Ketika Hawa Nafsu Diam-Diam Menjadi Tuhan

Malam telah turun di Banyuarum. Selepas Isya, Masjid Al Misbah belum sepenuhnya sunyi. Sebagian jamaah masih duduk dalam hening setelah baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi Bagbogo.

Malam itu, Kiai Ali Barqul Abid mengajak jamaah melihat sesuatu yang sering justru sulit dilihat: hawa nafsu di dalam diri.

Hawa nafsu tidak selalu datang dalam bentuk keburukan. Ia bisa berupa sesuatu yang kita sukai, kenyamanan yang sulit ditinggalkan, atau keinginan yang terus ingin dipenuhi. Tanpa disadari, manusia bisa lebih tunduk kepada keinginannya daripada kepada perintah Gusti Allah.

Al-Qur’an mengingatkan:

“Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya?”

(QS Al-Jatsiyah: 23).

Hawa nafsu menjadi berbahaya ketika bukan lagi sekadar keinginan, tetapi mulai menentukan ke mana hidup diarahkan. Apa yang disukai selalu dikerjakan, sementara perintah Allah yang tidak sesuai keinginan ditinggalkan.

Karena itu, Kiai Ali mengingatkan, jangan sampai kesenangan kepada sesuatu melebihi kecintaan kepada Gusti Allah.

Suka tidak suka, kalau perintah Allah datang, harus berangkat.

Cinta kepada Allah memang tidak selalu terasa menyenangkan. Ada kalanya ketaatan berhadapan dengan rasa malas, berat, dan tidak ingin.

Rasulullah SAW bersabda:

“Surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat.”

(HR Muslim No. 2822).

Maka rasa berat bukan selalu tanda bahwa kita berada di jalan yang salah. Kadang justru di situlah ketaatan sedang diuji.


Manusia sering menunggu hatinya sempurna sebelum berbuat: menunggu ikhlas, menunggu khusyuk, menunggu hati tenang.

Jangan menunggu ikhlas. Jangan menunggu khusyuk,” pesan Kiai Ali.

Ikhlas bisa timbul dan tenggelam. Khusyuk pun demikian. Karena itu, jangan menunggu hati sempurna untuk memulai.

Paksa diri untuk berjalan. Paksa diri untuk berdzikir. Paksa diri memenuhi janji.

Sebab tidak semua kebaikan dimulai dari perasaan yang sempurna. Kadang seseorang memulai karena kewajiban, lalu keikhlasan tumbuh di sepanjang perjalanan.

Baiat thoriqoh adalah ikatan batin, mengikat roh dengan Gusti Allah, yang dijaga melalui dzikir Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sesuai tuntunan guru mursyid. Ia bukan sekadar janji di lisan, melainkan ikrar cinta yang harus hidup dalam hati, ucapan, dan perbuatan, jelas Kiai Ali. 

Karena itu, baiat harus bergerak dari lisan menuju tindakan.

Hati mengingat Allah.

Lisan berdzikir.

Perbuatan berusaha mengikuti perintah-Nya.

Baiat adalah janji. Dzikir adalah jalan untuk menjaga ingatan. Amal adalah pembuktian cinta.

Dan cinta kepada Allah, pada akhirnya, adalah keberanian untuk mendahulukan kehendak-Nya daripada kehendak diri sendiri.


Malam semakin larut. Jamaah akan pulang membawa kehidupan masing-masing.

Namun mungkin ada satu pertanyaan yang layak dibawa pulang:

Siapa yang selama ini paling sering kita turuti—Gusti Allah atau keinginan diri sendiri?

Sebab seseorang mungkin tidak pernah merasa menyembah hawa nafsu. Tetapi ketika setiap keinginan selalu dimenangkan dan setiap perintah Allah dikalahkan, hawa nafsu perlahan dapat menjadi penguasa.

Maka tidak perlu menunggu menjadi sempurna.

Tidak perlu menunggu ikhlas.

Tidak perlu menunggu khusyuk.

Ketika Allah memerintahkan, berangkatlah.

Bisa jadi, di penghujung ketaatan yang mula-mula terasa berat itu, Allah justru menghadirkan keikhlasan.

Dan cinta kepada Gusti Allah mungkin memang sesederhana itu:

Ketika diri berkata, “Tidak ingin,” tetapi kita tetap menjawab, “Ya Allah, saya akan berangkat.”

***

Posting Komentar untuk "Ketika Hawa Nafsu Diam-Diam Menjadi Tuhan"