Di antara sekian banyak jalan manusia untuk mendekat kepada Tuhan, ada satu jalan yang tidak selalu tampak di permukaan, tetapi hidup dalam diam: jalan hati. Dalam tradisi thariqah, jalan itu dirawat melalui dua istilah yang sering terdengar asing, bahkan kerap disalahpahami—rabithah dan tawasul.
Rabithah, dalam pengertian sederhana, adalah menyambungkan hati. Seorang murid menghadirkan gurunya di dalam batin ketika berdzikir, agar arah hatinya tidak tercerai-berai. Bukan untuk menjadikan guru sebagai tujuan, melainkan sebagai penuntun agar langkah batin tetap terjaga. Sementara tawasul adalah mengambil perantara dalam mendekat kepada Allah—sebuah ikhtiar yang berakar dalam ajaran Islam, bahwa menuju kepada-Nya bisa melalui jalan-jalan yang diridhai.
Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta‘ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya…”
(QS. Al-Ma’idah: 35)
Ayat ini menjadi landasan bahwa mendekat kepada Allah tidak selalu ditempuh secara tunggal dan kaku. Ada jalan-jalan yang diizinkan, selama tetap dalam koridor tauhid. Amal saleh, doa, dan kedekatan dengan orang-orang yang saleh menjadi bagian dari wasilah itu.
Namun, di balik penjelasan yang tampak rapi, praktiknya sering kali jauh lebih hidup, bahkan sangat personal. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk teori yang tertib, melainkan dalam pengalaman batin yang kadang sederhana, kadang membingungkan—dan justru di situlah letak kedalamannya.
Sebuah kisah datang dari seorang anak muda asal Jambi yang menempuh jalan thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Ia mengikuti baiat kepada seorang mursyid, Kiai Ali Barqul Abid. Dalam kisah yang nyaris seperti perlambang itu, bahkan sebuah batu pun disebut “ikut baiat”. Tentu saja bukan dalam arti lahiriah yang harfiah, melainkan sebagai isyarat bahwa jalan ini tidak semata-mata soal formalitas, melainkan tentang keterhubungan yang melampaui apa yang kasatmata.
Anak itu bukan orang asing bagi sang kiai. Ia sudah sering datang, sering bertemu, bahkan akrab. Ia tidak memanggil dengan sebutan formal, tetapi dengan satu kata yang sarat kedekatan: Abah. Hubungan mereka melampaui sekadar guru dan murid. Ada rasa keluarga di dalamnya—sebuah kedekatan yang dalam istilah Jawa lebih dari sekadar santri, melainkan sudah menjadi batih.
Ketika ia mulai diajarkan rabithah dan tawasul, justru muncul kebingungan yang sangat manusiawi. Ia tidak hafal nama panjang gurunya, apalagi silsilah para guru di atasnya. Ia tidak memiliki kelengkapan yang sering dianggap penting dalam praktik tersebut. Maka dengan polos ia bertanya, apakah ia boleh bertawasul dan berabithah cukup dengan menyebut “Abah”.
Jawaban yang ia terima singkat: boleh.
Namun justru di situlah pertanyaan besar bermula. Boleh—tetapi bagaimana memahaminya? Apakah jalan yang pendek ini sama nilainya dengan jalan panjang yang penuh susunan nama dan urutan sanad? Apakah kedekatan bisa menggantikan kelengkapan?
Pertanyaan itu tidak selesai dalam satu jawaban. Ia menjelma menjadi kegelisahan yang mengendap, bahkan membuat seseorang terjaga semalaman. Dalam hidup, tampaknya selalu ada dua jalan: jalan yang panjang dan lengkap, serta jalan yang pendek dan langsung.
Bayangan itu seperti seseorang yang hendak bertamu. Ada yang berangkat dari jauh, melewati perjalanan, masuk ke gerbang penjagaan, diperiksa, diterima oleh ajudan, lalu akhirnya bertemu yang dituju. Semua runtut, semua tertib. Tetapi ada pula yang datang dan langsung masuk ke dalam rumah, tanpa banyak perantara, karena ia memang sudah dianggap keluarga.
Keduanya tidak salah. Keduanya memiliki tempatnya masing-masing. Namun yang sering luput dipahami, jalan yang tampak lebih singkat itu sesungguhnya menuntut sesuatu yang jauh lebih dalam.
Sebab untuk bisa langsung “masuk rumah”, seseorang harus benar-benar diterima sebagai bagian dari rumah itu. Ia harus memiliki kedekatan yang nyata, bukan sekadar perasaan. Ia harus menjaga hubungan itu dengan adab, dengan kesetiaan, dengan tanggung jawab yang tidak ringan.
Di sinilah rabithah dan tawasul menemukan maknanya yang paling jujur. Ia bukan sekadar menyebut nama, bukan sekadar menghadirkan bayangan. Ia adalah cermin dari hubungan yang sebenarnya. Jika hubungan itu dangkal, maka rabithah menjadi kosong. Jika hubungan itu hanya klaim, maka tawasul kehilangan ruhnya.
Sering kali, kita dengan mudah mengatakan bahwa kita adalah murid dari seorang kiai. Kita menyebut nama guru dengan bangga, bahkan menjadikannya bagian dari identitas. Tetapi pertanyaan yang lebih sunyi jarang diajukan: sudahkah kita benar-benar menjadi murid?
Menjadi murid bukan hanya soal pernah belajar atau pernah baiat. Ia adalah soal menepati janji, menjalankan ajaran, menjaga adab, dan merawat nama baik guru dalam setiap langkah hidup. Ia adalah hubungan yang hidup, bukan sekadar status yang diucapkan.
Maka ketika seorang murid diperbolehkan untuk cukup menyebut “Abah” dalam rabithah dan tawasul, itu bukan sekadar kemudahan. Itu adalah bentuk kepercayaan. Dan setiap kepercayaan selalu membawa konsekuensi.
Barangkali pada akhirnya, pertanyaan tentang jalan pendek dan jalan panjang tidak perlu dijawab dengan memilih salah satu. Yang lebih penting adalah memahami bahwa setiap jalan memiliki tuntutannya sendiri. Jalan yang panjang menuntut kesabaran dan ketertiban. Jalan yang pendek menuntut kejujuran dan kedekatan yang sesungguhnya.
Dan di atas semua itu, ada satu hal yang tidak berubah: tujuan tetap hanya satu, yaitu Allah. Guru hanyalah penuntun, jalan hanyalah sarana, dan hati adalah tempat di mana semuanya dipertaruhkan.
Mungkin itulah sebabnya kegelisahan itu terasa begitu dalam, sampai mengusik tidur. Karena yang sedang dipikirkan bukan sekadar benar atau salah, melainkan apakah hati ini benar-benar sudah tersambung.
***
Posting Komentar untuk "Jalan Pendek, Jalan Panjang: Menyambung Hati dalam Rabithah dan Tawasul"