Baiat dan Jalan Istiqamah dalam Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah


Di Masjid Nurul Huda, Dempelan, Madiun, suasana menjelang baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi Bagbogo terasa lebih hening. Para jamaah duduk menunggu, sebagian berbincang perlahan dan sebagian lainnya memilih diam. Di hadapan mereka, Kiai Ali Barqul Abid menyampaikan tausyiah sebelum prosesi baiatan dimulai. Bagi jamaah yang hadir, baiat bukan sekadar sebuah prosesi. Ada dzikir yang akan diterima, ada janji yang akan diucapkan, dan ada tanggung jawab yang kemudian harus dibawa dalam kehidupan sehari-hari.

Kiai Ali menjelaskan bahwa dalam tradisi Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, baiat menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang murid. Melalui baiat, seorang murid menerima tuntunan dzikir dari guru yang menjadi pembimbingnya. Dalam pemahaman yang disampaikan Kiai Ali, dzikir tersebut memiliki kesinambungan melalui sanad guru-guru tarekat. Mata rantai itu diyakini bersambung hingga Syekh Abdul Qadir Jailani, para sahabat, Kanjeng Nabi Muhammad SAW, melalui Malaikat Jibril, hingga kepada Allah SWT. Karena itu, bagi pengamal thoriqoh, sanad bukan sekadar rangkaian nama, tetapi bagian dari keyakinan bahwa amalan yang diterima seorang murid memiliki jalur transmisi dan bimbingan yang jelas.

Di situlah pentingnya tawajuh. Kiai Ali menekankan bahwa perjumpaan langsung antara murid dan guru memiliki kedudukan penting dalam menerima bimbingan dan dzikir. "Tawajuh bertatap muka dengan guru lebih utama daripada bertahun-tahun tanpa tawajuh," demikian pesan Kiai Ali. Dalam pemahaman yang disampaikannya, tawajuh memberi ruang bagi murid untuk berhadapan langsung dengan guru, menerima tuntunan, melihat keteladanan, dan memahami bagaimana sebuah amalan dijalankan. Baiat menjadi pintu masuk, tawajuh menjadi bagian dari proses bimbingan, sedangkan dzikir menjadi amalan yang harus terus dijaga setelah seorang murid meninggalkan majelis.

Sebab ujian seorang murid justru dimulai setelah ia pulang. Dzikir harus tetap dikerjakan ketika tubuh lelah, pekerjaan menumpuk, waktu terasa sempit, bahkan ketika suasana hati sedang tidak mendukung. Pada kesempatan sebelumnya, Kiai Hasan Ali menyampaikan bahwa orang thoriqoh adalah "utama-utamanya santri". Menurutnya, ungkapan itu berkaitan dengan kesungguhan seorang murid dalam menaati dan menjaga perintah gurunya. Apa yang telah dijanjikan kepada guru tidak berhenti sebagai ucapan pada saat baiat, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan. Capai atau tidak capai, dzikir yang telah dibaiatkan tetap dikerjakan; sehat ataupun sakit, tetap dijalankan; luang ataupun sibuk, tetap diusahakan.

Di situlah ketaatan bertemu dengan istiqamah. Istiqamah bukan hanya kemampuan melakukan dzikir ketika keadaan sedang mudah, tetapi kesediaan untuk tetap menjalankan amalan ketika keadaan justru membuat seseorang ingin berhenti. Kiai Hasan Ali juga menyampaikan kisah Ontowiryo, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Diponegoro. Dalam penuturannya, Ontowiryo diyakini pernah menjadi santri Mbah Hasan Besari di Tegalsari, Ponorogo, dan menyembunyikan jati dirinya demi menjaga keamanan sang guru. Kisah itu digunakan sebagai gambaran tentang seorang murid yang menempatkan amanah kepada guru di atas kepentingan dirinya sendiri.

Namun, bagi jamaah thoriqoh, inti perjalanan bukanlah kisah masa lalu itu, melainkan bagaimana seorang murid menjalankan baiatnya sendiri. Baiat tidak berhenti pada satu pertemuan. Ia menjadi komitmen untuk menjaga dzikir dan menjalankan tuntunan yang telah diterima. Guru tidak mungkin selalu berada di samping murid. Tidak setiap waktu ada yang mengingatkan dan tidak selalu ada yang melihat. Karena itu, ukuran ketaatan akhirnya kembali kepada diri sendiri: apakah dzikir tetap dijalankan ketika tidak ada yang melihat, apakah janji tetap dipegang ketika keadaan berubah, dan apakah seorang murid tetap berusaha mengikuti tuntunan guru ketika kesibukan dan kelelahan datang bersamaan.

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat baiat memiliki makna panjang. Di Masjid Nurul Huda, Dempelan, baiatan menjadi awal dari perjalanan tersebut. Jamaah menerima dzikir, menerima tuntunan, dan meneguhkan komitmen sebagai murid. Setelah itu mereka kembali kepada kehidupan masing-masing, dengan pekerjaan, keluarga, dan kesibukan yang tidak pernah benar-benar selesai. Namun di tengah semua itu, dzikir diharapkan tetap memiliki tempat. Sebab dalam Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, sebagaimana pesan yang disampaikan Kiai Ali dan Kiai Hasan Ali, perjalanan seorang murid bukan hanya tentang menerima amalan, tetapi juga tentang kesediaan menjaga amalan itu dengan istiqamah.

Baiat adalah awal. Tawajuh menjadi bagian dari proses bimbingan guru dan murid. Dzikir menjadi laku yang terus dijalankan. Ketaatan kepada guru menjadi bagian dari disiplin seorang santri thoriqoh. Mungkin karena itu Kiai Hasan Ali menyebut orang thoriqoh sebagai "utama-utamanya santri"—sebuah ungkapan tentang kesungguhan seorang murid dalam menjaga janji, menghormati guru, dan menjalankan dzikir yang telah diterimanya. Baiat berlangsung sesaat, tetapi amanahnya diharapkan berjalan sepanjang kehidupan.

*) Dempelan 

Posting Komentar untuk "Baiat dan Jalan Istiqamah dalam Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah"