Menjadi Santri Seumur Hidup

Di Banyuarum, Kauman, Ponorogo, jamaah Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN-A) didominasi para sepuh. Sebagian besar memiliki hubungan panjang dengan Pondok Pesantren Manba'ul 'Adhim Bagbogo, Tanjunganom, Nganjuk. Ada yang pernah mondok, ada yang menjadi wali santri, dan ada pula yang sejak muda rutin mengikuti pengajian serta baiatan yang diasuh KH Imam Muhadi.

Di antara mereka, sosok Mbah Sapuan menjadi salah satu saksi hidup perjalanan panjang tersebut. Usianya kini 88 tahun. Rambutnya memutih. Langkahnya tak lagi tegap. Saat shalat berjamaah, gerakannya sering tertinggal dari jamaah lain sehingga ia memilih berada di shaf belakang agar tidak mengganggu jamaah di depannya.

Namun satu hal yang tidak berubah adalah istiqamahnya mengikuti jalan yang diperkenalkan gurunya puluhan tahun silam.

Mbah Sapuan bukanlah santri yang pernah mondok di Bagbogo. Kedekatannya dengan pesantren justru berawal dari kebiasaannya menengok anaknya yang belajar di sana.

"Dulu saya sering tilik anak yang mondok di Bagbogo," kenangnya.

Dari kunjungan-kunjungan itulah ia mengenal KH Imam Muhadi dan kemudian mengikuti Baiat Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Bersama sejumlah rekannya dari Banyuarum, ia rutin datang ke Bagbogo mengikuti pengajian dan kegiatan pondok.

Ingatannya masih cukup jelas ketika menceritakan suasana pondok pada masa-masa awal. Saat itu, sebagian asrama santri masih berupa gothakan, petak-petak sederhana yang berdinding gedek atau anyaman bambu.

"Waktu itu masih sederhana. Kiai Ali belum ada, belum lahir," ujarnya sambil tersenyum.


Puluhan tahun berlalu. Generasi berganti. Dari masa KH Imam Muhadi, kemudian diteruskan KH Amenan, hingga kini diasuh Kiai Ali Barqul Abid. Namun bagi Mbah Sapuan, pergantian generasi tidak pernah mengubah arah langkahnya.

Ia masih memegang prinsip sederhana yang diyakininya sejak muda.

"Dadi santri sak lawase, gak usah pingin dadi iki dadi iku. Ben ora molet."

Menjadi santri seumur hidup. Tidak perlu sibuk ingin menjadi ini atau itu agar tidak goyah dari jalan yang telah ditunjukkan guru.

Menurut Mbah Sapuan, seorang murid tidak perlu terlalu banyak memiliki ambisi. Yang penting adalah menjaga niat, mengikuti petunjuk guru, mengamalkan ajaran yang diwariskan, dan istiqamah sampai akhir hayat.

"Manut guru, gak usah kakean polah. Diniati melu sampek tutuk umur," katanya.

Karena itu, ia tidak terlalu mempersoalkan siapa yang memimpin atau siapa yang mengelola kegiatan. Baginya, selama masih meneruskan ajaran, kegiatan, dan amanah para guru, maka itulah yang harus didukung dan diikuti.

"Siapa pun yang meneruskan ajaran guru, menghidupkan kegiatan guru, menjalankan amanah guru, ya manut. Mereka orang-orang yang dipilih guru," ujarnya.

Prinsip itu mengingatkannya pada petuah Jawa yang sering ia ulang.

"Yen ana wong nuding, ojo ndelok sing nuding, nanging delok sing diduding."

Kalau ada orang yang menunjuk sesuatu, jangan sibuk melihat orang yang menunjuk, tetapi lihatlah apa yang ditunjuk.

Bagi Mbah Sapuan, yang ditunjuk para guru adalah jalan untuk mendekat kepada Allah melalui dzikir, pengamalan thariqah, dan upaya membersihkan hati. Maka perhatian seorang murid seharusnya tertuju pada tujuan tersebut, bukan pada persoalan-persoalan yang dapat mengaburkan arah perjalanan.

Pandangan itu sejalan dengan taujiah yang disampaikan Kiai Ali Barqul Abid dalam Baiatan TQN-A di Masjid Al Misbah. Menurut Kiai Ali, tujuan utama mengikuti thariqah adalah ngresiki ati, membersihkan hati dari berbagai penyakit batin seperti iri, dengki, ujub, riya', sombong, dan sifat-sifat lain yang menjadi penghalang seorang hamba mendekat kepada Allah.

Kiai Ali mengingatkan bahwa sifat manusia selalu pasang surut. Semangat ibadah kadang naik, kadang menurun. Karena itulah dzikir harus terus dilanggengkan.

"Sifat manusia itu pasang surut. Karena itu dzikir thariqah sangat penting," terang Kiai Ali.

Dzikir, menurutnya, bukan sekadar bacaan yang diulang-ulang. Dzikir adalah cara menjaga hati agar tetap hidup, tetap sadar kepada Allah, dan tidak mudah dikuasai hawa nafsu.

Bagi Mbah Sapuan, nasihat itu bukan sekadar teori. Ia telah menjalaninya selama puluhan tahun. Dari masa muda hingga usia senja, ia terus berusaha menjaga amalan yang diwariskan para gurunya.

Kini tubuhnya memang tidak lagi sekuat dahulu. Langkahnya mulai melambat. Namun selama kesehatan masih mengizinkan, ia tetap berusaha hadir dalam kegiatan-kegiatan thariqah.

Di tengah zaman yang serba cepat dan penuh perubahan, keteguhan Mbah Sapuan menghadirkan pelajaran sederhana namun mendalam. Bahwa menjadi santri tidak dibatasi usia, jabatan, maupun kedudukan. Menjadi santri adalah pilihan hidup yang dijaga hingga akhir hayat.

Dan bagi lelaki yang telah menempuh jalan itu selama puluhan tahun, seluruh perjalanan tersebut seakan diringkas dalam satu kalimat yang terus dipegangnya hingga hari ini:

"Dadi santri sak lawase, gak usah pingin dadi iki dadi iku. Ben ora molet."

***

Posting Komentar untuk "Menjadi Santri Seumur Hidup"