Selepas Baiatan Thoriqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Al Anam, Dukuh Pintu, Sidorejo, Sukorejo, Ponorogo, jamaah tidak serta-merta meninggalkan tempat. Mereka justru memasuki satu perjalanan ruhani yang menjadi mahkota amalan tarekat: Khususiyah.
Suasana Masjid Al Anam berubah semakin khusyuk. Baiat telah usai. Para salik yang baru saja memperbarui janji untuk menempuh jalan mendekat kepada Allah tetap duduk bersila. Tidak seorang pun beranjak. Mata mereka tertuju kepada Kiai Ali Barqul Abid yang kembali mengambil mikrofon.
Namun, beliau tidak langsung memimpin bacaan Khususiyah.
Ada pelajaran yang lebih dahulu harus dipahami.
Sebab dalam tradisi Thoriqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, amalan bukan sekadar dibaca. Ia harus dimengerti, dihayati, lalu diamalkan dengan hati yang sadar.
Kiai Ali menjelaskan bahwa Khususiyah adalah wasilah, sebuah perantara doa untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bukan bacaan yang memiliki kekuatan sendiri, bukan pula karena nama-nama para guru yang disebutkan di dalamnya. Semua permohonan tetap bermuara kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Mengabulkan segala doa.
Menurut beliau, tujuan pertama Khususiyah adalah meningkatkan derajat ruhani seorang salik. Jalan tarekat bukan hanya mengubah perilaku lahiriah, tetapi juga membersihkan hati agar semakin dekat kepada Allah. Semakin sering seorang hamba mengingat Allah, semakin lembut hatinya, semakin tenang jiwanya, dan semakin ringan menerima setiap ketentuan-Nya.
Di dalam Khususiyah pula, seorang salik diajarkan untuk membawa seluruh hajat hidupnya kepada Allah. Hajat pribadi, keluarga, kesehatan, rezeki, pendidikan anak, hingga harapan memperoleh kehidupan yang penuh keberkahan dipanjatkan dalam satu munajat yang panjang.
"Mintalah kepada Allah," demikian inti pesan Kiai Ali.
Sebab hanya Allah yang mampu mencukupi segala kekurangan manusia.
Beliau juga mengingatkan bahwa manusia hidup di tengah banyak ancaman yang tidak selalu tampak oleh mata. Karena itu, Khususiyah berisi doa agar Allah menjauhkan para salik dari rasa cemas, musibah, fitnah, gangguan makhluk yang terlihat maupun yang tidak terlihat, serta segala bentuk keburukan yang dapat menghalangi perjalanan menuju-Nya.
Khususiyah, menurut beliau, juga menjadi sarana menyambungkan hubungan ruhani dengan para guru yang telah lebih dahulu kembali ke hadirat Allah. Melalui tawasul, seorang murid mengenang jasa para ulama dan masyayikh yang telah menjaga sanad ilmu dan zikir hingga sampai kepada generasi sekarang. Hubungan itu bukan untuk meminta kepada mereka, melainkan sebagai penghormatan kepada mata rantai ilmu yang bersambung hingga Rasulullah SAW.
Setelah penjelasan itu selesai, suasana masjid menjadi semakin hening.
Bacaan Khususiyah pun dimulai.
Amalan diawali dengan menghadiahkan Surah Al-Fatihah kepada Rasulullah SAW, keluarga beliau, para sahabat, para nabi, para malaikat, para ulama, para wali, para guru Thoriqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, kedua orang tua, hingga seluruh kaum muslimin yang masih hidup maupun yang telah wafat.
Seolah-olah seorang salik diajak menengok ke belakang, menyadari bahwa perjalanan menuju Allah tidak pernah ditempuh sendirian. Ada begitu banyak orang saleh yang telah lebih dahulu membuka jalan dengan ilmu, doa, dan keteladanan.
Setelah itu, rangkaian shalawat menggema memenuhi ruangan. Shalawat dibaca berulang-ulang sebagai ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW sekaligus memohon keberkahan atas seluruh perjalanan ruhani.
Barulah kemudian satu per satu nama Allah dipanggil melalui doa-doa yang singkat tetapi sarat makna.
Ya Qādiyal Hājāt, wahai Dzat Yang Maha Mengabulkan segala hajat.
Ya Kāfiyal Muhimmāt, wahai Dzat Yang Maha Mencukupi segala urusan.
Ya Rafī'ad Darajāt, wahai Dzat Yang Maha Meninggikan derajat.
Ya Dāfi'al Balīyyāt, wahai Dzat Yang Maha Menolak segala bala.
Ya Muḥillal Musykilāt, wahai Dzat Yang Maha Menghilangkan kesulitan.
Ya Mujībad Da'awāt, wahai Dzat Yang Maha Mengabulkan doa.
Ya Syāfiyal Amrāḍ, wahai Dzat Yang Maha Menyembuhkan penyakit.
Ya Arḥamar Rāḥimīn, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara seluruh yang mengasihi.
Di situlah seluruh kebutuhan manusia seperti dirangkum menjadi satu. Permohonan akan rezeki, kesehatan, kemudahan, perlindungan, dan kemuliaan dipersembahkan hanya kepada Allah.
Bacaan kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat yang menguatkan tawakal, Hasbunallāhu wa ni'mal wakīl—cukuplah Allah menjadi Penolong kami—serta Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh, pengakuan bahwa tiada daya dan kekuatan selain pertolongan Allah.
Pada bagian berikutnya, kitab bahkan meminta jamaah berhenti sejenak. Tidak ada bacaan yang dilantunkan. Yang ada hanyalah hati yang merendah di hadapan Allah, memohon ampunan, keselamatan, kesehatan, keteguhan iman, serta kemudahan rezeki tanpa sedikit pun merasa lebih baik daripada orang lain.
Perjalanan itu ditutup dengan doa yang menjadi inti seluruh jalan tasawuf:
"Ya Allah, Engkaulah tujuan hidupku dan keridaan-Mulah yang aku cari. Anugerahkanlah kepadaku cinta kepada-Mu dan makrifat kepada-Mu."
Kalimat itu seakan merangkum seluruh makna Khususiyah.
Bahwa seorang salik boleh datang membawa berbagai hajat dunia. Memohon kesehatan, rezeki, kebahagiaan keluarga, perlindungan dari segala mara bahaya, dan kemudahan hidup. Namun pada akhirnya, semua itu hanyalah jalan agar hati semakin mengenal Allah.
Di tengah dunia yang dipenuhi kecemasan, Khususiyah mengajarkan satu hal yang sederhana sekaligus mendalam: manusia boleh memiliki banyak harapan, tetapi hanya memiliki satu tempat bergantung.
Yaitu Allah SWT.
***
Posting Komentar untuk "Khususiyah, Saat Seorang Salik Menitipkan Hidupnya kepada Allah"