Ada saat ketika manusia perlu berhenti sejenak dari dunia. Bukan karena dunia harus ditinggalkan, melainkan karena hati kadang terlalu lama larut di dalamnya.
Suasana itu terasa ketika Kiai Ali Barqul Abid mengawali baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid A's Waja, Takeran, Magetan.
Jamaah datang membawa kehidupan masing-masing. Ada pekerjaan yang belum selesai, urusan keluarga, kebutuhan rezeki, dan berbagai persoalan yang sejak pagi memenuhi pikiran.
Sore itu, semuanya diminta diletakkan sejenak.
Bukan dibuang. Bukan ditinggalkan.
Hanya diletakkan.
"Urusan dunia nanti dipikirkan lagi," pesan Kiai Ali.
Jamaah kemudian diajak khidmat berdzikir dan bermunajat dengan amalan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang diajarkan melalui sanad KH Imam Muhadi Bagbogo. Pikiran yang sejak pagi berkelana ke berbagai urusan perlahan diarahkan kembali kepada Allah.
Di situlah dzikir tidak sekadar menjadi rangkaian ucapan lisan. Ia menjadi latihan bagi hati untuk berhenti sejenak dari segala sesuatu yang membuatnya lalai.
Manusia memang tidak mungkin lepas dari dunia. Ia harus bekerja, mencari nafkah, mengurus keluarga, memenuhi kebutuhan, dan menjalankan amanah kehidupan. Namun dalam pandangan tasawuf, yang perlu dilepaskan bukan dunia dari tangan, melainkan keterikatan hati kepada dunia.
Dunia boleh dimiliki. Harta boleh dicari. Pekerjaan boleh ditekuni.
Tetapi hati jangan sampai menjadi milik semuanya itu.
Sebab persoalannya bukan seberapa banyak dunia berada di tangan seseorang, melainkan seberapa jauh dunia telah menguasai hatinya.
Seorang yang memiliki banyak harta belum tentu menjadi hamba harta. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana pun dapat terikat kuat kepada dunia jika hatinya terus dikuasai keinginan terhadapnya.
Karena itu, dzikir menjadi ruang untuk mengembalikan letak segala sesuatu: dunia kembali menjadi sarana, Allah kembali menjadi tujuan.
Pesan itu kemudian berkelindan dengan taushiyah Kiai Hasan Ali pada baiatan yang sama.
Jika Kiai Ali mengajak jamaah berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, Kiai Hasan mengingatkan bahwa setelah itu manusia tetap harus kembali menjalaninya.
Menurut Kiai Hasan, bekerja dan mencari rezeki juga harus mengikuti tuntunan Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ. Manusia tidak boleh mengabaikan kehidupan hanya karena ingin mengejar akhirat.
Ia harus bekerja, berusaha, mencari nafkah, dan memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.
Namun pekerjaan jangan sampai membuat manusia kehilangan arah.
"Bekerja adalah tiangnya ibadah," demikian inti pesan Kiai Hasan.
Kerja dan ibadah bukan dua jalan yang saling berlawanan. Keduanya justru dapat saling menopang. Rezeki yang diperoleh dari pekerjaan menjadi bekal kehidupan, sementara kehidupan yang tercukupi memberi ruang bagi seseorang untuk menjalankan ibadah.
Kiai Hasan menyampaikannya dengan seloroh yang mengundang tawa jamaah. Ada ungkapan yang masyhur: "Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok."
Ungkapan itu sering dinisbatkan sebagai hadis Nabi, meskipun penisbatannya tidak kuat. Karena itu, lebih tepat dipahami sebagai ungkapan hikmah tentang keseimbangan hidup.
Kiai Hasan membawanya secara sederhana: jangan karena merasa harus bekerja untuk masa depan, seseorang lupa shalat, lupa beribadah, bahkan lupa beristirahat.
Bekerja secukupnya. Beribadah dengan sungguh-sungguh.
