Kiai Ali Barqul Abid dalam taujiah pada rangkaian baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Al-An’am, Pintu Sidorejo, Sukorejo, Ponorogo, mengingatkan bahwa perjalanan spiritual sejatinya bukan tentang mengejar keistimewaan, melainkan tentang keberanian melihat aib diri sendiri.
Menurutnya, penyakit hati sering kali tidak tampak jelas. Justru yang paling berbahaya adalah yang halus—yang tidak disadari, tetapi perlahan merusak keikhlasan. Di antara yang paling sering dibahas para ulama tasawuf adalah riya’ khafi (riya’ yang tersembunyi), yakni keinginan halus untuk dihargai, diakui, atau merasa lebih baik dari orang lain.
Penjelasan ini sejalan dengan apa yang diuraikan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, bahwa riya’ memiliki tingkatan, dan yang paling berbahaya adalah yang tidak disadari oleh pelakunya. Nabi Muhammad ﷺ pun menyebut riya’ sebagai “syirik kecil”, sesuatu yang samar tetapi berpotensi merusak amal dari dalam.
Bagi Kiai Ali, perjalanan spiritual bukanlah upaya menjadi tampak luar biasa, melainkan kesungguhan untuk terus memperbaiki diri. Kita mungkin tidak akan mampu menyamai Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, para guru, atau para leluhur yang saleh. Namun, ikhtiar untuk meneladani dan mendekati mereka tidak boleh berhenti.
Dalam tradisi tasawuf dikenal istilah mukasyafah—terbukanya tabir. Namun, Kiai Ali menegaskan bahwa yang lebih utama bukanlah kemampuan melihat hal-hal gaib, rahasia takdir, atau karomah. Yang lebih penting justru terbukanya kesadaran untuk melihat kekurangan diri sendiri.
Kesadaran inilah yang menjadi kunci perbaikan. Seseorang yang mampu melihat dirinya dengan jujur akan lebih mudah melangkah menuju perubahan, dibandingkan mereka yang sibuk mengejar pengalaman spiritual yang luar biasa.
Kiai Ali juga menyoroti kecenderungan manusia dalam beribadah. Allah ﷻ mencintai hamba-Nya yang istiqamah, meskipun amalnya sederhana. Namun manusia sering kali justru berharap “hadiah” berupa karomah.
Di sinilah pentingnya meluruskan niat. Ketika ibadah dilakukan dengan niat tertentu, lalu tidak mendapatkan apa yang diharapkan, seseorang bisa menjadi lemah bahkan meninggalkan ibadah. Sebaliknya, ketika merasa memperoleh “kelebihan”, ia justru semakin rajin—namun dengan niat yang bergeser: bukan lagi karena Allah, melainkan demi mendapatkan lebih banyak lagi.
“Istiqamah itu harus dipaksa,” demikian penegasan Kiai Ali. Ibadah tidak boleh menunggu rasa enak atau nikmat. Sebab jika menunggu rasa, ibadah akan mudah ditinggalkan ketika rasa itu hilang.
Dalam kerangka Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, tujuan utama bukanlah karomah atau pengalaman batin yang spektakuler, melainkan kebersihan hati. Pembersihan ini ditempuh melalui latihan yang terus-menerus: dzikir, muhasabah, dan pengendalian diri.
Jika Allah menghendaki kebaikan pada seseorang, Dia akan membukakan kesadaran untuk melihat kekurangan dirinya. Dari situlah perbaikan dimulai—bukan dari merasa sudah baik, melainkan dari kesadaran bahwa diri masih jauh dari sempurna.
Pada akhirnya, tujuan dari perjalanan ini adalah wushul—tersambungnya hati kepada Allah ﷻ. Jalan menuju ke sana bukan jalan yang ramai oleh keajaiban, melainkan jalan sunyi yang dipenuhi kejujuran, kesabaran, dan ketekunan.
Baiatan yang dilaksanakan setiap Senen Kliwon ba’da Isya di masjid tersebut bukanlah akhir, melainkan awal dari komitmen: memperbaiki diri, menjaga niat, dan melatih istiqamah.
Di tengah dunia yang gemar menampilkan kelebihan, pesan Kiai Ali menjadi semakin relevan: bahwa yang terpenting bukan apa yang tampak di mata manusia, melainkan apa yang tersembunyi di dalam hati. Sebab bisa jadi, yang sederhana namun istiqamah lebih dicintai Allah. Sementara yang tampak luar biasa, belum tentu bersih di hadapan-Nya.
***
Posting Komentar untuk "Riya’ yang Halus, Jalan Sunyi Membersihkan Hati"