Perang yang Tak Pernah Usai Melawan Diri Sendiri

PONOROGO — Musuh terbesar manusia sesungguhnya bukanlah orang lain, melainkan hawa nafsunya sendiri. Seseorang mungkin mampu mengalahkan lawan-lawannya, tetapi belum tentu mampu menaklukkan dirinya sendiri.

Hal tersebut disampaikan Kiai Ali Barqul Abid dalam taushiyah pada Baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Al-Anam, Dukuh Pintu, Desa Sidorejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo.

Dalam taushiyahnya, Kiai Ali menjelaskan bahwa jihad yang paling panjang adalah perjuangan melawan hawa nafsu. Perjuangan tersebut berlangsung sepanjang hayat dan hanya berakhir ketika kematian datang.

"Iman manusia naik dan turun, sedangkan godaan datang dan pergi. Karena itu, seorang hamba harus terus berusaha membersihkan dirinya," ujar Kiai Ali.

Menurut Kiai Ali, dalam tradisi tasawuf perjuangan tersebut dikenal sebagai takhalli an-nafs, yaitu upaya mengosongkan diri dari sifat-sifat buruk yang dapat merusak hati. Kiai Ali mengutip ajaran Syekh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari yang menekankan pentingnya mengeluarkan sifat-sifat tercela sebelum sifat-sifat tersebut merusak kehidupan batin seseorang.

Kiai Ali menjelaskan bahwa sumber utama kerusakan hati adalah ketika seseorang telah ridha terhadap hawa nafsunya sendiri. Perasaan puas terhadap diri, bangga terhadap apa yang dimiliki, serta keyakinan bahwa diri sendiri paling benar dapat menjadi hijab yang menutupi hati dari cahaya kebenaran.

"Dari sinilah seseorang sulit menerima kebenaran dari orang lain. Bahkan, tidak jarang perbedaan melahirkan sikap saling menyalahkan dan merasa diri paling benar," kata Kiai Ali.

Karena itu, menurut Kiai Ali, seorang salik memerlukan mujahadah dan riyadhah yang terus-menerus. Jalan thariqah yang diajarkan para guru pada hakikatnya merupakan sarana untuk menundukkan hawa nafsu dan menumbuhkan sifat tawaduk.

Kiai Ali menegaskan bahwa hakikat suluk bukan sekadar memperbanyak amalan, melainkan perjalanan tanpa henti untuk meninggalkan sifat-sifat tercela dan menghiasi diri dengan akhlak yang diridhai Allah.

"Terus berbenah menuju kebaikan itulah suluk yang sesungguhnya," jelas Kiai Ali.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Ali juga mengutip ajaran Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengenai makna keberkahan. Menurut Kiai Ali, keberkahan tidak selalu diukur dari berlimpahnya harta dan kenikmatan materi.

Sebaliknya, keberkahan sejati tampak pada hati yang tenang, istiqamah dalam kebaikan, serta ketergantungan seorang hamba kepada Allah dalam segala keadaan.

"Tanda keberkahan yang melimpah adalah hati yang tenteram dalam zikrullah. Sebab, ketenangan sejati lahir dari hati yang selalu mengingat Allah," tutur Kiai Ali.

Bagi Kiai Ali, kemenangan terbesar manusia bukanlah keberhasilan mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan menundukkan hawa nafsunya sendiri. Sebab, perang yang paling berat dan paling panjang adalah perang melawan diri sendiri, sebuah perjuangan yang tidak pernah usai selama manusia masih menjalani kehidupan di dunia.

Artikel ini disarikan dari taushiyah Kiai Ali Barqul Abid pada Baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Al-Anam, Dukuh Pintu, Desa Sidorejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo.

Posting Komentar untuk "Perang yang Tak Pernah Usai Melawan Diri Sendiri"