Malam Ahad Wage selalu menghadirkan suasana yang berbeda di Masjid Jami' Tegalsari, Ponorogo. Seusai salat Isya, jamaah berdatangan dari berbagai penjuru. Ada petani yang baru menyelesaikan pekerjaannya di sawah, pedagang yang menutup tokonya lebih awal, pegawai, santri, hingga anak-anak muda yang ingin belajar menata hati. Mereka duduk berjajar memenuhi ruang masjid, menanti dimulainya baiatan dan tausiyah Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah bersanad KH Imam Muhadi Bagbogo.
Di tengah keheningan yang hanya sesekali dipecahkan suara tasbih, Kiai Ali Barqul Abid memulai tausiyahnya dengan satu kalimat yang sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam.
"Istiqamah itu harus dipaksakan."
Kalimat itu seakan membalik cara berpikir yang selama ini hidup di tengah masyarakat. Banyak orang beranggapan bahwa ibadah baru layak dilakukan ketika hati telah ikhlas. Jika belum ikhlas, mereka memilih menunggu.
Kiai Ali justru mengajak jamaah memahami bahwa perjalanan menuju Allah tidak dimulai dari keikhlasan yang sempurna.
"Ibadah itu pada awalnya tidak serta-merta langsung ikhlas," tutur beliau.
Keikhlasan bukan syarat untuk memulai ibadah. Keikhlasan adalah buah dari ibadah yang terus dijaga.
Allah SWT berfirman,
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."
(QS. Al-'Ankabut: 69).
Ayat ini tidak berbicara tentang orang yang sudah sempurna. Allah memuji mereka yang mau bermujahadah, bersungguh-sungguh melawan rasa malas, hawa nafsu, dan keinginan untuk berhenti di tengah jalan.
Di situlah, menurut Kiai Ali, istiqamah harus dipaksakan.
Pesan itu kemudian dijelaskan melalui amalan yang paling dekat dengan kehidupan para jamaah, yakni zikir harian Thoriqoh Qodiriyah.
Setiap murid thariqah mengamalkan zikir Lā ilāha illallāh sebanyak 165 kali setiap selesai salat.
Namun, Kiai Ali mengingatkan agar jangan membayangkan seluruh hitungan itu sejak awal langsung dipenuhi kekhusyukan.
Pada hitungan-hitungan pertama, hati sering kali masih berat. Pikiran masih melayang kepada pekerjaan yang belum selesai, keluarga di rumah, urusan mencari nafkah, atau persoalan-persoalan lain yang memenuhi benak. Lisan memang melafalkan zikir, tetapi hati belum sepenuhnya hadir.
Perlahan, seiring hitungan berjalan, pikiran mulai mereda. Napas menjadi lebih tenang. Lafaz demi lafaz tidak lagi sekadar terdengar oleh telinga, tetapi mulai mengetuk ruang batin.
Bahkan, kata Kiai Ali, ada orang yang baru merasakan zikir itu benar-benar "nyantol" di hati ketika hitungannya hampir selesai.
"Jangan berkecil hati kalau pada awalnya masih grambyang," pesan beliau.
Yang diperintahkan kepada manusia bukan menghadirkan rasa, melainkan menghadirkan kesungguhan.
Teruslah membaca.
Teruslah mengulang.
Teruslah membiasakan diri.
Apakah hati akhirnya menjadi khusyuk, apakah keikhlasan benar-benar tumbuh, semuanya adalah karunia Allah yang diberikan kepada hamba yang tidak berhenti mengetuk pintu-Nya.
Karena itu, ketika zikir mulai terasa hidup dan hati mulai larut dalam mengingat Allah, Kiai Ali justru berpesan agar tidak terburu-buru mengakhirinya.
"Kalau sudah mulai nyantol di hati, lanjutkan. Nikmati zikir itu. Jangan berhenti."
Bagi para salik, pesan ini sangat bermakna. Dalam tasawuf, tujuan zikir bukan mengejar selesainya hitungan, melainkan menghadirkan hati di hadapan Allah. Hitungan hanyalah jalan, sedangkan hadirnya hati adalah anugerah.
Menurut Kiai Ali, istiqamah menjaga zikir bukan sekadar menjalankan rutinitas.
Ia merupakan bentuk menjaga janji.
Banyak orang mengira baiatan hanyalah berjabat tangan dengan guru.
Padahal, hakikat baiat adalah janji seorang hamba kepada Allah.
Guru hanyalah penyampai amanah yang menjaga mata rantai sanad. Sanad itu bersambung dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, diteruskan kepada para sahabat, para tabi'in, para ulama dan masyayikh, di antaranya Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan para masyayikh Thoriqoh Naqsyabandiyah, hingga akhirnya sampai kepada guru-guru yang hidup pada masa kini.
Karena itulah, menjaga wirid bukan semata-mata menghormati guru.
