Ketika Patuh Didahulukan daripada Paham ; Taushiyah Kiai Ali di Masjid Al Buchori Mangunan

Ada satu kalimat yang berulang kali ditekankan Kiai Ali Barqul Abid kepada para jamaah yang baru saja mengikuti Baiatan Thoriqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Al Buchori, Desa Mangunan, Kecamatan Sampung, Ponorogo.

"Orang yang berguru harus siap menjalankan perintah gurunya."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di dalam tradisi tasawuf, ia menjadi fondasi perjalanan seorang salik. Sebab, jalan menuju Allah tidak hanya dibangun dengan banyaknya zikir, melainkan juga dengan kesediaan menundukkan ego untuk taat kepada tuntunan.

Kiai Ali mengawali tausiyahnya dengan sebuah perumpamaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Menurut beliau, setiap orang yang beragama memahami bahwa Allah memberikan perintah yang harus dilaksanakan dan larangan yang harus dijauhi. Demikian pula seseorang yang bekerja sebagai pegawai, karyawan, atau profesi apa pun. Ada aturan, ada tata tertib, dan ada batas-batas yang harus dipatuhi agar sebuah amanah dapat dijalankan dengan baik.

Begitu pula ketika seseorang memutuskan berguru kepada seorang mursyid.

Baiat bukan sekadar prosesi seremonial. Baiat adalah kesediaan menerima bimbingan. Setelah menerima baiat, seorang murid memperoleh amanah untuk mengamalkan zikir Lā ilāha illallāh dalam amalan Qadiriyah dan zikir sirr Allāh... Allāh... Allāh dalam amalan Naqsyabandiyah yang dibaca secara istiqamah setiap selesai salat fardu sesuai tuntunan guru.

"Kalau sudah mengaku murid," demikian inti pesan Kiai Ali, "maka jalankanlah apa yang diperintahkan guru."

Beliau menjelaskan bahwa amalan-amalan yang diwariskan para mursyid lahir dari perjalanan panjang para ulama dalam membimbing umat. Melalui sanad yang terjaga, setiap tata cara ibadah, zikir, maupun pembinaan jamaah disusun sebagai ikhtiar agar para salik memiliki pegangan yang sama dalam menempuh jalan ruhani.

Karena itu, menurut beliau, seorang murid perlu memelihara adab dengan menjalankan tuntunan yang telah diajarkan guru secara istiqamah. Sikap ini bukan sekadar bentuk kepatuhan, melainkan juga upaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam kehidupan berjamaah, Kiai Ali mengajak para salik untuk bersama-sama menghidupkan kegiatan yang telah menjadi bagian dari pembinaan tarekat. Majelis zikir, baiatan, dan amalan bersama merupakan ruang untuk saling menguatkan dalam istiqamah, sekaligus mempererat ukhuwah di antara sesama jamaah.

"Guru-guru kita telah memberikan tuntunan dan membangun pembinaan yang baik. Tugas kita adalah menjaganya, menghidupkannya, dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya," tutur beliau.

Bagi Kiai Ali, yang terpenting adalah semangat kebersamaan, adab kepada guru, dan istiqamah dalam mengamalkan tuntunan yang telah diterima, sehingga perjalanan seorang salik berlangsung dengan tenang dan penuh keberkahan.

Untuk menjelaskan pentingnya kepatuhan, Kiai Ali kemudian mengajak jamaah menengok salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam: perpindahan arah kiblat.

Ketika Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW mengalihkan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram, kaum muslimin telah lama terbiasa menghadap ke arah sebelumnya. Namun ketika perintah itu datang, mereka tidak menunda, tidak memperdebatkan, dan tidak menunggu hingga merasa siap. Mereka segera berbalik arah sebagai wujud kepatuhan kepada Allah.

Menurut Kiai Ali, semangat itulah yang juga perlu dibangun dalam perjalanan seorang salik. Di hadapan tuntunan yang telah diterima dari guru, yang didahulukan adalah ketaatan untuk mengamalkan, seraya terus belajar memahami hikmah yang terkandung di dalamnya.

Dari sinilah lahir pesan yang paling membekas dalam tausiyah beliau.

"Jalankan meski terpaksa. Jalankan meski belum ikhlas. Karena keikhlasan akan datang pada waktunya."

Kalimat itu bukan ajakan untuk beramal tanpa niat yang benar. Justru sebaliknya, Kiai Ali mengingatkan agar seseorang tidak terus-menerus menunggu hadirnya rasa ikhlas sebagai alasan untuk menunda kebaikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang menunda beribadah karena merasa belum siap, terlalu lelah, atau menunggu suasana hati yang tepat. Padahal, hati sering kali justru ditempa melalui amal yang dilakukan secara istiqamah.

Begitu pula dengan zikir yang menjadi amanah setelah baiat. Menurut beliau, seorang salik perlu belajar memaksa dirinya untuk tetap berzikir, meskipun rasa malas datang menghampiri. Sebab yang sedang dilawan bukan sekadar keengganan membaca wirid, melainkan dorongan nafsu yang gemar menunda kebaikan.

"Kalaupun hari ini terasa berat," demikian pesan yang tersirat dari tausiyah beliau, "jangan berhenti melangkah. Teruslah mengamalkan. Keikhlasan akan tumbuh seiring langkah yang terus dijaga."

Dalam pandangan tasawuf, kemenangan terbesar bukanlah ketika seseorang mampu mengalahkan orang lain. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika ia mampu mengalahkan dirinya sendiri—menundukkan hawa nafsu yang mengajak bermalas-malasan, menunda amal, atau lebih memilih kesenangan sesaat daripada ketaatan.

Di penghujung tausiyah, Kiai Ali kembali mengingatkan agar amalan zikir yang telah diterima saat baiat dijaga sebagai amanah. Kesibukan, rasa lelah, atau rutinitas sehari-hari hendaknya tidak mudah menjadi alasan untuk meninggalkannya, kecuali dalam keadaan darurat atau uzur yang benar-benar tidak dapat dihindari.

Sebab baiat bukanlah garis akhir sebuah perjalanan.

Ia justru merupakan langkah pertama untuk membuktikan kesungguhan seorang murid. Kesungguhan itu tidak diukur dari banyaknya kata yang diucapkan, melainkan dari istiqamah menjaga zikir, memelihara adab kepada guru, dan terus melangkah mendekat kepada Allah, hari demi hari.

Di jalan tasawuf, kepatuhan bukanlah tujuan akhir. Ia adalah pintu yang perlahan membuka jalan menuju keikhlasan. Dan ketika keikhlasan itu hadir, seorang salik akan menyadari bahwa setiap zikir yang dahulu terasa sebagai kewajiban, lambat laun berubah menjadi kebutuhan hati yang tak ingin lagi ditinggalkan.

Posting Komentar untuk "Ketika Patuh Didahulukan daripada Paham ; Taushiyah Kiai Ali di Masjid Al Buchori Mangunan "