Menjaga Istiqamah di Jalan Sunyi Taujiah Kiai Ali Barqul Abid pada Baiatan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Di  Masjid At-Taqwa Ngunut, selepas musim panjang Ramadan dan riuh Idulfitri, jamaah kembali berkumpul dalam suasana yang lebih hening. Baiatan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dengan sanad KH Imam Muhadi menjadi penanda dimulainya kembali perjalanan batin: sebuah laku sunyi yang menuntut kesetiaan, bukan sensasi.

Dalam taujiahnya, Kiai Ali Barqul Abid mengingatkan satu hal mendasar yang kerap terlewat dalam semangat beragama: mengoreksi diri lebih utama daripada memburu rahasia Ilahi. Menggemakan hikmah para arif, termasuk Ibnu Atha'illah, beliau menegaskan bahwa jalan spiritual bukan panggung untuk memamerkan keistimewaan, melainkan ruang membersihkan hati dari kotoran yang halus—riya’, ujub, dan kepentingan diri yang sering tak disadari.

Di tengah masyarakat yang mudah terpikat kisah luar biasa, beliau memberi garis tegas: yang dicintai Allah adalah istiqamah, bukan karamah. Bagi orang yang menempuh jalan tarekat, tujuan utamanya adalah ridha Allah—bukan menjadi “wali” yang dipenuhi keajaiban. Karamah, dalam pandangan beliau, bisa menjadi “penarik” bagi orang awam, tetapi bagi mereka yang telah berjalan di jalan Allah, ia adalah hal biasa—bahkan patut diwaspadai sebagai penghalang yang halus.

Nasihat serupa pernah disampaikan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Ketika orang mengagungkannya karena mampu berkomunikasi dengan yang telah wafat, beliau tidak menjadikannya ukuran keutamaan. Sebab yang luar biasa bukanlah kemampuan menembus yang gaib, melainkan keteguhan menjaga diri tetap lurus di hadapan Allah.

Karena itu, sebagaimana diingatkan pula oleh Al-Jurjani, seorang salik tidak boleh mudah terpesona oleh karamah. Bahkan jika ia datang, sikapnya harus tetap sama: sederhana, tenang, dan istiqamah. Kelebihan yang muncul sebelum kokohnya istiqamah justru dikhawatirkan sebagai istidraj—sebuah jebakan halus yang membuat seseorang merasa telah sampai, padahal baru di permulaan jalan.

Taujiah itu juga menguliti lapisan niat dalam ibadah. Ada yang beribadah karena motif tertentu—kesehatan, ketenangan, atau manfaat duniawi lain. Ada pula yang beribadah karena pertimbangan akal: karena itu benar dan rasional. Namun, kedua jenis niat ini belum sepenuhnya lurus kepada Allah. Sebab Allah sering “menyembunyikan rahasia” di balik ibadah, agar manusia tidak terjebak pada hasil, tetapi tetap setia pada tujuan.

Dalam bagian yang lebih membumi, beliau menyinggung ukuran keberhasilan dakwah. Mengajak orang yang jauh dari agama untuk kembali, itu baik—namun masih dianggap “biasa”. Yang lebih berat justru menjaga orang yang sudah baik agar tidak menyimpang, atau mengembalikannya ketika mulai berbelok. Di situlah keteguhan, kesabaran, dan keikhlasan benar-benar diuji.

Di tengah zaman yang serba cepat dan gemerlap, pesan itu terasa semakin relevan. Jalan spiritual bukan perlombaan menuju keajaiban, melainkan ketekunan menjaga arah. Istiqamah—meski tanpa sorotan, tanpa cerita spektakuler—justru menjadi ukuran sejati kedekatan seorang hamba.
Dari masjid di Ngunut itu, pelajaran sederhana kembali ditegaskan: dalam perjalanan menuju Allah, yang paling berharga bukan apa yang tampak luar biasa, melainkan apa yang terus dijaga—diam-diam, konsisten, dan tulus.

Posting Komentar untuk "Menjaga Istiqamah di Jalan Sunyi Taujiah Kiai Ali Barqul Abid pada Baiatan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah"