Perang Sunyi, Daya Tak Kasat Mata, dan Kebijaksanaan yang Menyembunyikan Kekuatan (Perang Iran - Israel dan Amerika)


Di sebuah sudut desa di Sukorejo, Baron, Nganjuk, percakapan sederhana menjelma refleksi yang tak sederhana. Kang Soni—atau yang akrab disebut Mbah Soni , bernama asli Musoni—tidak sedang membaca buku strategi militer atau teori geopolitik. Ia hanya duduk santai di sekitar Makam Syech Bisri, tempat ia oleh Kiai Imam Muhadi menjadi juru kunci, ketika tiba-tiba membandingkan perang modern dengan pengetahuan lama yang hidup di masyarakat.

“Sekarang perang itu tidak butuh banyak orang,” katanya pelan, diakhiri tawa kecil. “Cukup tahu siapa targetnya, dan lokasinya.”

Kalimat itu terdengar seperti lelucon, tetapi sesungguhnya menggambarkan perubahan besar dalam cara manusia berkonflik.

Dalam lanskap global hari ini, perang memang bergerak menuju presisi. Serangan tidak lagi selalu berupa gelombang pasukan atau dentuman besar yang menghancurkan kota. Teknologi memungkinkan penentuan target secara spesifik: individu, fasilitas strategis, atau titik tertentu yang dianggap vital.

Presisi menjadi kata kunci.
Bukan hanya untuk efektivitas, tetapi juga untuk menghindari dampak luas yang tidak diinginkan. Dalam banyak kasus, serangan diarahkan sedemikian rupa agar hanya satu titik yang terkena, sementara lingkungan di sekitarnya tetap utuh. Perang menjadi sunyi, cepat, dan sering kali tak kasat oleh publik hingga semuanya telah selesai.

Di titik ini, apa yang disampaikan Kang Soni menemukan relevansinya—meski berasal dari horizon yang sangat berbeda.

“Orang Indonesia sudah lama kenal begitu,” lanjutnya.

Yang ia maksud bukan teknologi, melainkan praktik tradisional: tenung, santet, teluh, guna-guna. Dalam banyak kebudayaan lokal, praktik ini dipercaya bekerja dengan prinsip yang mirip—menentukan target secara spesifik, lalu “mengirimkan” sesuatu yang hanya mengenai sasaran itu.

Dalam narasi yang berkembang di masyarakat, santet tidak merusak rumah, tidak menjatuhkan pohon, tidak memicu ledakan. Ia bekerja diam-diam, personal, dan—ini yang paling sering disebut—tepat sasaran.

Presisi, dalam bahasa yang berbeda.
Kepercayaan ini tentu tidak berdiri di ruang kosong. Ia hidup dari pengalaman kolektif, cerita turun-temurun, serta keyakinan yang mengakar dalam struktur budaya. Di banyak daerah, praktik tersebut bahkan memiliki “spesialisasi”: ada yang dikenal untuk melemahkan, ada yang untuk mengganggu, ada pula yang diyakini bisa mencelakai secara serius.

Namun, yang menarik bukan semata soal ada atau tidaknya praktik itu, melainkan cara masyarakat memaknainya: sebagai bentuk kekuatan yang tidak boleh digunakan sembarangan.

Di sinilah sosok Kiai Imam Muhadi menjadi penting dalam cerita Kang Soni.

Menurutnya, sang kiai berada di posisi yang unik: memahami fenomena tersebut, tetapi tidak pernah menempatkan diri sebagai “pembuka rahasia”. Ketika orang datang dengan keluhan—merasa terkena santet atau tenung—Kiai Imam Muhadi tidak mengonfirmasi, tidak pula menyangkal secara frontal.

Ia memilih jalan ketiga: mengobati tanpa memperuncing narasi.

Yang diberikan adalah doa, amalan, dan penguatan batin. Jika ada tindakan lebih jauh, dilakukan diam-diam, tanpa publikasi, tanpa menyebut siapa pelaku atau apa bentuk serangannya.

Strategi ini bukan sekadar spiritual, tetapi juga sosial.

Dengan tidak menyebut “siapa menyerang siapa”, ia memutus kemungkinan lahirnya siklus balas dendam. Ia menghindarkan masyarakat dari konflik yang bisa meluas hanya karena prasangka.

Dalam konteks ini, yang ia lakukan mirip dengan prinsip dalam perang modern: menghindari “kerusakan tambahan”. Hanya saja, medan yang ia jaga bukan wilayah fisik, melainkan hubungan antar manusia.

Kang Soni juga menyinggung soal olah kanuragan—ilmu yang dalam tradisi tertentu diyakini bisa menjadi benteng sekaligus, jika terpaksa, alat serang.

Namun ada satu hal yang menarik: ilmu itu, menurutnya, tidak diberikan kepada mereka yang masih memiliki ambisi untuk bertarung. Justru diberikan ketika seseorang telah melewati hasrat untuk menang.

“Sudah tidak butuh musuh,” katanya.

Di titik ini, presisi bukan lagi soal kemampuan menyerang, melainkan kemampuan menahan diri.

Seseorang mungkin tahu cara “menarget”, tetapi memilih untuk tidak melakukannya.

Perbandingan antara perang modern dan praktik tradisional ini tentu tidak bisa disamakan secara literal. Yang satu berdiri di atas teknologi dan sains, yang lain di atas kepercayaan dan budaya.

Namun keduanya memperlihatkan satu benang merah: manusia selalu mencari cara untuk membuat konflik menjadi lebih efektif, lebih terarah, dan—setidaknya dalam klaimnya—lebih terkendali.

Masalahnya bukan pada kemampuan untuk menarget.

Masalahnya adalah pada keputusan untuk menggunakan kemampuan itu.

Di Sukorejo, di bawah sunyi pepohonan makam tua, pelajaran itu terasa sederhana namun dalam. Bahwa memiliki kemampuan—baik yang kasat mata maupun yang diyakini tak kasat—tidak otomatis menjadikannya layak digunakan.

Kiai Imam Muhadi, melalui jalan sunyinya, menunjukkan bahwa kekuatan tertinggi bukan pada presisi serangan, melainkan pada kebijaksanaan untuk tidak menyerang.

Di dunia yang semakin canggih dalam menentukan target, mungkin justru itu yang paling sulit: memilih untuk tidak menarget siapa pun.

***

Posting Komentar untuk "Perang Sunyi, Daya Tak Kasat Mata, dan Kebijaksanaan yang Menyembunyikan Kekuatan (Perang Iran - Israel dan Amerika) "