Kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah menjadi pokok taujiah Kiai Ali Barqul Abid dalam baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi Bagbogo, Tanjunganom, Nganjuk, yang berlangsung di Mushola Banggel, Kecamatan Slahung, Ponorogo. Majelis yang rutin diselenggarakan setiap Senen Legi bakda Zuhur tersebut dihadiri para jamaah yang sebagian besar merupakan kalangan orang tua dan mayoritas berprofesi sebagai petani.
Banyak di antara mereka merupakan jamaah yang telah mengikuti pembinaan sejak masa KH Imam Muhadi. Suasana pedesaan yang sederhana dan akrab masih sangat terasa dalam majelis tersebut. Pada kesempatan kali ini, sebagian jamaah berhalangan hadir karena bertepatan dengan bulan yang oleh masyarakat Slahung dipandang sebagai waktu yang baik untuk menggelar berbagai hajatan, sehingga banyak yang meminta izin tidak dapat mengikuti baiatan.
Dalam taujiahnya, Kiai Ali Barqul Abid mengajak para jamaah untuk senantiasa mensyukuri segala fadhal dan karunia Allah. Menurut beliau, seorang hamba harus terus menanamkan dalam dirinya bahwa semua yang dimiliki dan diperoleh semata-mata karena Allah, bukan karena kemampuan, kepandaian, ataupun kekuatan dirinya sendiri.
“Semua karena Allah. Bukan karena kita mampu, bukan karena kita pandai, tetapi karena kasih sayang dan ridha Allah,” demikian pesan yang disampaikan kepada para jamaah.
Beliau menekankan bahwa kesadaran tersebut akan menempatkan manusia pada kedudukannya yang benar sebagai hamba. Dengan menyadari bahwa segala sesuatu merupakan pemberian Allah, seseorang akan memahami apa yang menjadi tugas seorang hamba dan tidak memasuki wilayah yang merupakan hak serta kewenangan Allah. Manusia berkewajiban untuk beribadah, berikhtiar, dan memperbaiki diri, sedangkan hasil dan segala ketentuan akhir sepenuhnya berada dalam kehendak-Nya.
Pesan Kiai Ali tersebut sejalan dengan ajaran yang terkandung dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari. Dalam pandangan para ulama yang mensyarahkan kitab tersebut, syukur tidak hanya berupa ucapan, tetapi merupakan sikap menyeluruh yang tampak dalam hati, lisan, dan perbuatan.
Syukur dengan hati diwujudkan dengan menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah semata, bukan semata-mata karena kemampuan ataupun usaha diri sendiri. Hati dipenuhi rasa rendah diri, cinta, serta pengakuan terhadap karunia-Nya. Dari kesadaran inilah lahir penghambaan yang tulus dan terhindar dari sifat ujub maupun merasa memiliki jasa atas berbagai keberhasilan yang diraih, jelas Kiai Ali.
Syukur dengan lisan diwujudkan melalui pujian kepada Allah, memperbanyak ucapan Alhamdulillah, serta menyebut nikmat-Nya dengan tujuan mengagungkan Sang Pemberi nikmat, bukan untuk membanggakan diri di hadapan manusia.
Adapun syukur dengan anggota badan diwujudkan dengan menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang diridhai Allah. Ilmu dipergunakan untuk mengajar dan memberi manfaat, harta digunakan untuk berbagi kepada sesama, tenaga dimanfaatkan untuk membantu orang lain, dan waktu digunakan untuk beribadah serta melakukan amal kebaikan.
Selain itu, para ulama tasawuf juga menjelaskan adanya syukur atas nikmat lahir, seperti kesehatan, rezeki, keluarga, dan berbagai kemudahan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Namun, mereka memandang nikmat batin memiliki kedudukan yang lebih tinggi, yakni nikmat berupa iman, hidayah, ma'rifat, serta kemampuan untuk taat kepada Allah. Sebab, tidak semua orang memperoleh karunia untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.
Karena itu, hakikat syukur menurut Kiai Ali bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah, melainkan mengakui nikmat dengan hati, memujinya dengan lisan, dan memanfaatkannya dalam ketaatan kepada Allah. Salah satu makna yang sejalan dengan ajaran Al-Hikam adalah bahwa syukur yang sejati ialah tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya, papar Kiai Ali.
Semakin seorang hamba menyadari bahwa seluruh kebaikan berasal dari Allah, semakin ia mengenal kelemahan dirinya dan semakin memahami hakikat penghambaan. Dari kesadaran itu lahir kerendahan hati, ketundukan, dan ketenangan jiwa. Seseorang tidak lagi sibuk membanggakan dirinya, melainkan lebih banyak memandang kepada Sang Pemberi nikmat.
Majelis baiatan yang secara istiqamah digelar setiap Senen Legi bakda Zuhur di Mushola Banggel tersebut menjadi salah satu sarana menjaga kesinambungan sanad dan ajaran Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah peninggalan KH Imam Muhadi. Di tengah kehidupan masyarakat pedesaan yang sederhana, para jamaah terus memelihara tradisi dzikir dan pembinaan ruhani, sembari menanamkan keyakinan bahwa segala sesuatu pada hakikatnya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
***
Posting Komentar untuk "Syukur Menjadi Pokok Taujiah Kiai Ali Barqul Abid dalam Baiatan TQN di Banggel Slahung"