Menata Hati dengan Zikir: Pelajaran Baiatan Thoriqoh di Mushola Darus Muslikhin Kaligunting Mejayan

Selepas azan Zuhur berkumandang pada setiap Ahad Wage, suasana Mushola Darus Muslikin, Kaligunting, Mejayan, Kabupaten Madiun, perlahan berubah. Jamaah berdatangan dari berbagai penjuru. Ada petani, pedagang, guru, pegawai, hingga anak-anak muda. Mereka duduk bersaf, menanti dimulainya baiatan dan pengajian Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah bersanad KH Imam Muhadi Bagbogo.

Sejak tahun 2024, baiatan rutin ini dilaksanakan di mushola tersebut. Sebelumnya, para jamaah mengikuti baiatan di masjid pondok. Kini, justru sang kiai berkenan hadir mendatangi jamaah, menjadikan Mushola Darus Muslikin sebagai tempat bertemunya pencari ketenangan hati dari berbagai daerah.

Pada Ahad Wage itu, Kiai Ali Barqul Abid tidak hanya mengajarkan tata cara berzikir. Beliau mengajak jamaah memahami makna zikir sebagai jalan membangun kesadaran bahwa seluruh kehidupan berada dalam kuasa Allah.

Beliau menjelaskan bahwa dalam amalan Thoriqoh Qodiriyah, zikir Lā ilāha illallāh dibaca 165 kali ketika sendirian dan 100 kali ketika berjamaah. Setelah itu dilanjutkan dengan zikir Thoriqoh Naqsyabandiyah, yaitu melafalkan Allah... Allah... secara sirr—dalam diam, di dalam hati—dengan menghadirkan kesadaran pada lathifah, pusat-pusat kesadaran ruhani dalam tradisi tasawuf.

Setiap lathifah dibaca seratus kali atau setara dua putaran tasbih kecil.

"Hitungan lahir dan hitungan batin itu berbeda," terang Kiai Ali.

Kalimat singkat itu mengandung makna yang dalam. Dalam tasawuf, yang diutamakan bukan sekadar banyaknya bacaan, melainkan hadirnya hati ketika menyebut nama Allah.

Allah berfirman,

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).

Ayat ini menjadi fondasi seluruh perjalanan zikir. Ketenteraman hati bukan lahir dari banyaknya harta, jabatan, ataupun pujian manusia, melainkan dari hati yang senantiasa terhubung dengan Sang Pencipta.

Di tengah penjelasan, seorang jamaah bertanya, "Bagaimana jika tidak membawa tasbih?"

Kiai Ali menjawab dengan sederhana.

Beliau menyarankan menggunakan gerakan jari telunjuk sebagai penanda hitungan. Rasakan setiap gerakannya hingga seolah menarik kesadaran menuju lathifah.

Tasbih hanyalah alat. Yang terpenting adalah hati tetap terjaga dalam zikir.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan berdzikir dengan menghitung menggunakan jari-jari, karena kelak jari-jari itu akan menjadi saksi atas amal yang dilakukan.

Kiai Ali kemudian menekankan pentingnya istiqamah.

Amalan harian, menurut beliau, tidak boleh sengaja ditinggalkan. Kalaupun karena keadaan darurat atau ada kepentingan yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan, maka amalan itu menjadi utang yang wajib dibayar.

Namun beliau mengingatkan agar jangan pernah sejak awal berniat meninggalkan amalan dengan alasan nanti akan diganti ketika ada waktu luang.

Sambil tersenyum beliau berkata dalam bahasa Jawa,

"Menungso niku enteng saat utang, lan abot saat nyaur. Mboten beda tebih kalih utang piutang arto."

Manusia mudah ketika berutang, tetapi berat ketika harus melunasinya. Tidak jauh berbeda dengan utang uang.

Ucapan itu membuat jamaah tersenyum. Akan tetapi, di balik gurauan tersebut tersimpan pelajaran penting bahwa ibadah yang ditunda sering kali berakhir tidak dikerjakan.

Nasihat itu sejalan dengan sabda Rasulullah SAW,

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara terus-menerus meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim).

Istiqamah lebih bernilai daripada semangat yang hanya sesaat.

Pertanyaan lain pun muncul.

"Mengapa harus memakai tasbih?"

Kiai Ali menjawab dengan kalimat yang sangat membumi.

"Kersane sekeco. Awake dewe sebagai manusia butuh Gusti Allah, sementara Gusti Allah mboten butuh menungsa."

Tasbih hanyalah ikhtiar agar manusia lebih mudah mengingat Allah. Bukan Allah yang membutuhkan tasbih itu, melainkan manusialah yang membutuhkan sarana agar tidak lalai.

Jawaban tersebut mengingatkan pada kisah sufi besar Imam Junaid al-Baghdadi. Ketika beliau ditanya mengapa masih membawa tasbih, padahal dikenal telah mencapai kedalaman makrifat, beliau menjawab bahwa dirinya tidak ingin meninggalkan sesuatu yang dahulu menjadi jalan mendekatkannya kepada Allah. Alat bukanlah tujuan, tetapi sering kali menjadi penolong menuju tujuan.

Di penghujung tausiyah, Kiai Ali mengajak jamaah merenungkan kebiasaan manusia.

"Manusia itu lucu," kata beliau.

Yang sudah dijamin Allah justru dikejar mati-matian. Sebaliknya, yang diperintahkan Allah sering kali dilalaikan.

Padahal Allah telah berfirman,

"Dan tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya." (QS. Hud: 6).

Rezeki memang harus diikhtiarkan. Islam tidak mengajarkan kemalasan. Namun mengejar rezeki hingga melalaikan salat, zikir, dan ibadah adalah kekeliruan yang berawal dari hati yang belum sepenuhnya percaya kepada janji Allah.

Menurut Kiai Ali, rasa takut berlebihan terhadap masa depan, kecemasan yang terus-menerus, dan waswas terhadap rezeki merupakan bagian dari penyakit hati.

Karena itulah zikir menjadi latihan untuk membangun kesadaran bahwa semua terjadi atas kehendak Allah.

Allah yang menggerakkan.

Allah yang memberi kemampuan.

Allah yang membuka jalan.

Adapun tugas manusia adalah beribadah, berikhtiar, berdoa, bertawakal, lalu kembali berikhtiar. Demikianlah siklus kehidupan seorang hamba.

Tasawuf tidak mengajarkan meninggalkan dunia. Tasawuf justru mengajarkan agar dunia tidak menguasai hati.

Baiatan yang rutin dilaksanakan setiap Ahad Wage ba'da Zuhur hingga menjelang Asar di Mushola Darus Muslikin menjadi ruang bagi siapa saja yang ingin belajar menata batin. Di tengah kehidupan yang serba cepat, majelis sederhana itu mengingatkan bahwa ketenangan tidak selalu ditemukan dengan menambah apa yang dimiliki, tetapi dengan memperbaiki hubungan dengan Allah.

Sebab pada akhirnya, sebagaimana inti seluruh ajaran zikir, hati yang paling kaya bukanlah hati yang dipenuhi dunia, melainkan hati yang selalu mengingat Tuhannya.

***

Posting Komentar untuk "Menata Hati dengan Zikir: Pelajaran Baiatan Thoriqoh di Mushola Darus Muslikhin Kaligunting Mejayan "