Yang Dicari Bukan Karamah, Taushiyah Kiai Ali Di Kasihan Tegalombo Pacitan


Sore mulai merayap di perbukitan Tegalombo, Pacitan. Di Masjid Glagah Ombo, Dusun Jambu, Desa Kasihan, jamaah telah memenuhi ruang utama. Mereka duduk bersila dalam balutan pakaian rapih, menanti dimulainya Baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo.

Di majelis seperti ini, orang datang membawa beragam harapan. Ada yang ingin meneguhkan istiqamah, ada yang ingin menenangkan hati, ada pula yang sekadar ingin kembali mengingat Allah di tengah riuhnya kehidupan.

Ketika suasana mulai hening, Kiai Ali Barqul Abid membacakan sebuah kitab. Dari lembaran kitab itu, beliau mengawali tausiyah dengan sebuah hadis Nabi Muhammad ﷺ yang telah lama menjadi pegangan para ulama akhlak dan tasawuf.

Hadis yang diriwayatkan Imam ath-Thabrani itu menyebutkan tiga perkara yang menyelamatkan manusia.

Pertama, takut kepada Allah, baik ketika sendiri maupun di tengah keramaian.

Kedua, hidup sederhana, baik dalam keadaan fakir maupun kaya.

Ketiga, berlaku adil, baik ketika senang maupun ketika marah.

Tiga perkara yang tampak sederhana itu, menurut Kiai Ali, sesungguhnya menjadi fondasi perjalanan seorang hamba menuju Allah.

Takut kepada Allah bukanlah rasa takut yang membuat manusia menjauh dari Tuhannya. Sebaliknya, ia adalah kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat setiap gerak hati, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan. Di situlah keikhlasan diuji, ketika amal dilakukan bukan karena pandangan manusia, melainkan karena Allah semata.

Sikap sederhana juga tidak diukur dari banyak atau sedikitnya harta. Kesederhanaan adalah kemampuan hati untuk tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki. Ketika miskin tidak berputus asa, ketika kaya tidak larut dalam kesombongan.

Begitu pula dengan keadilan. Menurut Kiai Ali, adil bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri. Akal harus tetap jernih, tidak dikendalikan oleh amarah, kepentingan, atau hawa nafsu.

Dari hadis itu, pembahasan kemudian mengalir kepada makna thoriqoh.

"Thoriqoh tidak hanya dzikir," tutur beliau.

Dzikir adalah pintu.

Tujuan akhirnya adalah membersihkan hati.

Dalam pandangan para ulama tasawuf, suluk merupakan perjalanan batin. Perjalanan meninggalkan sifat-sifat tercela menuju akhlak yang diridhai Allah. Dari mudah marah menjadi penyabar. Dari hati yang sibuk mengejar dunia menjadi hati yang mencari keridhaan Allah.

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang salik bukanlah banyaknya pengalaman yang dianggap luar biasa.

"Harta itu bonus," ujar Kiai Ali.

"Hasil juga bonus."

Beliau mengingatkan bahwa manusia sering kali lebih sibuk mengejar hasil daripada memperbaiki perjalanan.

Padahal, hasil bukanlah tujuan.

Yang dicari bukanlah limpahan dunia, bukan pula kemampuan-kemampuan yang mengundang decak kagum manusia.

Yang dicari adalah ridha Allah.

Di sinilah Kiai Ali mengingatkan satu hal yang sering terbalik dalam pandangan manusia.

Allah menyukai istiqamah seorang hamba.

Sebaliknya, nafsu manusia justru lebih menyukai karamah.

Manusia sering berharap memperoleh sesuatu yang istimewa, sesuatu yang tampak luar biasa. Padahal Allah lebih mencintai amal yang terus dijaga, meski kecil dan tidak pernah menjadi perhatian banyak orang.

Untuk menjelaskan hal itu, Kiai Ali mengisahkan Imam Abu Hanifah.

Dikisahkan, imam besar mazhab Hanafi itu pernah dianugerahi mukasyafah, kemampuan melihat kekurangan watak manusia. Bagi kebanyakan orang, kemampuan seperti itu tentu menjadi kebanggaan.

Namun Imam Abu Hanifah justru menangis.

Beliau memohon kepada Allah agar anugerah itu dicabut.

Yang beliau takutkan bukan kehilangan karamah, melainkan kehilangan keikhlasan.

Kisah itu menjadi penegas bahwa para ulama besar tidak menjadikan karamah sebagai tujuan perjalanan spiritual.

Mereka lebih takut kehilangan hati yang bersih daripada kehilangan keistimewaan.

Menjelang akhir tausiyah, Kiai Ali kembali mengingatkan tujuan utama menempuh jalan thoriqoh.

Membersihkan hati.

Karena dari hati yang bersih lahir dzikir yang hidup.

Dari hati yang bersih tumbuh akhlak yang baik.

Dan dari hati yang bersih seorang hamba berharap dapat mengakhiri hidupnya dengan menetapi kalimat Lā ilāha illallāh, memperoleh husnul khatimah atas rahmat Allah.

Di tengah zaman yang mengukur keberhasilan dengan pencapaian, kedudukan, dan hasil yang tampak, pesan itu terasa seperti ajakan untuk kembali menata arah perjalanan.

Sebab jalan menuju Allah tidak diukur oleh banyaknya karamah yang dimiliki, melainkan oleh kesungguhan membersihkan hati dan menjaga istiqamah hingga akhir hayat.

Barangkali itulah hakikat thoriqoh yang ingin diwariskan para ulama tasawuf: bukan mengajarkan manusia menjadi luar biasa di mata sesamanya, tetapi membimbingnya menjadi hamba yang semakin tulus di hadapan Tuhannya.

***

Posting Komentar untuk "Yang Dicari Bukan Karamah, Taushiyah Kiai Ali Di Kasihan Tegalombo Pacitan "