"Syukur itu bukan hanya mengucapkan alhamdulillah, tetapi menyadari nikmat yang Allah berikan dan menggunakannya untuk semakin dekat kepada-Nya."
Pesan itu menjadi pembuka tausiyah Kiai Hasan Ali dalam rangkaian Baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Aswaja, Takeran, Magetan.
Dengan bahasa yang sederhana, Kiai Hasan Ali mengibaratkan syukur sebagai "matur nuwun" kepada Allah. Menurut beliau, ada empat nikmat besar yang patut senantiasa disyukuri, yaitu dijadikan seorang muslim, tetap diberi iman, dipanjangkan umur, dan diparingi kenal guru. Nikmat terakhir, menurut beliau, merupakan karunia yang tidak semua orang mendapatkannya.
Dalam tausiyahnya, Kiai Hasan Ali kemudian menguraikan sejarah sanad kemursyidan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang menjadi pegangan jamaah. Beliau menjelaskan bahwa KH Imam Muhadi Bagbogo memperoleh pengangkatan sebagai mursyid dari KH Musta'in Romly, yang sanad keilmuannya bersambung kepada ayahnya, KH Romli Tamim. Rangkaian sanad tersebut diteruskan kepada para masyayikh hingga sampai kepada Syekh Kholil Bangkalan, Syekh Ahmad Khatib Sambas, para guru thariqah sebelumnya, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, kemudian bersambung kepada Rasulullah SAW melalui Malaikat Jibril atas izin Allah SWT.
Beliau juga mengisahkan bahwa KH Imam Muhadi pernah ditugaskan untuk menyempurnakan tahapan tertentu kepada KH Muslih Abdul Rahman, Mranggen, sehingga mata rantai sanad tetap terjaga sesuai adab dan ketentuan yang diwariskan para guru.
Lalu, apa pentingnya memiliki mursyid?
Menurut Kiai Hasan Ali, dzikir yang diajarkan melalui jalur mursyid bukan sekadar rangkaian bacaan, melainkan amalan yang diterima melalui sanad yang bersambung tanpa terputus. Beliau mengibaratkannya seperti aliran listrik dari pembangkit hingga ke rumah.
"Kalau satu sambungan saja terputus, lampu tidak akan menyala."
Lampu dalam perumpamaan tersebut adalah hati manusia. Dzikir yang dibimbing oleh mursyid diibaratkan sebagai aliran listrik yang terus tersambung dari sumbernya, sehingga mampu menerangi hati dan membimbing seorang salik dalam perjalanan mendekat kepada Allah SWT.
Setelah tausiyah, acara dilanjutkan dengan Baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang dipimpin oleh Kiai Ali Barqul Abid sebagai mursyid penerus sanad KH Imam Muhadi Bagbogo.
Dalam tradisi Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, baiat merupakan ikrar seorang murid untuk menempuh jalan penyucian jiwa di bawah bimbingan mursyid. Pada baiat Qodiriyah, penekanan diberikan pada komitmen menjalankan dzikir jahr (dengan suara) sesuai tuntunan guru. Sementara pada baiat Naqsyabandiyah, penekanannya adalah dzikir khafi (dzikir dalam hati), muraqabah, serta menjaga kehadiran hati kepada Allah dalam setiap keadaan. Seluruh amalan diberikan secara bertahap sesuai bimbingan mursyid, sehingga setiap murid memiliki pegangan yang jelas dalam beribadah.
Kegiatan baiatan di Masjid Aswaja, Takeran, Magetan dilaksanakan secara rutin setiap Ahad Pon atau sekali dalam satu siklus pasaran Jawa, yakni setiap 35 hari. Selain menjadi momentum pembaiatan bagi jamaah baru, kegiatan tersebut juga menjadi ajang mempererat silaturahmi, memperdalam pemahaman keagamaan, dan menjaga kesinambungan sanad keilmuan yang telah diwariskan para ulama dari generasi ke generasi.
***
Posting Komentar untuk "Menjaga Cahaya Sanad, Merawat Cahaya Hati"