Membersihkan Hijab Hati dengan Dzikir

Dalam Baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN-A) Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo, Tanjunganom, Nganjuk, Al Mursyid Kiai Ali Barqul Abid mengajak jamaah untuk menaruh perhatian besar pada kebersihan hati. Menurutnya, perjalanan menuju Allah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya amal lahiriah, tetapi juga oleh sejauh mana seseorang mampu membersihkan penyakit batin yang mengotori jiwanya.

Kiai Ali mengutip petuah para ulama tasawuf, terutama yang banyak dijelaskan dalam Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari. Dalam tradisi tasawuf, seorang salik terlebih dahulu harus melakukan takhalli, yakni mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela sebelum menghiasi diri dengan akhlak mulia.

Sifat-sifat basyariyah yang buruk seperti ujub, riya', iri hati, dengki, sombong, merasa paling benar, gemar merendahkan orang lain, dan mencari kemuliaan di hadapan manusia harus dikeluarkan dari dalam hati. Sebab selama hati masih dipenuhi penyakit tersebut, sifat-sifat terpuji akan sulit tumbuh dan berkembang.

"Bagaimana cahaya bisa masuk kalau wadahnya masih penuh kotoran?" demikian inti pesan yang disampaikan Kiai Ali kepada para jamaah.

Menurut beliau, penyakit hati tidak cukup dilawan dengan pengetahuan semata. Seseorang mungkin mengetahui bahwa iri hati itu buruk, tetapi tetap sulit melepaskannya. Karena itu para ulama tasawuf menekankan pentingnya melanggengkan dzikrullah. Dengan mengingat Allah secara terus-menerus, hati perlahan menjadi lembut, ego melemah, dan penyakit batin kehilangan tempat bersemayam.

Dzikir bukan sekadar bacaan lisan, melainkan latihan menghadirkan Allah dalam kesadaran. Ketika hati dipenuhi ingatan kepada Allah, ruang bagi kesombongan menjadi sempit. Ketika seseorang menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah, ia tidak mudah ujub. Ketika memahami bahwa segala karunia dibagikan Allah sesuai hikmah-Nya, ia tidak mudah iri dan dengki terhadap orang lain.

Kiai Ali menjelaskan bahwa iri dan dengki merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena dapat menutup pintu hidayah. Untuk menggambarkan hal itu, beliau mengisahkan cerita yang dikenal dalam literatur tafsir mengenai seorang tokoh Yahudi bernama Ibnu Suraya.

Dikisahkan bahwa ketika mengetahui Nabi Muhammad SAW menerima wahyu melalui Malaikat Jibril, ia bertanya siapakah yang membawa wahyu tersebut. Setelah mendapat jawaban bahwa yang menyampaikannya adalah Malaikat Jibril, ia justru menunjukkan penolakan. Bukan karena meragukan sumber wahyu yang berasal dari Allah, melainkan karena kebenciannya kepada Jibril.

Kisah tersebut kemudian menjadi pelajaran bahwa kebencian, iri hati, dan dengki dapat membuat seseorang menolak kebenaran yang sebenarnya sudah diketahuinya. Bukan karena kebenaran itu tidak jelas, melainkan karena hatinya telah tertutup oleh penyakit batin.

"Dengki itu berbahaya. Orang bisa tahu yang benar, tetapi tidak mau menerima karena hatinya sudah tertutup kebencian," tutur Kiai Ali.

Karena itu, jalan thariqah menempatkan pembersihan hati sebagai pekerjaan utama seorang salik. Sebelum mencari maqam yang tinggi, seseorang terlebih dahulu diajak membersihkan hijab-hijab yang menghalangi dirinya dari Allah. Hijab itu sering kali bukan harta, jabatan, atau dunia di luar dirinya, melainkan kesombongan, iri hati, dan keakuan yang bersemayam dalam hati.

Melalui dzikir yang istiqamah, seorang hamba belajar menundukkan ego dan mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah. Dari situlah lahir kerendahan hati, rasa syukur, dan kemampuan menerima kebenaran tanpa dikendalikan oleh kepentingan pribadi.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan perjalanan spiritual tidak diukur dari seberapa banyak seseorang berbicara tentang agama, melainkan dari sejauh mana ia mampu membersihkan hatinya. Sebab hati yang bersih akan lebih mudah menerima petunjuk, sementara hati yang dipenuhi iri, dengki, dan kesombongan akan terus terhalang dari cahaya hidayah, meskipun kebenaran berada tepat di hadapannya.

***

Posting Komentar untuk "Membersihkan Hijab Hati dengan Dzikir"