Menjaga Iman di Tengah Guncangan Hati, Manaqib Kubro Jatman Sukorejo


Ponorogo, 18 April 2026
Malam di Sragi, Sukorejo, Ponorogo, terasa syahdu ketika ratusan jamaah memadati Masjid Al Muttaqin. Mereka datang dari berbagai penjuru: anggota Jatman ( Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah) Sukorejo dan sekitarnya, serta masyarakat Desa Sragi, Morosari, Kalimalang, dan wilayah sekitar. Dalam balutan kesederhanaan, Manaqib Kubro Jatman menjadi ruang pertemuan batin—tempat orang-orang menenangkan diri di tengah riuh kehidupan.

Di hadapan jamaah, Kiai Ali Barqul Abid menyampaikan taujiah dengan nada tenang, namun mengena. Ia memulai dari kenyataan paling dekat: manusia adalah makhluk sosial yang tak pernah lepas dari gesekan. Dalam pekerjaan, pergaulan, hingga urusan keluarga, konflik kecil hingga tekanan batin sering kali datang silih berganti. Dari situlah, kata dia, kondisi hati mudah goyah.

“Ibarat cuaca, iman itu bisa berubah,” tuturnya. “Kadang terang, kadang mendung. Kadang kuat, kadang melemah.”

Menurutnya, perubahan suasana hati yang dipengaruhi persoalan hidup—bahkan hal-hal sederhana seperti kelelahan fisik atau perubahan cuaca—sering tanpa disadari ikut menggerus kualitas iman. Karena itu, menjaga kestabilan batin menjadi kunci agar iman tidak terus merosot.

Kiai Ali mengingatkan bahwa Nabi Muhammad telah memberikan pedoman sederhana namun mendasar: menjaga shalat dengan khusyuk dan menghidupkan dzikir dalam keseharian. Dua hal ini bukan sekadar ritual, melainkan penyangga agar hati tetap terhubung dengan Allah.

Ia kemudian mengutip sebuah hadis tentang tiga perkara yang menjadi penyelamat hidup manusia. Pertama, rasa takut kepada Allah, baik dalam keadaan sendiri maupun di tengah keramaian. Takwa, menurutnya, bukan soal situasi, melainkan kesadaran yang harus hadir dalam setiap keadaan.

Kedua, hidup sederhana. Dalam kondisi lapang ataupun sempit, manusia diajak untuk tidak berlebihan dan tetap mampu mengendalikan diri. Kesederhanaan bukan sekadar gaya hidup, tetapi sikap batin agar tidak diperbudak oleh dunia.

Ketiga, berlaku adil. Ini, kata Kiai Ali, adalah ujian yang paling berat. Adil bukan hanya ketika tenang, tetapi juga saat marah dan saat senang. Keputusan tidak boleh lahir dari dorongan emosi, kedekatan, atau kepentingan sesaat.

“Jangan sampai kebencian menutup akal sehat, dan jangan pula kesenangan membuat kita kehilangan keadilan,” ujarnya.

Ia menegaskan, keputusan yang diambil tanpa kendali akal dan nilai-nilai syariat hanya akan menyeret manusia pada penyesalan. Dalam istilah yang ia gunakan, “qodok” atau keputusan yang lahir dari emosi semata bisa “mematikan akal”.
Selain itu, Kiai Ali juga menyinggung pentingnya mawakofa—sikap bersandar sepenuhnya kepada Allah. Dalam pandangannya, banyak kegelisahan manusia muncul karena merasa mampu menyelesaikan segalanya sendiri, tanpa melibatkan Tuhan.

“Harapan itu akan ringan jika bersama Allah. Tapi akan terasa berat jika kita merasa bisa sendiri,” katanya.

Taujiah malam itu terasa dekat dengan kehidupan jamaah. Di tengah tekanan ekonomi, tuntutan sosial, dan derasnya arus informasi, pesan tentang menjaga iman menjadi relevan. Bagi anggota Jatman maupun masyarakat sekitar, majelis seperti ini bukan hanya rutinitas keagamaan, tetapi juga ruang untuk merawat ketenangan batin.
Menjelang akhir acara, doa bersama menggema di dalam masjid. Suaranya pelan namun serempak, menghadirkan suasana hening yang penuh haru. Di tengah lantunan itu, banyak yang larut dalam doa—seolah menitipkan beban hidup yang tak selalu mampu diucapkan.

Manaqib Kubro malam itu tidak sekadar menjadi tradisi. Ia menjelma menjadi pengingat: di tengah dunia yang terus bergerak dan kerap mengguncang, manusia tetap membutuhkan pegangan. Dan bagi para jamaah di Sragi dan sekitarnya, pegangan itu adalah iman yang dijaga—pelan, tapi terus dihidupkan.

*) Sragi Sukorejo 

Posting Komentar untuk "Menjaga Iman di Tengah Guncangan Hati, Manaqib Kubro Jatman Sukorejo "