Ada waktu untuk berikhtiar dan ada waktu untuk berserah diri.
Dunia di Tangan, Bukan di Hati
Di sinilah pesan kedua kiai itu bertemu dalam satu napas tasawuf.
Tasawuf tidak mengajarkan manusia melarikan diri dari dunia. Tasawuf mengajarkan manusia agar tidak diperbudak dunia.
Seorang salik tetap berada di tengah kehidupan. Ia bekerja, berkeluarga, bertetangga, mencari rezeki, dan menghadapi persoalan sebagaimana manusia lainnya.
Yang berubah adalah orientasi batinnya.
Ia bekerja bukan semata-mata demi dunia. Ia mencari rezeki bukan untuk menjadikan harta sebagai tujuan akhir. Ia memiliki sesuatu tanpa merasa menjadi milik sesuatu itu.
Dalam bahasa sederhana, dunia berada di tangan, tetapi tidak menguasai hati.
Karena itu, ajakan Kiai Ali untuk meninggalkan dunia sejenak memiliki makna yang lebih dalam. Bukan meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau rezeki, melainkan memberi kesempatan kepada hati untuk bertanya kembali: untuk siapa semua kesibukan ini dijalankan?
Dzikir menjadi jalan untuk mengingat jawabannya.
Allah.
Kembali Menjalani Dunia
Ada sesuatu yang menarik dari rangkaian baiatan sore itu.
Kiai Ali terlebih dahulu mengajak jamaah menenangkan hati sebelum kembali menghadapi dunia. Kiai Hasan kemudian mengingatkan mereka bagaimana menjalani dunia tanpa kehilangan Allah.
Yang satu memberi ruang untuk berhenti.
Yang lain memberi bekal untuk kembali berjalan.
Keduanya tidak bertentangan. Justru saling melengkapi.
Sebab manusia tidak mungkin terus berada dalam majelis dzikir. Setelah baiatan selesai, ia harus kembali pulang. Pekerjaan menunggu. Kebutuhan keluarga harus dipenuhi. Sawah harus digarap. Kantor harus didatangi. Perdagangan harus dijalankan.
Dunia tetap berjalan.
Yang diharapkan berubah adalah hati orang yang menjalaninya.
Ia kembali bekerja, tetapi tidak menjadikan pekerjaan sebagai satu-satunya sandaran. Ia kembali mencari rezeki, tetapi tidak menjadikan rezeki sebagai tujuan terakhir. Ia kembali menghadapi persoalan, tetapi tidak merasa seluruh beban harus dipikul sendirian.
Ada Allah.
Di sinilah dzikir menemukan maknanya dalam perjalanan tasawuf: bukan sekadar membuat seseorang sejenak jauh dari dunia, tetapi mengajarinya kembali kepada dunia dengan hati yang lebih tertata.
Dunia tidak perlu dimusuhi. Ia hanya perlu ditempatkan pada tempatnya.
Harta sebagai amanah.
Pekerjaan sebagai ikhtiar.
Keluarga sebagai tanggung jawab.
Ibadah sebagai pengabdian.
Dan Allah sebagai tujuan.
Pada akhirnya, manusia akan kembali kepada dunia setelah dzikir selesai. Tangan kembali bekerja. Kaki kembali melangkah. Pikiran kembali menyelesaikan urusan.
Namun hati diharapkan tidak lagi menjadi tawanan kesibukan.
Dunia tetap dicari, tetapi Allah tidak dilupakan. Dunia boleh berada di tangan, tetapi Allah tetap berada di hati.
Barangkali itulah makna meletakkan dunia sejenak: bukan agar manusia berhenti menjalani kehidupan, melainkan agar ketika kembali berjalan, ia tahu ke mana harus pulang.
***
Posting Komentar untuk "Meletakkan Dunia Sejenak, Agar Hati Kembali pada Tempatnya"