Di Antara Dzikir dan Tawa, Pesan untuk Tetap Eling

Matahari mulai condong ke barat. Cahaya siang yang hangat menerobos jendela-jendela Masjid Hayaatul Islam, Koripan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Waktu beranjak dari Dhuhur menuju Asar. Di dalam masjid, para jamaah duduk bersila memenuhi saf. Sebagian memejamkan mata, sebagian lagi menundukkan kepala mengikuti lantunan dzikir yang bergema pelan. Suasana hening, teduh, sekaligus khusyuk.

Tak lama kemudian, gema dzikir Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo memenuhi ruang masjid. Kalimat-kalimat tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar mengalun serempak, menghadirkan ketenangan yang menyatukan ratusan hati dalam satu tujuan: mengingat Allah.

Saat menyampaikan tausiyah, Kiai Khosin mengawali dengan ungkapan syukur dan terima kasih kepada seluruh jamaah yang telah meluangkan waktu menghadiri majelis. Beliau juga menyampaikan penghargaan atas semua bentuk sumbangsih, baik materiil maupun nonmateriil, yang selama ini menghidupkan Masjid Hayaatul Islam.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada jamaah, beliau menyampaikan bahwa dana jariyah yang terkumpul sepanjang tahun 2024 telah diwujudkan dalam pembangunan serambi jamaah putri di sisi utara masjid.

"Semoga menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir," tutur beliau.

Pandangan Kiai Khosin kemudian seakan menembus puluhan tahun ke belakang. Ingatannya kembali ke masa ketika menjadi santri di Pondok Pesantren Manba'ul 'Adhim, Bagbogo, Tanjunganom, Nganjuk, asuhan KH Imam Muhadi.

Kala itu, kenangnya, pondok masih sangat sederhana. Mushala tempat para santri mengaji hanya berdinding gedek dengan fasilitas yang serba terbatas. Namun, dari tempat yang sederhana itulah lahir keteguhan, keikhlasan, dan semangat perjuangan.

Beliau juga mengenang masa-masa sulit pasca-1965. Di tengah keadaan yang penuh tantangan, KH Imam Muhadi tetap istiqamah membimbing umat. Dari gurunya itulah beliau menerima ijazah dan amanah untuk ikut melanjutkan perjuangan melalui jalan thariqah.

Di tengah tausiyah, Kiai Khosin menyampaikan pesan yang membuat jamaah terdiam.

"Orang berguru itu, yang selamat ya selamat, yang celaka ya celaka. Tergantung kesungguhan muridnya."

Bagi beliau, guru menunjukkan jalan menuju Allah, sedangkan muridlah yang menentukan apakah akan menempuh jalan itu dengan sungguh-sungguh atau berhenti di tengah perjalanan.

Memasuki inti tausiyah, Kiai Khosin mengajak jamaah merenungkan kandungan Surah Al-Isra. Menurut beliau, manusia memiliki tabiat eling lan lali—mudah ingat, tetapi juga mudah lupa. Karena itulah Allah mempertemukan hamba-hamba-Nya dalam majelis ilmu dan dzikir.

"Tujuan kita bertemu ini supaya eling. Kalau selesai majelis kita lebih ingat kepada Allah, berarti pertemuan ini membawa manfaat."

Beliau menjelaskan bahwa Surah Al-Isra mengajarkan manusia untuk meneguhkan tauhid sebagai fondasi kehidupan. Dari keyakinan kepada Allah lahir akhlak mulia: berbakti kepada orang tua, menjaga lisan, menjauhi kesombongan, berlaku adil, dan tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu. Semua itu hanya dapat dijaga apabila hati senantiasa hidup dengan dzikir.

Karena itu, beliau berpesan agar jamaah tidak memperdebatkan cara berdzikir.

"Dzikir secara jahar diterima Allah, dzikir secara sirr juga diterima Allah. Yang paling penting adalah hati yang terus ingat kepada Allah."

Menjelang akhir tausiyah, suasana yang khusyuk berubah menjadi hangat.

Kiai Khosin menyampaikan permohonan maaf kepada Kiai Ali Barqul Abid karena tidak dapat sowan saat haul beberapa waktu lalu. Beliau mendapat ujian sakit hingga harus menjalani operasi.

Dengan rendah hati beliau menambahkan bahwa pendengarannya kini jauh berkurang.

"Kalau tidak mendekat, saya sudah tidak mendengar."

Seketika Kiai Ali Barqul Abid tersenyum, lalu berseloroh, "Alhamdulillah... malah tidak mendengar kejelekan orang lain, Kiai."

Ucapan itu langsung disambut tawa lepas Kiai Khosin. Jamaah pun ikut tersenyum. Candaan ringan itu seolah menjadi penegas bahwa telinga yang tidak dipenuhi gunjingan justru lebih lapang untuk mendengar nasihat dan kalam Allah.

Ketika matahari semakin condong ke barat dan waktu Asar kian mendekat, jamaah satu per satu bersalaman sebelum meninggalkan masjid. Mereka pulang membawa lebih dari sekadar rangkaian bacaan dzikir. Mereka membawa pulang jejak perjuangan dari sebuah mushala berdinding bambu, pesan tentang adab kepada guru, serta pengingat bahwa manusia memang mudah lali, sehingga membutuhkan majelis yang terus mengajaknya kembali eling kepada Allah.

***

Posting Komentar untuk "Di Antara Dzikir dan Tawa, Pesan untuk Tetap Eling"