbesar seorang manusia sering kali bukan apa yang tampak dari luar, melainkan apa yang tersembunyi di dalam dirinya.

Seseorang mungkin telah meninggalkan banyak kemaksiatan yang terlihat, tetapi masih menyimpan keinginan untuk dipuji. Bisa jadi lisannya telah banyak berdzikir, tetapi hatinya masih senang merendahkan orang lain. Bisa pula seseorang rajin beribadah, tetapi diam-diam merasa dirinya lebih baik daripada mereka yang belum seperti dirinya.

Di situlah dzikir menjadi perjalanan yang lebih dalam. Lā ilāha bukan hanya meniadakan sesembahan yang salah, tetapi juga menjadi latihan untuk menyingkirkan berbagai "berhala" yang bersembunyi di dalam diri: ego, hawa nafsu, kesombongan, keinginan dipuji, dan kecintaan berlebihan kepada dunia.

Kemudian illallāh, menetapkan hanya Allah sebagai tujuan.

Jalan itu, sebagaimana disampaikan Kiai Daroini, tidak selalu mudah. Membersihkan diri membutuhkan kesediaan untuk terus berjalan meskipun berat. Sebab manusia sering kali ingin memperoleh hasil sebelum bersedia menjalani proses.


Di titik itulah Kiai Ali Barqul Abid, Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi, memberikan penegasan ketika mengawali prosesi baiatan.

Apa yang dijelaskan panjang lebar oleh Kiai Daroini, menurut Kiai Ali, sesungguhnya bukan sekadar nasihat seorang guru. Itu merupakan perintah Allah yang disampaikan melalui Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan diteruskan oleh para guru dan mursyid.

Karena itu, bagi seorang murid, perintah tidak selalu menunggu rasa nyaman.

"Iklas tidak iklas dikerjakan. Repot tidak repot dijalani."

Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi mengandung pelajaran tentang ketaatan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap menjadikan perasaan sebagai ukuran: ketika hati sedang senang, pekerjaan terasa ringan; ketika hati sedang tidak berkenan, sesuatu yang sederhana pun terasa berat.

Namun ketaatan tidak selalu demikian.

Seorang murid menjalankan perintah bukan karena semuanya sudah terasa mudah, melainkan karena ia percaya kepada jalan yang sedang ditempuhnya. Ikhlas bukan alasan untuk menunda ketaatan. Dalam perjalanan itu, keikhlasan justru dapat tumbuh melalui ketaatan yang terus dilakukan.

Karena itu, ketika terasa repot, tetap dijalani. Ketika belum merasakan hasil, tetap dikerjakan. Ketika belum melihat perubahan dalam diri, tetap istiqamah.

Sebab tugas murid adalah melaksanakan perintah.

Sedangkan hasil bukan wilayah murid.

Hasil adalah wilayah Allah.

Seorang petani hanya dapat menanam, menyiram, merawat dan menjaga tanamannya. Ia tidak dapat memerintahkan hujan turun. Ia tidak dapat memaksa matahari bersinar. Ia juga tidak dapat menentukan kapan buah matang.

Tetapi ia tetap bekerja.

Demikian pula seorang murid. Ia berdzikir, menjaga adab, melawan hawa nafsu, meninggalkan ghibah, menjauhi riya, belajar rendah hati dan menjalankan tuntunan guru. Adapun perubahan yang terjadi di dalam hatinya, waktu terbukanya jalan, serta hasil dari seluruh ikhtiar itu, diserahkan kepada Allah.

Dalam suasana menjelang baiatan itu, Kiai Ali kemudian mengajak jamaah membaca Surat Al-Fatihah dan mengirimkan doa kepada para guru. Terutama kepada KH Imam Muhadi dan KH Amenan Zam Zami, serta kepada para pejuang kemerdekaan.

Ada alasan mengapa doa itu terasa memiliki makna lebih pada siang tersebut.

Baiatan berlangsung berdekatan dengan momentum peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan yang setiap Agustus dikenang sebagai buah dari perjuangan panjang para pendahulu bangsa.

Nama-nama guru yang disebut dalam doa mengingatkan jamaah bahwa perjalanan spiritual pun mengenal mata rantai. Seorang murid tidak berjalan sendirian. Ada guru yang mengajarkan, ada guru yang meneruskan, dan ada generasi yang menerima amanah untuk menjaga apa yang telah diwariskan.

Begitu pula dengan kemerdekaan.

Generasi hari ini menikmati sesuatu yang dahulu diperjuangkan oleh mereka yang bahkan tidak sempat menikmati hasil perjuangannya.

Para pejuang berjuang tanpa kepastian akan hasil. Mereka menghadapi risiko, kehilangan, keterbatasan dan ketidakpastian. Namun mereka tetap bergerak karena ada sesuatu yang diyakini lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri.

Di situlah terdapat pertemuan makna antara perjuangan kemerdekaan dan perjalanan seorang murid: menjalankan tugas tanpa sibuk menuntut hasil untuk dirinya sendiri.

Para pejuang menjalankan perjuangannya.

Para guru menjalankan amanah keilmuannya.

Murid menjalankan perintah dan tuntunan yang diterimanya.

Sedangkan hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah.

Baiatan kemudian menjadi lebih dari sekadar prosesi pengucapan ikrar. Ia adalah kesediaan untuk menempuh jalan. Jalan yang menuntut istiqamah, kesabaran dan keberanian untuk berhadapan dengan diri sendiri.

Sebab musuh yang paling sulit ditaklukkan kadang bukan orang lain.

Ia adalah "aku" yang selalu ingin menang.

"Aku" yang ingin dihormati.

"Aku" yang ingin dipuji.

"Aku" yang sulit menerima nasihat.

"Aku" yang ingin semua berjalan sesuai keinginan sendiri.

Karena itu, perjalanan dzikir pada akhirnya adalah perjalanan menundukkan "aku".

Semakin seseorang berdzikir, semestinya semakin ia merasa sebagai hamba. Bukan semakin tinggi hati karena merasa telah banyak beribadah.

Ukuran keberhasilan seorang murid pun bukan semata-mata seberapa banyak dzikir yang telah dilafalkan, melainkan apakah dzikir itu mulai mengubah dirinya: lisan lebih terjaga, hati lebih lapang, mudah memaafkan, tidak senang merendahkan, tidak haus pujian, dan semakin tunduk kepada Allah.

Selepas tausyiah, jamaah bersiap memasuki prosesi baiatan.

Di luar masjid, Agustus terus berjalan. Bendera Merah Putih berkibar di banyak tempat, mengingatkan bangsa ini pada sebuah proklamasi yang dibacakan puluhan tahun lalu.

Di dalam masjid, sekelompok manusia sedang memulai sebuah ikrar lain: mengikat diri untuk berjalan dalam tuntunan dzikir dan ketaatan.

Dua peristiwa itu memiliki ruang sejarah yang berbeda. Namun keduanya menyimpan pesan yang serupa: ada amanah yang harus dijalankan oleh generasi setelahnya.

Kemerdekaan harus dirawat.

Ajaran dan sanad harus dijaga.

Dan hati harus terus dibersihkan.

Sebab pada akhirnya, manusia memang tidak dituntut menguasai hasil dari setiap ikhtiarnya.

Ia hanya diminta untuk menjalankan amanah sebaik-baiknya.

Murid menjalankan perintah.
Murid berikhtiar.
Murid istiqamah.
Hasilnya, Allah yang menentukan.

***

Posting Komentar untuk "Ketika Murid Belajar Taat: Dari Dzikir, Guru, hingga Perjuangan Kemerdekaan"