Suluk, Perjalanan Menata Hati yang Tak Pernah Usai

Catatan dari Tausiyah Kiai Ali Barqul Abid pada Baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Puyut, Plalangan, Jenangan, Ponorogo

Di tengah masyarakat, kata suluk kerap dipahami sebagai ritual menyendiri di masjid atau pesantren selama beberapa hari, dipenuhi wirid dan dzikir. Padahal, menurut Kiai Ali Barqul Abid, pemahaman itu baru menyentuh kulitnya. Hakikat suluk jauh lebih luas, lebih dalam, sekaligus lebih berat.

"Suluk adalah perjuangan menjadi lebih baik. Perjuangan membersihkan hati dari segala sesuatu yang mengotorinya."

Kalimat itu membuka tausiyah beliau di hadapan jamaah Baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Puyut, Plalangan, Jenangan, Ponorogo. Tidak ada pembahasan tentang karamah atau pengalaman-pengalaman spiritual yang spektakuler. Yang dibicarakan justru sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari: hati.

Menurut beliau, hati manusia ibarat cermin. Semakin bersih cermin itu, semakin jelas cahaya petunjuk Allah memantul di dalamnya. Sebaliknya, ketika dipenuhi debu kesombongan, iri hati, riya', ujub, cinta kedudukan, dan syahwat dunia, cahaya itu menjadi redup bahkan tertutup sama sekali.

Di situlah suluk menemukan maknanya. Bukan sekadar memperbanyak bacaan dzikir, tetapi menata batin agar perlahan bersih dari penyakit-penyakit hati.

Kiai Ali kemudian menjelaskan tentang salik, sebutan bagi orang yang menempuh jalan suluk. Menurut beliau, salik bukanlah gelar kehormatan, bukan pula identitas yang layak dibanggakan. Salik adalah seseorang yang sedang berjalan. Ia sadar bahwa dirinya belum sampai kepada tujuan.

Kesadaran itulah yang membuat seorang salik tidak pernah merasa paling suci, paling benar, atau paling dekat dengan Allah. Sebaliknya, ia justru semakin banyak melihat kekurangan dirinya sendiri.

Pemahaman itu sejalan dengan tradisi tasawuf yang memaknai suluk sebagai perjalanan spiritual menuju Allah melalui penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan pembinaan akhlak. Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa perjalanan itu ditempuh dengan meninggalkan sifat-sifat tercela (takhalli), menghiasi diri dengan akhlak mulia (tahalli), hingga hati dipenuhi cahaya kedekatan kepada Allah (tajalli).

Karena itu, suluk sesungguhnya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Ia tidak hanya berlangsung ketika seseorang berada di tempat khalwat. Suluk justru dimulai ketika seseorang kembali ke tengah keluarga, masyarakat, dan pekerjaannya, lalu mampu menjaga lisan, mengendalikan amarah, menahan ego, serta tetap mengingat Allah dalam setiap aktivitas.

Dalam pandangan Kiai Ali, ukuran keberhasilan suluk bukan banyaknya wirid yang dibaca ataupun lamanya seseorang mengikuti tarekat. Ukurannya jauh lebih sederhana, tetapi juga jauh lebih sulit: apakah akhlaknya berubah.

Apakah ia lebih sabar ketika dihina. Lebih ikhlas ketika tidak dihargai. Lebih mudah memaafkan. Lebih sedikit mengeluh. Lebih mampu menahan keinginan untuk dipuji dan diakui.

Di sinilah perjuangan seorang salik sebenarnya berlangsung. Perjuangan yang tidak pernah selesai selama hayat masih dikandung badan.

Sebab musuh terbesar bukan berada di luar diri, melainkan di dalam hati sendiri. Hawa nafsu yang terus mengajak manusia mengejar pujian, kedudukan, dan merasa lebih baik daripada orang lain.

Oleh karena itu, dzikir dalam Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, sebagaimana dijelaskan Kiai Ali, bukan sekadar amalan lisan. Dzikir adalah latihan ruhani agar hati selalu ingat kepada Allah sehingga hawa nafsu tidak lagi menjadi penguasa.

Baiat, pada akhirnya, bukan garis akhir sebuah perjalanan. Ia justru merupakan langkah pertama. Setelah baiat, perjuangan yang sesungguhnya dimulai: menjaga hati tetap hidup, membersihkannya setiap hari, dan terus berjalan sebagai seorang salik menuju ridha Allah.

Perjalanan itu mungkin tidak pernah selesai selama manusia masih bernapas. Namun justru di situlah letak keindahannya. Seorang salik tidak mengejar predikat telah sampai. Ia hanya berharap, ketika perjalanan hidupnya berakhir, Allah menerimanya sebagai hamba yang tidak pernah berhenti memperbaiki diri.

"Barang siapa berjalan di atas suluk maka, Setiap hembusan nafasnya adalah doa. Setiap diamnya adalah tafakur (berpikir), dan Setiap tangisnya adalah penyucian jiwa."

(Kiai Ali Barqul Abid)

***

Posting Komentar untuk "Suluk, Perjalanan Menata Hati yang Tak Pernah Usai"