Manusia mencintai banyak hal. Uang, harta, kemewahan, kedudukan, bahkan manusia lain. Tidak ada yang salah dengan memiliki dan mencintai semua itu. Persoalannya muncul ketika sesuatu yang disenangi mulai menguasai hati.
“Manusia akan menjadi budak apa yang disenanginya,” demikian pesan Kiai Ali.
Orang yang senang uang akan mengejar uang. Yang mencintai harta akan sibuk mempertahankan harta. Yang menyukai kemewahan akan terus mengejarnya. Sebab manusia akan berjuang mendapatkan apa yang dicintainya.
Pesan itu memiliki dasar kuat dalam Al-Qur'an. Allah mengingatkan tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dalam QS Al-Jatsiyah ayat 23.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang “hamba dinar” dan “hamba dirham” dalam hadis sahih. Persoalannya bukan memiliki harta, melainkan ketika harta telah menguasai dirinya.
Dunia boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai memenuhi hati.
Ibadah Jangan Menjadi Transaksi
Kiai Ali kemudian menghubungkan kecintaan kepada dunia dengan ibadah.
Jangan sampai seseorang beribadah hanya ketika sedang membutuhkan sesuatu. Ketika keinginannya terpenuhi, ia rajin mendekat kepada Allah. Ketika keinginannya tidak terkabul, ibadahnya ikut surut.
Dalam perjalanan menuju ma'rifat, ibadah semestinya berubah dari sekadar tuntutan menjadi kebutuhan.
Seorang hamba tidak lagi hanya mencari pemberian Allah, tetapi mencari Allah.
Di sinilah istiqamah diperlukan.
Tetap beribadah ketika sehat maupun sakit. Ketika kaya maupun fakir. Ketika hati khusyuk maupun belum mampu khusyuk.
Bahkan ketika terasa berat, ibadah tetap dijaga.
Menurut Kiai Ali, memaksa diri untuk tetap istiqamah dalam keadaan berat merupakan kemenangan atas nafsu. Apa yang mula-mula dipaksa, jika terus dilakukan, akan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan itulah perlahan tumbuh kebutuhan dan kecintaan.
Pada akhirnya, ukuran kesetiaan kepada Allah bukan hanya ketika hidup berjalan sesuai keinginan.
Justru ketika keinginan belum terpenuhi, seorang hamba tetap datang kepada-Nya.
Tetap berdzikir.
Tetap beribadah.
Tetap percaya.
Sebab tugas manusia adalah menjaga istiqamah. Adapun diterima atau tidaknya amal, merupakan wilayah Allah.
Manusia akan selalu menjadi hamba dari sesuatu yang paling dicintainya.
Karena itu, pertanyaannya sederhana:
Apa yang paling kita cintai, dan kepada siapa hati kita akhirnya tunduk?
Dalam perjalanan tasawuf, jawabannya diharapkan semakin jelas: dunia cukup berada di tangan, sementara Allah tetap menjadi tujuan hati.
***
Posting Komentar untuk "Kesenangan Menjadi Tuan bagi Hati"