Ia adalah menjaga janji yang telah diikrarkan kepada Allah.
Untuk menggambarkan makna kepatuhan, Kiai Ali mengajak jamaah mengingat sebuah peristiwa besar dalam sejarah Islam.
Pada masa awal hijrah di Madinah, Rasulullah SAW dan para sahabat melaksanakan salat menghadap Baitul Maqdis. Arah itu telah menjadi kebiasaan selama sekitar enam belas atau tujuh belas bulan.
Kemudian Allah memerintahkan agar kiblat dipindahkan ke Masjidil Haram, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 144.
Yang menarik, para sahabat tidak memperdebatkan perubahan itu.
Mereka tidak bertanya mengapa harus berubah.
Mereka tidak menimbang untung ruginya.
Begitu perintah turun, mereka langsung berbalik arah.
Dalam pandangan tasawuf, kisah ini bukan sekadar perpindahan kiblat.
Ia adalah pelajaran tentang hakikat kepatuhan.
Seorang hamba tidak berjalan karena kebiasaan, melainkan karena perintah Allah.
Hari ini Allah memerintahkan ke satu arah, maka ke sanalah ia melangkah.
Esok Allah memerintahkan yang lain, maka ia pun mengikutinya.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu hijab terbesar dalam perjalanan ruhani adalah keterikatan manusia kepada kehendak dirinya sendiri. Ketika seseorang lebih mencintai kebiasaannya daripada perintah Allah, pada saat itulah hijab mulai menutupi hati.
Di hadapan jamaah yang baru berbaiat, Kiai Ali kemudian menguraikan makna kalimat Lā ilāha illallāh.
Menurut beliau, kalimat tauhid itu mengandung dua unsur utama, yaitu nafy dan itsbat.
"Lā ilāha" berarti meniadakan segala sesuatu selain Allah yang masih memenuhi hati.
Sedangkan "illallāh" berarti menetapkan hanya Allah sebagai tujuan hidup.
Dalam khazanah tasawuf, proses ini dikenal sebagai takhalli, tahalli, dan tajalli.
Takhalli adalah mengosongkan hati dari sifat-sifat yang dibenci Allah.
Kesombongan, iri hati, riya', ujub, dengki, cinta dunia yang berlebihan, amarah, dendam, dan kikir harus dibersihkan lebih dahulu.
Sebab hati yang penuh tidak akan mampu menerima cahaya.
Setelah ruang hati dibersihkan, barulah dilakukan tahalli, yaitu menghiasi hati dengan sifat-sifat yang dicintai Allah.
Tawaduk menggantikan kesombongan.
Ikhlas menggantikan riya'.
Syukur menggantikan keluhan.
Sabar menggantikan amarah.
Pemaaf menggantikan dendam.
Dermawan menggantikan kekikiran.
Cinta kepada Allah menggantikan kecintaan yang berlebihan kepada dunia.
Apabila proses itu terus dijaga dengan istiqamah, maka dengan izin Allah seorang hamba akan memperoleh tajalli, yakni tersingkapnya cahaya makrifat dan hadirnya ketenangan batin karena merasa selalu dekat dengan Allah.
Di situlah zikir menemukan maknanya.
Ia bukan sekadar bacaan yang berulang-ulang di lisan, melainkan proses membersihkan hati agar layak menjadi tempat bersemayamnya akhlak yang diridhai Allah.
Malam semakin larut.
Satu per satu jamaah meninggalkan Masjid Jami' Tegalsari. Di tangan mereka hanya ada tasbih. Namun yang sesungguhnya mereka bawa pulang bukanlah butiran-butiran itu.
Mereka membawa pulang sebuah pelajaran bahwa jalan menuju Allah tidak selalu dimulai dengan hati yang telah ikhlas.
Ia sering dimulai dengan langkah yang terasa berat.
Dengan lisan yang terus dipaksa berzikir.
Dengan hati yang berkali-kali berlari, lalu diajak kembali.
Dengan istiqamah yang dijaga, meski rasa belum selalu menyertai.
Hingga pada suatu saat, tanpa disadari, zikir itu tidak lagi sekadar keluar dari lisan.
Ia telah turun ke dalam hati.
Dan ketika hati telah sampai kepada Allah, seorang hamba akan memahami bahwa selama ini bukan dirinya yang berhasil menemukan keikhlasan.
Melainkan Allah yang, karena kasih sayang-Nya, menghadiahkan keikhlasan kepada hamba yang tidak pernah lelah mengetuk pintu-Nya.
Sebab, hati tidak pernah benar-benar tenang karena dunia. Ia akan menemukan ketenangan sejati ketika senantiasa mengingat Allah, Jelas Kiai Ali.
***
Posting Komentar untuk "Memaksa Hati agar Sampai kepada Allah, Pelajaran Istiqamah dari Baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Masjid Jami' Tegalsari, Ponorogo"