Melihat Sang Pemberi Nikmat

Jamaah memenuhi Masjid Al Husna, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, dalam Baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN-A) Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo, Tanjunganom, Nganjuk. Dalam taujiahnya, Al Mursyid Kiai Ali Barqul Abid mengajak jamaah untuk tidak sekadar menikmati nikmat, tetapi mengenali siapa yang memberikan nikmat tersebut.

"Jangan lihat nikmatnya, lihatlah siapa yang memberi nikmat," pesan Kiai Ali.

Menurutnya, manusia sering kali sibuk menghitung harta, jabatan, usaha, dan keberhasilan yang dimiliki, tetapi lupa bahwa semuanya berasal dari Allah SWT. Padahal, nikmat tidak hanya berupa kekayaan atau benda yang tampak.

Kesehatan, hati yang lapang, kemudahan beribadah, ketakwaan, keluarga yang harmonis, kemampuan bersabar saat menghadapi ujian, ketenangan dalam menghadapi masalah, hingga kekuatan untuk bertawakal juga merupakan nikmat yang sangat besar. Bahkan, hati yang mudah berdzikir dan senang melakukan kebaikan adalah nikmat yang sering tidak disadari.

Karena itu, Kiai Ali mengingatkan pentingnya bersyukur. Allah telah menjanjikan dalam Surah Ibrahim ayat 7 bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya, sedangkan siapa yang kufur terhadap nikmat akan mendapatkan ancaman yang berat.

Bagi Kiai Ali, janji itu harus diyakini sepenuhnya. Tambahan nikmat dari Allah tidak selalu berupa bertambahnya harta. Bisa berupa kesehatan yang lebih baik, ketenangan hidup, keberkahan keluarga, atau kemudahan menjalankan ibadah.

Ia juga menegaskan bahwa semua yang diterima manusia pada hakikatnya adalah fadlullah, karunia dan kasih sayang Allah SWT. Amal saleh, ibadah, dan berbagai ikhtiar yang dilakukan manusia memang penting, tetapi semua itu hanyalah jalan untuk mencari ridha Allah.

"Amal adalah ikhtiar seorang hamba. Adapun keberhasilan, keberkahan, dan keselamatan tetap karena fadlullah dari Allah," ujarnya.

Kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah akan melahirkan kerendahan hati. Sebaliknya, ketika seseorang merasa semua keberhasilannya berasal dari dirinya sendiri, berbagai penyakit hati mulai tumbuh.

Mengutip ajaran tasawuf yang dijelaskan dalam Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari, Kiai Ali menjelaskan bahwa perjalanan menuju Allah dimulai dengan membersihkan hati. Para ulama menyebutnya dengan tiga tahapan: takhalli, tahalli, dan tajalli.

Takhalli berarti mengosongkan hati dari sifat-sifat buruk seperti ujub, riya', sombong, bakhil, iri, dan dengki. Menurutnya, hati yang masih dipenuhi penyakit tersebut sulit menerima cahaya kebaikan.

Ujub harus dibuang agar seseorang menyadari bahwa semua keberhasilan adalah pertolongan Allah. Riya' harus dihilangkan agar amal dilakukan karena Allah, bukan karena ingin dipuji. Bakhil harus disingkirkan agar seseorang mau berbagi dan percaya pada keluasan rezeki Allah. Kesombongan harus dicabut agar hati mudah menerima kebenaran.

Adapun iri dan dengki, menurut Kiai Ali, merupakan penyakit yang paling berbahaya karena dapat menutup pintu hidayah.

Untuk menjelaskan hal itu, ia mengisahkan cerita yang dikenal dalam literatur tafsir tentang Ibnu Suraya. Ketika mengetahui wahyu kepada Nabi Muhammad SAW disampaikan oleh Malaikat Jibril, ia justru menolak karena kebenciannya kepada Jibril. Bukan karena meragukan bahwa wahyu berasal dari Allah, tetapi karena hatinya sudah dipenuhi rasa benci.

Kisah itu menjadi pelajaran bahwa seseorang bisa mengetahui kebenaran, tetapi tetap menolaknya karena hatinya tertutup iri dan dengki.

"Dengki itu berbahaya. Orang bisa tahu yang benar, tetapi tidak mau menerima karena hatinya sudah tertutup kebencian," kata Kiai Ali.

Setelah hati dibersihkan melalui takhalli, seseorang memasuki tahap tahalli, yaitu menghiasi diri dengan sifat-sifat baik seperti ikhlas, tawadhu', sabar, syukur, qana'ah, kasih sayang, dan cinta kepada Allah. Pada tahap ini seseorang lebih sibuk memperbaiki dirinya sendiri daripada mencari kesalahan orang lain.

Tahap berikutnya adalah tajalli, yakni ketika hati menjadi lebih bening dan tenang sehingga lebih mudah merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya. Hati tidak mudah sombong saat berhasil, tidak mudah putus asa saat gagal, dan lebih siap menerima setiap ketentuan Allah.

Menurut Kiai Ali, seluruh proses itu harus disertai dengan dzikir yang istiqamah. Sebab penyakit hati tidak cukup diatasi dengan pengetahuan, melainkan dengan terus mengingat Allah.

Pada akhirnya, pesan yang disampaikan Kiai Ali sederhana tetapi mendalam: perbaiki niat, tata nikmat, dan jangan pernah melupakan Sang Pemberi Nikmat. Ketika seseorang mampu melihat Allah di balik setiap nikmat yang diterimanya, syukur akan tumbuh, hati menjadi bersih, dan hidup akan dipenuhi keberkahan.

"Jangan lihat nikmatnya, lihatlah siapa yang memberi nikmat. Ketika hati mengenal Sang Pemberi, maka syukur akan datang dengan sendirinya," pungkasnya.

Posting Komentar untuk "Melihat Sang Pemberi Nikmat"