Di sebuah mushala sederhana di Dusun Gadel, Sidorejo, Sukorejo, Ponorogo, puluhan jamaah duduk bersila mengikuti Baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo. Tidak ada pembahasan tentang karamah atau pengalaman-pengalaman spiritual yang luar biasa. Kiai Ali Barqul Abid justru mengajak jamaah menengok sesuatu yang paling dekat, tetapi paling sering diabaikan: hati manusia.
Menurut beliau, salah satu penyakit hati yang paling sulit disadari adalah ketika seseorang merasa dirinya benar, bahkan merasa paling benar. Ada pula yang merasa lebih saleh, lebih berilmu, lebih berjasa, atau lebih mulia daripada orang lain. Dalam bahasa yang sederhana, Kiai Ali menyebut keadaan itu sebagai "hiper"—keadaan ketika ego berkembang melampaui batas sehingga seseorang tidak lagi mampu menerima bahwa orang lain pun bisa memiliki kebenaran, kelebihan, dan kemuliaan yang dianugerahkan Allah.
Ketika hati telah dikuasai rasa "paling", nasihat menjadi sulit diterima. Kritik dianggap serangan. Perbedaan dipandang sebagai ancaman. Yang dipertahankan bukan lagi kebenaran, melainkan gengsi dan harga diri.
Dalam pandangan tasawuf, di situlah awal rusaknya hati.
Kiai Ali menjelaskan bahwa penyakit seperti ujub, riya', takabur, dan berbagai hijab hati tidak muncul secara tiba-tiba. Semuanya berawal dari ketidakmampuan seseorang melihat kekurangan dirinya sendiri. Hati yang semula jernih perlahan tertutup oleh lapisan-lapisan ego hingga cahaya petunjuk Allah sulit menembusnya.
Penyakit ini bukanlah persoalan baru. Sejak awal sejarah manusia, Al-Qur'an telah mengabadikannya. Ketika Allah memerintahkan Iblis bersujud kepada Nabi Adam, yang menghalangi bukanlah kurangnya pengetahuan, melainkan kesombongan. Iblis merasa dirinya lebih baik karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Kalimat "Aku lebih baik darinya" menjadi pangkal kebinasaannya.
Demikian pula Fir'aun. Al-Qur'an menjelaskan bahwa ia dan para pengikutnya menolak ayat-ayat Allah, padahal hati mereka sebenarnya mengakui kebenarannya. Penolakan itu lahir karena kezaliman dan kesombongan. Dalam pandangan tasawuf, inilah ketika hawa nafsu menjadi hijab yang menutupi hati sehingga seseorang tidak lagi mampu menerima kebenaran.
Karena itu, menurut Kiai Ali, orang yang dikuasai hawa nafsu sering kali merasa terusik oleh kehadiran orang-orang yang istiqamah dalam kebenaran. Bukan karena orang saleh itu menyerangnya, tetapi karena kehadiran mereka menjadi cermin yang memperlihatkan kekurangan yang selama ini ingin disembunyikan oleh ego.
Yang merasa terancam sesungguhnya bukan jiwanya, melainkan kesombongannya.
Fenomena itu berulang dalam perjalanan para nabi. Nabi Nuh ditertawakan, Nabi Ibrahim ditentang, Nabi Musa dimusuhi Fir'aun, dan Nabi Muhammad SAW dihadang oleh para pembesar Quraisy. Penolakan itu bukan semata-mata terhadap ajaran yang mereka bawa, tetapi juga karena para pemimpin saat itu khawatir kehilangan kedudukan, pengaruh, dan kehormatan yang selama ini mereka nikmati.
Begitulah cara kerja hawa nafsu. Ia membuat manusia lebih sibuk mempertahankan citra daripada mencari kebenaran.
Pesan serupa telah lama diingatkan oleh para ulama tasawuf. Ibnu 'Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam menulis bahwa maksiat yang melahirkan penyesalan bisa lebih dekat kepada rahmat Allah daripada ketaatan yang melahirkan kesombongan. Yang menjadi persoalan bukan semata-mata dosa atau amal, melainkan keadaan hati ketika menjalankannya.
Syekh Abdul Qadir al-Jilani juga berulang kali mengingatkan agar seorang murid tidak terpukau oleh amalnya sendiri. Sebab ketika seseorang mulai mengagumi dirinya, saat itu pula pintu ujub mulai terbuka.
Di sinilah, menurut Kiai Ali, letak hakikat perjalanan seorang salik. Dzikir dalam Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah bukan sekadar menggerakkan lisan dengan menyebut nama Allah. Dzikir adalah latihan panjang untuk mematahkan ego. Semakin banyak berdzikir, seharusnya semakin mudah menerima nasihat, semakin lapang mengakui kelebihan orang lain, dan semakin sadar bahwa seluruh kebaikan hanyalah karunia Allah.
Karena itu seorang salik tidak sibuk mencari siapa yang batil. Ia lebih sibuk memastikan agar sifat-sifat kebatilan tidak tumbuh di dalam dirinya sendiri.
Setiap hari ia bertanya kepada hatinya sendiri: Apakah hari ini aku lebih rendah hati daripada kemarin? Apakah aku lebih mudah menerima kebenaran meskipun datang dari orang yang lebih muda, lebih miskin, atau berbeda pandangan denganku?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang menjadi ukuran perjalanan ruhani.
Di akhir tausiyahnya, Kiai Ali mengingatkan bahwa perjuangan terbesar bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan menundukkan hawa nafsu yang terus membisikkan, "Engkau lebih baik, engkau lebih benar."
Sebab ketika rasa "paling" mulai tumbuh, saat itulah hijab mulai menutupi hati. Namun ketika seseorang mampu mengakui kekurangan dirinya dan lapang menerima kebenaran dari siapa pun datangnya, pada saat itulah jalan menuju Allah mulai terbuka.
Di tengah zaman ketika setiap orang mudah mengklaim dirinya paling tahu dan paling benar, pesan sederhana itu terasa semakin relevan. Jalan tasawuf bukanlah perjalanan untuk menjadi lebih tinggi daripada orang lain, melainkan perjalanan untuk semakin kecil di hadapan Allah. Sebab hati yang paling dekat kepada-Nya bukanlah hati yang merasa paling benar, melainkan hati yang paling mudah menerima kebenaran.
***
Posting Komentar untuk "Merasa Paling Benar, Awal Rusaknya Hati"