Nikmat Ibadah yang Menipu: Menguji Ikhlas di Jalan Sunyi

Kiai Ali Barqul Abid dalam taujiah pada Baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Darussholihin, Srawungan, Sejeruk, Kauman, Ponorogo, mengisahkan sebuah pengalaman sederhana yang menyimpan pelajaran mendalam tentang keikhlasan.

Dikisahkan, ada seseorang yang selama bertahun-tahun selalu berusaha berada di shaf depan setiap kali shalat berjamaah. Ia menjalaninya dengan penuh kesungguhan. Dalam perasaannya, ibadah itu terasa nikmat—bahagia, tenteram, bahkan begitu dinikmati.

Namun suatu ketika, ia datang terlambat. Ia tidak lagi berada di shaf depan seperti biasanya. Peristiwa itu tampak sepele. Akan tetapi, dalam hatinya muncul kegelisahan. Ia merasa ada yang kurang, ada yang tidak pas. Ibadah yang sebelumnya terasa indah, mendadak terasa hambar.

Dari sini muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah kenikmatan ibadah itu benar-benar karena Allah, atau justru karena sesuatu yang lain—posisi, kebiasaan, atau rasa yang selama ini dinikmati?

Kiai Ali Barqul Abid menjelaskan, bisa jadi selama ini ibadah seseorang tidak sepenuhnya lepas dari dorongan nafsu yang halus. Pada awalnya seseorang beribadah secara biasa, lalu mulai merasakan nikmat. Lambat laun, kenikmatan itu sendiri yang dicari. Ketika kenikmatan itu terganggu, maka goyahlah semangat ibadahnya.

Dalam khazanah tasawuf, fenomena ini telah lama dibahas. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa riya’ memiliki tingkatan paling halus, yakni ketika seseorang tidak lagi menyadari bahwa amalnya dipengaruhi oleh dorongan selain Allah. Salah satu tandanya adalah berubahnya rasa dalam beribadah karena faktor lahiriah, bukan karena perubahan hubungan dengan Allah.

Dengan demikian, kegelisahan karena tidak berada di shaf depan dapat menjadi isyarat bahwa kenikmatan ibadah yang selama ini dirasakan belum sepenuhnya murni. Ibn ‘Athaillah dalam Al-Hikam bahkan mengingatkan bahwa kenikmatan dalam ibadah tidak selalu menjadi tanda diterimanya amal. Bisa jadi, di balik kenikmatan itu masih terselip “bagian” untuk diri sendiri.

Abu Thalib al-Makki dalam Qut al-Qulub menambahkan bahwa amal bisa tercampuri oleh dorongan nafsu yang sangat halus, sementara Imam Al-Qusyairi dalam Risalah Qusyairiyah menegaskan bahwa ikhlas bukan hanya membersihkan amal dari perhatian manusia, tetapi juga dari kepentingan diri sendiri.

Dalam konteks ini, Kiai Ali menegaskan bahwa dorongan nafsu tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar. Ia justru sering hadir dalam bentuk yang lembut—nyaris tak terasa—bahkan menyelinap dalam ibadah. Nafsu bisa membuat seseorang merasa ikhlas, padahal keikhlasan itu telah disusupi keinginan halus untuk menikmati ibadah itu sendiri.

“Ikhlas yang dirawat bisa saja disusupi riya’ yang lembut,” demikian penegasannya.

Namun demikian, jalan keluar dari persoalan ini bukan dengan meninggalkan ibadah, melainkan dengan melatih diri. Kiai Ali menekankan bahwa keikhlasan dan istiqamah tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dilatih—bahkan dipaksa.

“Istiqamah itu harus dipaksa,” ujarnya.

Manusia tidak mungkin mematikan nafsu, karena ia merupakan bagian dari fitrah. Namun nafsu dapat dilatih dan dikendalikan. Pada dasarnya, nafsu cenderung menyukai kesenangan, kebebasan, dan hal-hal yang melalaikan. Ia tidak menyukai keteraturan, komitmen, dan ibadah yang berkelanjutan.


Di sinilah pentingnya latihan spiritual yang terarah. Dalam Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, latihan tersebut dilakukan melalui dzikir, muhasabah, dan bimbingan guru. Jalan ini bukan sekadar ritual, melainkan proses mendidik jiwa agar mampu mengendalikan dorongan-dorongan halus dalam dirinya.

Baiatan yang dilaksanakan setiap Selasa Legi ba’da Isya di masjid tersebut bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah komitmen. Komitmen untuk terus memperbaiki diri, menjaga niat, dan melatih keikhlasan dalam setiap amal.

Kisah tentang kegelisahan karena tidak berada di shaf depan mengajarkan satu hal penting: bahwa ukuran ibadah bukan terletak pada rasa nikmat atau posisi, melainkan pada keikhlasan yang tersembunyi di dalam hati.

Di tengah kehidupan yang sering menilai segala sesuatu dari yang tampak, pelajaran ini menjadi sangat relevan. Bahwa yang perlu dijaga bukan hanya amal, tetapi juga “rasa di balik amal”.

Sebab bisa jadi, yang selama ini kita nikmati bukan sepenuhnya karena Allah. Dan justru dari kegelisahan itulah, perjalanan menuju keikhlasan yang sejati dimulai.


***

Posting Komentar untuk "Nikmat Ibadah yang Menipu: Menguji Ikhlas di Jalan Sunyi"