Menaklukkan Hawa Nafsu: Perjuangan yang Tak Pernah Usai


Taushyiah Kiai Ali Barqul Abid pada Baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid At-Taqwa, Ngunut, Babadan, Ponorogo

"Bukan musuh di luar diri yang paling berbahaya. Musuh terbesar manusia justru berada di dalam dirinya sendiri, yaitu hawa nafsu."

Pesan itulah yang menjadi benang merah taushyiah Kiai Ali Barqul Abid dalam rangkaian Baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid At-Taqwa, Ngunut, Babadan, Ponorogo.

Menurut beliau, peperangan melawan hawa nafsu merupakan jihad yang tidak pernah selesai selama manusia masih bernapas. Jika peperangan melawan musuh di medan laga memiliki akhir, maka peperangan melawan nafsu baru berhenti ketika ajal menjemput.

Hawa nafsu, jelas beliau, memiliki banyak wajah. Ia tidak selalu tampil dalam bentuk maksiat yang kasat mata. Sering kali ia bersembunyi di balik sesuatu yang dianggap mulia: keinginan memperoleh jabatan, mengejar kedudukan, mencari penghormatan, hingga keinginan agar dianggap paling benar dan paling berilmu.

Nafsu selalu mengajak manusia untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Dengan berbagai cara seseorang berusaha menggapai kedudukan, seolah-olah jabatan menjadi jaminan kemuliaan. Padahal di sisi Allah, kemuliaan bukan ditentukan oleh posisi duniawi, melainkan oleh ketakwaan.

Ilmu pun, lanjut beliau, belum tentu mampu menyelamatkan seseorang apabila tidak disertai ketakwaan. Sebab ilmu dapat berubah menjadi alat untuk mempertontonkan kepandaian, memenangkan perdebatan, atau mencari pengakuan. Seseorang bisa mengetahui banyak dalil, tetapi justru semakin jauh dari sifat tawaduk.

Para ulama tasawuf menyebut penyakit ini sebagai hubb al-jah, yaitu cinta kepada popularitas, kedudukan, dan sanjungan manusia. Penyakit yang halus, tetapi sangat sulit disadari. Orang ingin selalu tampil di depan, ingin dipakai, ingin disebut, ingin dihormati, bahkan merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.

Kiai Ali mengingatkan, usia yang semakin tua ataupun ilmu yang semakin tinggi bukanlah jaminan seseorang terbebas dari godaan hawa nafsu. Karena itu seorang mukmin harus terus waspada, terus melakukan muhasabah, dan jangan pernah merasa telah selesai memperbaiki diri.

Beliau kemudian mengisahkan teladan para ulama salaf. Diceritakan bahwa Imam Abu Hanifah pernah dianugerahi Allah kemampuan mukasyafah, yaitu kemampuan melihat sebagian keadaan batin manusia. Namun beliau justru berdoa agar karunia tersebut dicabut. Bukan karena tidak bersyukur, melainkan karena khawatir lebih sibuk melihat kekurangan orang lain daripada memperbaiki kekurangan dirinya sendiri.

Beliau lebih memilih diberi kemampuan melihat aib dan kelemahan dirinya sendiri. Sebab mengenali kekurangan diri adalah pintu menuju keikhlasan, sedangkan sibuk melihat kesalahan orang lain sering kali melahirkan prasangka buruk (su'uzan) dan kesombongan yang tidak disadari.

Para sufi sejak dahulu telah mengingatkan bahwa sumber banyak kemaksiatan bukan semata-mata mengikuti hawa nafsu, tetapi merasa ridha terhadap hawa nafsunya sendiri. Merasa dirinya sudah baik, sudah benar, dan tidak lagi membutuhkan nasihat. Inilah penyakit hati yang paling berbahaya.

Imam Al-Ghazali pernah menjelaskan bahwa nafsu laksana api yang tidak pernah merasa cukup. Semakin dituruti, semakin besar keinginannya. Sebaliknya, ketika dilatih dengan mujahadah, ia perlahan tunduk kepada petunjuk Allah.

Karena itulah dalam Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, amalan dzikir bukan sekadar menggerakkan lisan atau menghitung wirid. Dzikir menjadi latihan ruhani untuk melembutkan hati, membersihkan sifat ujub, riya', sombong, cinta dunia, dan menundukkan hawa nafsu agar hati senantiasa mengingat Allah.

Seseorang yang rajin berdzikir seharusnya semakin rendah hati, bukan semakin merasa memiliki kelebihan dibanding orang lain. Jika justru merasa paling suci, paling benar, atau mudah merendahkan sesama, maka yang tumbuh bukan cahaya dzikir, melainkan tipu daya hawa nafsu.

Di penghujung taushyiahnya, Kiai Ali mengajak seluruh jamaah agar tidak pernah berhenti berjuang melawan diri sendiri. Sebab kemenangan terbesar bukanlah ketika mampu mengalahkan orang lain, melainkan ketika mampu mengalahkan hawa nafsu yang ada di dalam diri.

Itulah perjuangan yang akan terus berlangsung hingga akhir hayat. Dan semoga melalui dzikir, bimbingan para mursyid, serta keistiqamahan dalam thariqah, Allah SWT menganugerahkan hati yang bersih, nafsu yang tunduk, dan akhir kehidupan yang husnul khatimah.

***

Posting Komentar untuk "Menaklukkan Hawa Nafsu: Perjuangan yang Tak Pernah Usai"