Jalan menuju Dusun Pentuk Pelem, Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, berkelok membelah hamparan sawah yang mulai menghijau. Beberapa ruas tampak dibongkar untuk diperbaiki. Kendaraan sesekali harus melambat, memberi jalan bagi pekerja yang masih meratakan cor beton.
Perjalanan sedikit lebih lama dari biasanya. Namun tak satu pun kendaraan jamaah berbalik arah.
Sore itu mereka menuju satu tempat yang sama: Masjid Darul Ulum. Bukan masjid yang telah berdiri megah dengan segala kemegahannya, melainkan rumah ibadah yang masih bertumbuh. Dinding-dinding bata ringan belum diplester. Tiang-tiang penyangga beton masih berdiri di beberapa sudut. Lantai belum seluruhnya selesai, sebagian ditutup bekas baliho yang dialasi tikar agar tetap nyaman dipakai bersimpuh.
Di situlah Baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo digelar.
Jamaah telah memenuhi ruang masjid jauh sebelum Kiai Ali Barqul Abid tiba. Laki-laki dan perempuan dipisahkan oleh selembar kain hijau yang terbentang sederhana. Sebagian besar mengenakan pakaian serba putih, menghadirkan kesan teduh di tengah bangunan yang masih setengah jadi.
Begitu Kiai Ali memasuki masjid, seorang jamaah menyambut sambil menjabat tangannya.
"Maaf, Kiai. Tempatnya masih berantakan. Renovasinya belum selesai."
Belum sempat Kiai Ali menjawab, kalimat itu disambung dengan harapan yang sederhana.
"Mohon doanya, Kiai. Semoga pembangunannya lancar, cepat selesai, dan masjid ini segera bisa berfungsi sepenuhnya."
Kiai Ali mengangguk pelan.
"Aamiin."
Tak ada komentar lain.
Beliau kemudian melangkah menuju mikrofon yang dipasang di dekat mihrab, satu bagian masjid yang telah dapat digunakan. Di sanalah tausiyah dimulai.
Namun, sebelum satu pun nasihat diucapkan, sesungguhnya bangunan itu sendiri telah lebih dahulu berbicara.
Masjid yang belum selesai ternyata tetap mampu menjadi tempat orang-orang bersujud.
Dalam tausiyahnya, Kiai Ali tidak mempersoalkan dinding yang belum rapi atau lantai yang belum sempurna.
Yang beliau soroti justru hati manusia.
"Jangan menunggu masjid sempurna untuk beribadah," tuturnya.
Menurut beliau, rumah Allah justru harus dihidupkan sejak ia masih dibangun. Sebab yang menghidupkan masjid bukan cat yang mengilap atau kubah yang menjulang, melainkan langkah orang-orang yang datang membawa dzikir dan salat.
Dari situlah beliau mengajak jamaah menjaga satu perkara yang sering terdengar sederhana, tetapi paling berat dijalani: istikamah.
"Istikamah adalah karamah yang paling utama."
Kalimat itu meluncur tanpa nada tinggi. Namun justru karena kesederhanaannya, ia terasa lama tinggal di benak para jamaah.
Bagi Kiai Ali, perubahan keadaan tidak boleh menjadi alasan berhentinya ibadah.
Beliau kemudian mengingatkan sebuah peristiwa pada masa Rasulullah Muhammad ﷺ ketika arah kiblat dipindahkan atas perintah Allah. Perubahan itu tentu mengejutkan sebagian kaum Muslim yang telah terbiasa menghadap ke satu arah. Namun bagi orang-orang yang beriman, perubahan bukan alasan untuk meninggalkan ketaatan. Mereka mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya dengan penuh kepatuhan.
Peristiwa itu, menurut Kiai Ali, mengajarkan bahwa yang harus tetap adalah kepatuhan, bukan kebiasaan.
Beliau lalu mengaitkannya dengan keadaan Masjid Darul Ulum.
Hari ini bangunan masjid berubah. Sebagian ruang belum selesai. Kenyamanan pun belum sepenuhnya hadir.
Namun jangan sampai yang berubah adalah semangat beribadah.
Menurut Kiai Ali, tantangan terbesar dalam menjaga istikamah bukan datang dari jalan yang rusak atau bangunan yang belum selesai.
Musuh terdekat justru ada di dalam diri manusia sendiri.
"Nafsu tidak senang diajak kepada kebaikan."
Ia selalu pandai mencari alasan.
Hari ini alasan itu mungkin karena bangunan masih berantakan.
Besok bisa berganti menjadi cuaca, kesibukan, rasa lelah, atau alasan-alasan lain yang tampak masuk akal.
Karena itu, beliau berpesan agar jamaah tetap menjaga amaliah Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sebagaimana diajarkan guru. Tetap berdzikir. Tetap menghadiri majelis. Tetap berkumpul dalam jamaah agar saling menguatkan.
Bahkan ketika hati belum sepenuhnya siap.
"Bisa berangkat meski dengan keterpaksaan saja sudah menjadi kemenangan atas nafsu," ujarnya.
Nafsu, kata beliau, jangan diberi ruang untuk bermanja-manja.
Sebab semakin sering dituruti, semakin kuat ia mengajak manusia menjauh dari jalan kebaikan.
Menjelang petang, jamaah satu per satu meninggalkan Masjid Darul Ulum. Bangunan itu tetap sama seperti beberapa jam sebelumnya. Tiang penyangga masih berdiri. Dinding bata ringan masih belum diplester. Tikar masih terhampar di atas bekas baliho.
Tak ada yang berubah pada bangunannya.
Tetapi barangkali ada sesuatu yang berubah di hati orang-orang yang pulang.
Mereka belajar bahwa kesempurnaan bukanlah syarat untuk memulai ibadah.
Karena sesungguhnya yang sedang dibangun sore itu bukan hanya masjid dari batu dan semen.
Melainkan juga sebuah keteguhan hati.
Dan seperti pembangunan masjid yang memerlukan waktu, keteguhan itu pun dibangun sedikit demi sedikit—melalui langkah yang terus datang, dzikir yang terus diulang, dan istikamah yang terus dijaga, meski keadaan belum sempurna.
***
Posting Komentar untuk "Istikamah di Tengah Masjid Majasem yang Belum Selesai"