Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi persaingan dan kecenderungan untuk saling menghakimi, para ulama tasawuf sejak dahulu mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia sesungguhnya bukanlah orang lain, melainkan hawa nafsu yang bersemayam dalam dirinya sendiri. Musuh yang paling sulit ditaklukkan justru adalah rasa puas terhadap diri, yang perlahan dapat melahirkan kesombongan dan menutup hati dari cahaya kebenaran.
Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari mengingatkan bahwa ridha terhadap hawa nafsu merupakan sumber berbagai bentuk kemaksiatan. Ketika seseorang merasa dirinya lebih baik daripada orang lain, menganggap pendapatnya paling benar, atau terlalu bangga terhadap amal dan pengetahuannya, pada saat itulah ia sedang membangun hijab yang menjauhkannya dari kerendahan hati.
Ironisnya, kesalahan sering kali lebih mudah diperbaiki daripada kesombongan. Orang yang menyadari kekeliruannya masih memiliki peluang untuk bertobat. Sebaliknya, mereka yang merasa telah cukup baik cenderung kehilangan kebutuhan untuk memperbaiki diri. Akibatnya, energi lebih banyak dihabiskan untuk mengoreksi orang lain daripada meneliti kekurangan diri sendiri.
Dalam tradisi tasawuf, perjalanan menuju Allah atau suluk bukanlah perlombaan untuk menjadi manusia yang paling suci, melainkan proses yang tidak pernah selesai untuk membersihkan hati. Seorang salik dituntut terus-menerus mengganti sifat-sifat rendah dengan akhlak yang dicintai Allah. Karena itu, para arif lebih memilih sibuk mengoreksi dirinya sendiri sebelum menilai orang lain.
Pandangan demikian menjadi relevan di tengah budaya modern yang kerap mengukur keberhasilan dan keberkahan semata dari pencapaian materi. Harta yang melimpah, kedudukan yang tinggi, atau pujian manusia tidak selalu identik dengan keberkahan. Sebaliknya, keberkahan justru dapat hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, tetapi jauh lebih mendasar: hati yang bersih, istiqamah dalam kebaikan, kesadaran atas kekurangan diri, dan ketenangan karena bersandar kepada Allah.
Ketenangan hati merupakan salah satu tanda keberkahan yang paling nyata. Sebab, kebahagiaan sejati tidak lahir dari banyaknya yang dimiliki, melainkan dari kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Hati yang tenteram dalam zikir sering kali lebih berharga daripada segala bentuk kemewahan yang bersifat sementara.
Karena itu, tidak ada alasan untuk berputus asa dalam perjalanan spiritual. Jalan menuju makrifat adalah jalan panjang yang menuntut riyadhah, perbaikan niat, kehati-hatian, serta kesediaan untuk bangkit setiap kali terjatuh. Selama hati masih ingin kembali kepada Allah dan lisan masih basah dengan zikir, harapan untuk memperoleh rahmat-Nya tidak pernah tertutup.
Pada akhirnya, keberhasilan terbesar bukanlah ketika seseorang dipandang paling benar, melainkan ketika ia tetap rendah hati, terus memperbaiki diri, dan tidak pernah berhenti bergantung kepada Allah. Sebab, yang menyelamatkan manusia pada akhirnya bukanlah kebanggaan terhadap dirinya sendiri, melainkan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Tulisan ini disarikan dari tausiah Kiai Ali Barqul Abid pada Baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi di Masjid Jami' Tegalsari, Ponorogo.
Posting Komentar untuk "Ketika Merasa Paling Benar Menjadi Hijab Bagi Hati, Taujiah Kiai Ali "