Menautkan Hati kepada Allah di Kampung Pengrajin Genting

Deretan genting yang dijemur di halaman rumah-rumah warga menjadi pemandangan khas Desa Bedingin, Kecamatan Sambit, Ponorogo. Di kawasan yang dikenal sebagai sentra pengrajin genting dan batu besar itu, jamaah memenuhi Masjid Manba'ul Huda untuk mengikuti Baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN-A) Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo, Tanjunganom, Nganjuk.

Sebagian besar jamaah yang hadir adalah para pengrajin genting, pekerja yang sehari-hari bergelut dengan tanah liat, panas matahari, dan kerasnya kehidupan. Di tengah kesibukan mencari nafkah itulah mereka meluangkan waktu untuk mengikuti baiatan yang dipimpin Al Mursyid Kiai Ali Barqul Abid.

Dalam taujiahnya, Kiai Ali mengingatkan bahwa segala kebaikan yang diperoleh manusia pada hakikatnya merupakan fadlullah, anugerah murni dari Allah SWT. Bukan semata-mata hasil kecerdasan, kekuatan, kedudukan, ataupun banyaknya amal yang dilakukan seseorang.

"Kalau kita diberi kemudahan beribadah, diberi kesehatan, diberi rezeki, diberi ketenangan hati, itu bukan karena hebatnya kita. Itu murni fadlullah dari Gusti Allah," tuturnya.

Kesadaran akan besarnya karunia Allah itulah yang seharusnya mendorong manusia untuk terus berbuat baik. Nikmat yang diberikan tidak digunakan untuk kesombongan, melainkan untuk kemanfaatan. Rezeki digunakan untuk menolong sesama, ilmu dipakai untuk memberi manfaat, dan kekuatan dipergunakan untuk menegakkan kebaikan.

Menurut Kiai Ali, orang yang pandai bersyukur akan mendapatkan tambahan nikmat dan ketenangan hidup sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur'an, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat" (QS. Ibrahim: 7).

Syukur bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan kemampuan menggunakan segala nikmat yang diberikan Allah untuk jalan yang diridhai-Nya. Sebaliknya, kufur nikmat bukan hanya mengingkari karunia Allah, tetapi juga menggunakan nikmat tersebut untuk tujuan yang menjauhkan diri dari-Nya.

Kiai Ali juga mengingatkan bahwa setiap amal manusia akan kembali kepada niat dan tujuan yang melatarbelakanginya. Apa yang diperjuangkan seseorang tidak akan pernah sia-sia di hadapan Allah. Setiap kebaikan, pengorbanan, dan jerih payah yang dilakukan dengan niat yang benar akan mendapatkan balasan yang setimpal.

"Segala sesuatu akan mendapatkan sesuai niatnya. Apa yang menjadi tujuan seseorang, itulah yang menentukan nilai amalnya di hadapan Allah," ujarnya.

Lebih jauh, Kiai Ali mengutip ajaran ulama sufi besar, Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari, tentang pentingnya membersihkan hati dari berbagai penyakit batin. Menurutnya, perjalanan menuju Allah tidak cukup hanya dengan memperbanyak ibadah lahiriah, tetapi juga harus dibarengi dengan penyucian hati.

Sifat-sifat seperti iri hati, dengki, ujub, riya', takabur, dan merasa lebih baik dari orang lain merupakan penyakit yang merusak hati. Dalam tradisi tasawuf, penyakit-penyakit itu menjadi hijab yang menghalangi seorang hamba dari kedekatan dengan Allah.

"Hijab itu penghalang. Kalau sesuatu tertutup, berarti ada sesuatu yang lebih besar yang menutupinya. Yang sering menjadi hijab bukan orang lain, melainkan hawa nafsu dan sifat buruk dalam diri kita sendiri," jelasnya.

Karena itu, tasawuf mengajarkan tahapan penyucian diri yang dikenal dengan takhalli, tahalli, dan tajalli.

Takhalli berarti mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela. Dengki, iri hati, riya', ujub, dendam, dan berbagai penyakit batin harus dibersihkan terlebih dahulu. Sebab hati yang masih dipenuhi kotoran tidak akan mampu menerima cahaya petunjuk.

Setelah itu, seorang salik memasuki tahap tahalli, yakni menghiasi hati dengan sifat-sifat terpuji seperti ikhlas, sabar, tawadhu', syukur, kasih sayang, qana'ah, dan cinta kepada Allah. Hati yang bersih kemudian diisi dengan akhlak mulia sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Adapun tajalli merupakan buah dari proses tersebut, yakni ketika hati semakin terbuka menerima cahaya petunjuk Allah. Hati menjadi lebih tenang, lebih mudah bersyukur, lebih kuat menghadapi ujian, dan lebih merasakan kehadiran Allah dalam setiap keadaan.

Dalam konteks itulah, Kiai Ali menjelaskan makna baiatan thariqah. Baiat bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan ikhtiar untuk menyambungkan ruh kepada Allah SWT, menjaga agar hubungan batin seorang hamba dengan Tuhannya tidak menjauh, apalagi terputus.

Melalui baiat, seorang murid dibimbing oleh para guru yang memiliki sanad keilmuan dan ketugasan yang bersambung dari generasi ke generasi hingga Rasulullah SAW. Sanad itu menjadi jalan pendidikan ruhani yang menghubungkan hati seorang hamba dengan sumber ajaran Islam yang autentik.

"Baiatan ini untuk menyambung ruh kita kepada Gusti Allah. Untuk mengikat hati kita agar tetap dekat kepada Allah melalui para guru yang sanadnya bersambung sampai Kanjeng Nabi Muhammad SAW," tutur Kiai Ali.

Di kampung para pengrajin genting itu, pesan tersebut terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebagaimana tanah liat harus dibersihkan, dibentuk, dan dibakar agar menjadi genting yang kokoh dan bermanfaat, demikian pula hati manusia harus dibersihkan dari sifat-sifat buruk agar mampu menjadi tempat bersemayamnya cahaya petunjuk Allah.

Baiatan bukan sekadar menambah amalan, melainkan upaya merawat hati agar tetap terhubung kepada Sang Pencipta. Sebab pada akhirnya, bukan kekuatan manusia yang menentukan keselamatan hidupnya, melainkan karunia dan pertolongan Allah yang senantiasa menyertai orang-orang yang berjalan di jalan-Nya.

***

Posting Komentar untuk "Menautkan Hati kepada Allah di Kampung Pengrajin Genting"