Tidak ada yang tergesa di Masjid Darussholihin, Dusun Srawungan, Desa Sejeruk, Kecamatan Kauman, Ponorogo, siang itu. Para jamaah duduk bersila dalam diam. Sebagian memejamkan mata, sebagian lagi menundukkan kepala. Di ruangan sederhana itu, keheningan justru menjadi bahasa yang paling fasih.
Di hadapan mereka, Kiai Ali Barqul Abid mengutip sebuah kitab tua, yang menyimpan jejak perjalanan panjang para pencari Tuhan.
Kitab itu bernama Rabbani.
Tidak banyak kata pengantar. Kiai Ali langsung mengajak jamaah memasuki sebuah percakapan yang diyakini hidup dalam tradisi para salik selama berabad-abad. Sebuah dialog antara Sayidina Ali karramallahu wajhah dengan Rasulullah Muhammad ﷺ.
Bukan tentang perang. Bukan pula tentang pemerintahan atau kekuasaan.
Yang ditanyakan Sayidina Ali justru sesuatu yang paling mendasar bagi setiap manusia.
"Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku jalan yang paling dekat menuju Allah, yang paling mudah bagi hamba-hamba-Nya, dan yang paling utama di sisi Allah."
Betapa indahnya pertanyaan itu.
Sayidina Ali tidak bertanya bagaimana menjadi orang paling kaya. Tidak pula meminta doa agar menjadi manusia paling disegani. Ia mencari satu jalan yang mampu mengantarkannya pulang kepada Sang Pencipta.
Di tengah zaman yang selalu mengajarkan cara mencapai dunia, Ali justru bertanya bagaimana mencapai Allah.
Dalam kisah yang dinukil dalam kitab Rabbani, Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang ringkas.
"Hendaklah engkau senantiasa berdzikir kepada Allah."
Jawaban yang pendek. Terlalu pendek, mungkin, bagi mereka yang berharap menemukan amalan yang rumit dan luar biasa.
Namun justru di situlah letak kedalamannya.
Sayidina Ali kembali bertanya. Bukankah semua orang juga berdzikir kepada Allah?
Lalu Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa kiamat tidak akan datang selama di bumi masih ada orang yang menyebut nama Allah. Sabda ini sejalan dengan hadis sahih yang diriwayatkan Imam Muslim tentang masih adanya orang-orang yang mengingat Allah hingga menjelang akhir zaman.
Kiai Ali berhenti sejenak. Masjid kembali hening.
Barangkali, yang ingin beliau sampaikan bukanlah banyaknya lafal yang harus diucapkan. Melainkan sebuah kesadaran yang perlahan mulai hilang dari kehidupan modern: manusia semakin pandai berbicara kepada sesama, tetapi semakin jarang berbicara kepada Tuhannya.
Hari-hari kita dipenuhi notifikasi. Pikiran dipenuhi target. Waktu habis mengejar jadwal yang tidak pernah selesai.
Tetapi hati?
Sering kali ia dibiarkan berjalan sendirian.
Dalam tradisi Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dzikir dipahami bukan sekadar gerak bibir. Dzikir adalah upaya merawat kesadaran agar hati tidak tercerabut dari Allah. Lisan boleh berhenti karena pekerjaan. Mata boleh sibuk memandang dunia. Namun hati tetap diajak pulang kepada sumber ketenangannya.
Barangkali itulah sebabnya Rasulullah tidak menunjukkan jalan yang berliku kepada Sayidina Ali.
Beliau tidak menyebut gunung yang harus didaki. Tidak pula tempat-tempat jauh yang harus disinggahi.
Beliau menunjuk sesuatu yang telah dibawa setiap manusia sejak lahir: hati yang mampu mengingat.
Sebab jarak antara manusia dengan Allah bukan diukur oleh kilometer, melainkan oleh kelalaian.
Semakin lalai, semakin jauh. Semakin ingat, semakin dekat.
Di penghujung baiatan, tidak terdengar tepuk tangan. Tidak ada pekik kemenangan.
Yang terdengar hanya desir suara dzikir yang lirih, seperti aliran air yang tidak pernah memaksa batu untuk berubah, tetapi perlahan mampu menghaluskannya.
Mungkin memang demikian cara Allah mendidik hamba-Nya.
Bukan selalu dengan peristiwa besar, melainkan dengan satu nama yang terus diulang hingga meresap ke dalam hati.
Allah...
Allah...
Allah...
Barangkali, jalan yang dicari Sayidina Ali sejak berabad-abad lalu ternyata bukan jalan yang ramai dilalui manusia. Ia sunyi, sederhana, dan nyaris tak terlihat.
Namun justru dari jalan sunyi itulah, seorang hamba belajar menemukan rumah bagi jiwanya, terang Kiai Ali.
***
Posting Komentar untuk "Dzikir, Jalan yang Dicari Sayidina Ali"