Terik siang itu seperti menggantung tepat di ubun-ubun. Udara memantul dari pelataran masjid, membawa panas yang nyaris menyengat kulit. Namun, di tengah cuaca yang terasa menahan napas itu, ratusan orang tetap duduk bersila dengan tenang. Wajah-wajah mereka teduh, seolah menemukan ruang sejuk yang tak bergantung pada angin atau bayang-bayang.
Bagi mereka yang bersungguh-sungguh menempuh jalan ini, ia mengingatkan, ada janji Ilahi yang tak sederhana. “Allah menjanjikan minuman yang segar,” ujarnya, mengutip makna Al-Qur’an. “Segar di sini luas—bisa di dunia, bisa pula di akhirat.” Syaratnya satu: istiqamah.
Di Masjid Jami’ Bulu, Sidomulyo, Dolopo, Kabupaten Madiun, Ahad Kliwon siang itu bukan sekadar penanggalan Jawa. Ia adalah waktu yang ditunggu, dijaga, dan dihidupi. Sejak pukul 10 pagi, jamaah Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah an-Nahdliyyah—bersanad kepada KH Imam Muhadi—mulai memadati ruang utama masjid. Mereka datang dari berbagai arah dan latar belakang: petani yang meninggalkan sawahnya sejenak, pedagang yang menutup lapaknya lebih awal, tukang kayu, pengrajin, hingga pegawai kantoran yang menukar hari liburnya dengan perjalanan spiritual.
Rangkaian kegiatan berjalan tanpa tergesa. Dimulai dengan istighotsah, lalu pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, khususiyah, tahlil dan doa, dilanjutkan pengajian, hingga puncaknya baiatan thoriqoh oleh Kiai Ali Barqul Abid, penerus KH Imam Muhadi. Di sela itu, shalat Dhuhur dan Ashar berjamaah menjadi jeda yang menyatukan ritme lahir dan batin.
Bagi jamaah, kehadiran di majelis ini bukan sekadar rutinitas, melainkan latihan kesetiaan. “Istiqamah,” begitu mereka menyebutnya—sebuah kata sederhana yang dalam praktiknya menuntut keteguhan melampaui cuaca, jarak, dan kesibukan hidup.
Dalam tausiyahnya, KH Hasan Ali mengaitkan pertemuan siang itu dengan makna yang lebih luas. Sebelum acara dimulai, kata dia, ada permintaan agar kegiatan ini sekaligus diniatkan sebagai “bersih desa” bagi Bulu, Candimulyo. Namun, yang dimaksud bersih desa bukan semata urusan fisik.
“Doa terbaik itu agar kita dibersihkan dari hal-hal yang tidak baik, yang tidak diridhai,” ujarnya di hadapan jamaah yang menyimak dalam hening.
Ia menekankan bahwa baik-buruknya sebuah dusun, desa, hingga kabupaten, berakar dari kebersihan batin warganya. Jika hati masih dipenuhi “debu” dan “karat”, maka pembangunan lahiriah, betapapun megahnya, akan kehilangan makna.
“Selama hati dan qalbu masih kotor, semua bisa jadi sia-sia,” katanya.
Di situlah, lanjutnya, thoriqoh menemukan relevansinya. Ia menjadi “alat pembersih” yang tak kasat mata—bukan untuk jalanan atau bangunan, melainkan untuk batin manusia. KH Hasan Ali mengutip pesan gurunya, KH Imam Muhadi: kotoran hati disapu dengan dzikir Nafi Itsbat
Dzikir “La ilaha illallah” dengan pemaknaan: menafikan selain Allah (nafi) dan menetapkan hanya Allah (itsbat)
Sedangkan karat di hati pesen KH Imam Muhadi, dibersihkan dengan dzikir Ismu Dzat, penyebutan langsung Nama Allah (“Allah”) secara terus-menerus dalam hati, sebagai inti penyucian qalbu
Bagi mereka yang bersungguh-sungguh menempuh jalan ini, ia mengingatkan, ada janji Ilahi yang tak sederhana. “Allah menjanjikan minuman yang segar,” ujarnya, mengutip makna Al-Qur’an. “Segar di sini luas—bisa di dunia, bisa pula di akhirat.” Syaratnya satu: istiqamah.
Pesan itu seperti menjawab kegelisahan yang kerap muncul dalam kehidupan modern—ketika manusia merasa dekat dengan kemajuan, tetapi jauh dari ketenangan.
Menanggapi harapan agar desa menjadi lebih baik, KH Hasan Ali juga memberi batas yang jernih. Thoriqoh, katanya, berperan membersihkan hati manusia. Adapun tata kelola pemerintahan tetap menjadi tanggung jawab bersama: warga, pemerintah, dan aparat. Namun ia meyakini, ketika batin masyarakat telah bersih, perubahan di ranah lain akan mengikuti.
“Kalau warganya sudah bersih, insya Allah yang lain akan ikut,” ujarnya.
Sementara itu, sebelum prosesi baiatan dimulai, Kiai Ali Barqul Abid mengajak jamaah untuk memperbarui niat setelah jeda Ramadhan dan Idul Fitri. Ia mengingatkan kembali inti dari perjalanan spiritual: Ilahi anta maqsudi—hanya Allah tujuan yang dicari.
“Istiqamah itu kunci,” katanya singkat namun tegas. “Karomah itu bonus, dan itu wilayah Allah. Jangan dijadikan tujuan.”
Kalimat itu meluncur tanpa retorika berlebihan, tetapi justru di situlah letak bobotnya. Ia menempatkan manusia pada posisi yang sewajarnya: berusaha, menjaga niat, dan tidak terjebak pada pencapaian-pencapaian yang justru bisa mengaburkan tujuan awal.
Waktu bergulir perlahan. Matahari yang sejak siang terasa begitu dekat, mulai merendah. Menjelang pukul empat sore, rangkaian kegiatan usai. Jamaah beringsut keluar masjid, sebagian masih berbincang pelan, sebagian lain bergegas pulang menempuh perjalanan panjang.
Lalu, seperti jawaban yang datang tanpa diminta, langit yang sejak siang tampak keras mendadak berubah. Awan menggelap, dan tak lama kemudian hujan turun deras. Butir-butir air menghantam atap masjid dan halaman, menebarkan aroma tanah yang lama menunggu.
Panas yang sebelumnya terasa menyelimuti, luruh seketika. Udara menjadi sejuk, hampir dingin.
Di antara rintik yang kian rapat, peristiwa siang itu seperti menemukan metaforanya sendiri: setelah panas yang menguji keteguhan, datang kesejukan yang menenangkan. Seolah mengafirmasi satu hal yang sejak awal digaungkan dalam majelis itu—bahwa kebersihan hati, seperti hujan, mungkin tak selalu terlihat prosesnya, tetapi dampaknya bisa dirasakan oleh siapa saja.
***
Posting Komentar untuk "Thoriqoh dan Bersih Desa Candimulyo: Menyapu Debu dari Hati Warga"