Pascaperayaan Idulfitri, puluhan jamaah dari berbagai daerah kembali berkumpul dalam sebuah tradisi spiritual yang telah mengakar kuat di kalangan Nahdliyin: baiatan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah an-Nahdliyyah. Tahun ini, kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Pondok Pesantren Muftahul Huda, Gerih, Ngawi—yang lebih dikenal masyarakat sebagai Masjid Batu Akik.
Baiatan ini merupakan bagian dari sanad Bagbogo yang berafiliasi dengan ajaran almarhum KH Imam Muhadi, seorang mursyid yang dikenal luas di kalangan pengamal tarekat. Tradisi ini rutin digelar setiap tahun selepas Lebaran, menjadi ajang temu batin sekaligus silaturahmi para murid dan alumni, khususnya dari Pondok Pesantren Manba’ul ‘Adhim Bagbogo, Tanjunganom, Nganjuk.
Sejak adzan Zuhur berkumandang, jamaah mulai memadati ruang utama masjid. Mayoritas yang hadir adalah kalangan sepuh, dengan wajah-wajah yang menyimpan jejak panjang perjalanan spiritual. Banyak di antara mereka merupakan alumni lama yang pernah nyantri langsung kepada KH Imam Muhadi. Acara dimulai dengan pengajian, dilanjutkan dengan prosesi baiatan, dan berakhir menjelang waktu Ashar.
Di tengah panasnya cuaca khas Ngawi, suasana di dalam masjid terasa sejuk dan menenangkan. Arsitektur Masjid Batu Akik memang tidak lazim. Bangunan bertingkat ini dihiasi batu-batu akik dan batu besar menyerupai formasi gua, menciptakan nuansa kontemplatif yang khas. Masjid ini dibangun pada tahun 2009 oleh KH Ali Syamsudin Yusuf Husein. Kini, pengelolaannya dilanjutkan oleh putranya, Kiai Sofyan Yusuf, yang juga aktif mengembangkan kegiatan spiritual di lingkungan pesantren.
Menurut Kiai Sofyan Yusuf, masjid ini memang dirancang sebagai ruang spiritual terbuka. Termasuk baiatan, yaitu kegiatan dzikir dilaksanakan setiap dua bulan sekali, secara bergiliran dengan wilayah Kendal, Ngawi, yang memiliki tradisi serupa.
Menjelang prosesi baiatan, Kiai Ali Barqul Abid menyampaikan taujiah yang menekankan pentingnya menjaga niat dalam beribadah. Dalam suasana yang masih hangat oleh semangat Idulfitri, ia mengajak jamaah untuk saling memaafkan dan memperbarui komitmen spiritual.
“Segala sesuatu tergantung pada niat. Niatkan hanya kepada Allah—ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa menjaga kemurnian niat bukan perkara mudah. Niat yang lurus di awal kerap terdistorsi oleh godaan di tengah perjalanan. Namun demikian, jamaah diminta untuk tidak berkecil hati. Bahkan, mereka yang awalnya hanya “ikut-ikutan” bisa menemukan kedalaman makna dzikir seiring waktu.
Pesan lain yang mengemuka adalah agar semangat ibadah di bulan Ramadhan tidak surut setelahnya. Ibadah, menurutnya, tidak boleh bergantung pada momentum atau iming-iming pahala semata, melainkan menjadi kebutuhan ruhani yang terus dirawat.
“Perbaiki shalat seperti saat Ramadhan, dan teruslah berdzikir. Ajal bisa datang kapan saja,” tegasnya.
Prosesi baiatan kemudian dilaksanakan dengan khidmat. Para jamaah dibimbing untuk mengamalkan dzikir Qodiriyah dan Naqsyabandiyah sebagai bagian dari jalan spiritual yang mereka tempuh. Baiatan, dalam pandangan Kiai Ali, bukan sekadar ritual, melainkan janji—kepada guru, kepada sanad, dan kepada diri sendiri untuk istiqamah dalam laku.
Tradisi ini menunjukkan bahwa di tengah arus modernitas, praktik-praktik spiritual berbasis komunitas tetap memiliki ruang hidup yang kuat. Ia bukan hanya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga mempererat ikatan sosial, merawat ingatan kolektif, dan menjaga kesinambungan sanad keilmuan.
Di Masjid Batu Akik Ngawi, dzikir tidak sekadar dilafalkan, tetapi juga dihidupkan—dalam niat, dalam laku, dan dalam kebersamaan.
**) Gerih Ngawi
Posting Komentar untuk "Menjaga Niat, Merawat Dzikir: Baiatan Tarekat di Masjid Batu Akik Ngawi"