Istiqamah di Atas Segalanya, Karamah sebagai Titipan
Taujiah Kiai Ali Barqul Abid dalam Baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah,
Masjid Jami’ Panjeng, Jenangan, Ponorogo — Ba’da Isya, Ahad Kliwon
Malam itu berjalan pelan. Usai salat Isya, satu per satu jamaah memenuhi Masjid Jami’ Panjeng, Jenangan, Ponorogo. Wajah-wajah sepuh tampak mendominasi—mereka yang telah menempuh jalan panjang, sebagian besar sejak masa KH Imam Muhadi, dilanjutkan oleh KH Muhammad Amenan Zamzami, hingga kini berada dalam bimbingan Al-Mursyid Kiai Ali Barqul Abid. Di malam Ahad Kliwon, waktu yang telah menjadi tradisi, baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah kembali digelar, mengikat janji ruhani antara murid dan jalan menuju Tuhannya.
Dalam suasana yang khidmat itu, Kiai Ali Barqul Abid menyampaikan taujiah yang sederhana namun menghunjam: tentang istiqamah dan karamah—dua istilah dalam tasawuf yang sering disebut, tetapi kerap disalahpahami.
“Dalam perjalanan ini,” tutur beliau pelan, “yang paling berat bukanlah mencapai sesuatu yang tinggi, tetapi menjaga agar tetap lurus.” Kalimat itu seperti menyapa langsung para jamaah yang sebagian telah puluhan tahun mengamalkan wirid dan dzikir thariqah.
Beliau mengawali dengan mengingatkan dasar yang kokoh dari Al-Qur’an. Dalam Surah Fussilat ayat 30, Allah menjanjikan ketenangan bagi mereka yang beriman dan beristiqamah. “Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah…”—bukan mereka yang sesekali merasakan “puncak”, melainkan mereka yang setia dalam langkah-langkah kecil yang terus dijaga. Pesan itu sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” Sebuah ajaran yang singkat, tetapi justru menjadi inti dari seluruh perjalanan seorang salik.
Di hadapan jamaah yang sebagian besar telah sepuh, pesan ini terasa menemukan tempatnya. Istiqamah bukan sesuatu yang asing bagi mereka. Ia hadir dalam rutinitas dzikir, dalam langkah kaki menuju masjid, dalam kesetiaan menjaga amalan meski tubuh tak lagi sekuat dulu.
Kiai Ali kemudian menjelaskan, dalam pandangan para sufi, istiqamah bukan sekadar konsistensi lahiriah. Ia adalah kesetiaan batin—bagaimana hati tetap menghadap Allah dalam segala keadaan. “Kadang orang ingin yang luar biasa,” ujar beliau, “padahal yang paling luar biasa adalah mampu terus berjalan, tanpa berhenti.”
Di titik inilah beliau mengutip pandangan para ulama tasawuf: al-istiqamah a’zhamu al-karamah—istiqamah adalah karamah yang paling agung. Sebuah ungkapan yang sering dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Sang wali besar itu justru menekankan bahwa ukuran kedekatan kepada Allah bukanlah kemampuan melakukan hal-hal ajaib, melainkan keteguhan dalam memegang syariat.
Tentang karamah, Kiai Ali tidak menafikannya. Ia mengakui bahwa dalam Al-Qur’an, banyak kisah yang menunjukkan kejadian luar biasa sebagai bentuk pertolongan Allah kepada hamba-Nya—seperti Maryam yang memperoleh rezeki tanpa diduga (QS Ali Imran: 37), atau para pemuda Ashabul Kahfi yang dijaga dalam tidur panjang (QS Al-Kahfi). Namun beliau menegaskan, karamah bukanlah tujuan.
“Karamah itu datang, bukan dicari,” katanya tegas. “Kalau dikejar, justru bisa menyesatkan.”
Pesan ini terasa penting, terutama dalam dunia yang sering kali terpesona oleh hal-hal yang tampak ajaib. Dalam hadis qudsi riwayat Bukhari, Allah menggambarkan bagaimana seorang hamba yang dicintai-Nya akan dijaga dan dibimbing dalam setiap gerakannya. Namun bagi para sufi, itu bukan sesuatu yang dipamerkan, melainkan dirahasiakan.
Kiai Ali kemudian mengingatkan nasihat klasik Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: jika melihat seseorang mampu melakukan hal-hal luar biasa, jangan langsung menganggapnya sebagai wali sebelum melihat bagaimana ia berpegang pada syariat. Ukuran sejati tetaplah istiqamah.
Dalam perjalanan seorang salik, beliau menggambarkan hubungan keduanya dengan sederhana namun dalam: istiqamah adalah jalan, sementara karamah hanyalah penunjuk di pinggir jalan. Ia bisa ada, bisa tidak, tetapi tidak menentukan sampai atau tidaknya seseorang kepada tujuan.
“Kalau njenengan diberi kelebihan,” lanjut beliau, “justru harus lebih hati-hati. Itu ujian, bukan hadiah.”
Para jamaah menyimak dalam diam. Bagi mereka, perjalanan ini bukan lagi tentang mencari pengalaman baru, tetapi menjaga apa yang sudah ada. Godaan terbesar, sebagaimana disampaikan Kiai Ali, bukanlah dunia dalam bentuk kasar, melainkan rasa “memiliki sesuatu” dalam perjalanan spiritual itu sendiri.
Di tengah dunia yang kini serba cepat dan gemar menampilkan yang luar biasa, istiqamah justru menjadi jalan sunyi. Ia hadir dalam hal-hal kecil: menjaga salat tepat waktu, melanjutkan dzikir meski lelah, tetap rendah hati meski telah lama menempuh jalan.
Malam semakin larut. Baiatan berlangsung dengan khusyuk, diiringi dzikir yang mengalun pelan. Di antara napas yang teratur dan hati yang menunduk, pesan itu terasa menetap: bahwa jalan menuju Allah bukanlah tentang menjadi luar biasa di mata manusia.
Melainkan tentang tetap teguh—setapak demi setapak—di hadapan-Nya.
Posting Komentar untuk "Istiqamah di Atas Segalanya, Karamah sebagai Titipan"