Menjaga Tali yang Tak Terlihat

Di sebuah sudut desa di Ponorogo, di Masjid Al Furqon Cekok, Babadan, ada doa yang tak pernah benar-benar selesai. Ia diucapkan, diaminkan, lalu hidup dalam ingatan para jamaah yang pulang membawa sesuatu yang tak kasat mata: rasa terhubung.

Doa itu sederhana, dalam bahasa Jawa yang akrab di telinga: “Mugi saget terus gandeng kalih guru kita Mbah Yai Imam Muhadi ngantos tutuke umur.” Sebuah harapan agar sepanjang hayat, murid tak pernah lepas dari gandengan gurunya.

Doa itu selalu dibacakan oleh Kiai Khamdi, penerus yang melanjutkan peran dari Kiai Toyib, yang sebelumnya menjadi badal atau khalifah dari Kiai Imam Muhadi. Namun bagi para murid, doa itu bukan sekadar penutup acara baiatan. Ia seperti simpul yang mengikat, mengingatkan bahwa jalan ini bukan jalan sendiri.

Dalam tradisi tarekat, hubungan guru dan murid bukan sekadar hubungan belajar-mengajar. Ia adalah ikatan batin. Bukan hanya soal ilmu, melainkan juga adab, ketulusan, dan keberkahan yang diyakini mengalir dari guru kepada muridnya.

Kiai Toyib, yang oleh banyak orang disebut “tukang kitab”, justru menolak semua gelar itu. Ia lebih suka menyebut dirinya sebagai “babunya Kiai”—pesuruh, pelayan. Sebuah pilihan sikap yang mungkin terdengar merendah, tetapi di situlah letak inti dari jalan yang ia tempuh: menghapus diri di hadapan guru.

Sikap serupa juga ditanamkan oleh Pak Yadi, sosok yang pertama kali mengenalkan kami kepada Kiai Imam Muhadi. Nasihatnya lugas, bahkan terdengar keras: “Pinter-pintero golek gondelan.” Pintar-pintarlah mencari pegangan.

Pegangan itu bukan benda. Ia adalah tali yang tak terlihat—tali yang menghubungkan murid dengan gurunya. Tali itu dijaga dengan cara mengamalkan ilmu, menjaga nama baik guru, membesarkan ajarannya, dan menyebarkan pelajaran yang telah diterima.

Namun ada satu garis yang tak boleh dilanggar: ojo macem-macem, ojo ngambil keuntungan. Jangan bermain-main, jangan mengambil keuntungan dari jalan ini.

Pesan itu terasa sederhana, tetapi di tengah dunia yang kerap mengukur segala sesuatu dengan manfaat dan hasil, ia menjadi pengingat yang keras. Bahwa tidak semua hal harus berujung pada keuntungan. Bahwa ada jalan yang justru harus dijaga dari kepentingan.

Mengikuti Kiai, dalam pemahaman mereka, bukan soal datang ketika butuh lalu pergi ketika sudah cukup. Bukan pula semata-mata untuk mengejar kesuksesan dunia, meski tak bisa dimungkiri bahwa kemudahan hidup sering datang sebagai “bonus”.

Yang utama adalah keselamatan. Bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Prinsip itu tercermin dalam kehidupan Kiai Imam Muhadi sendiri. Kesederhanaannya menjadi teladan—bukan hanya dalam sikap pribadi, tetapi juga dalam kehidupan keluarganya. Sebuah kesederhanaan yang tidak dibuat-buat, melainkan tumbuh dari keyakinan bahwa hidup bukan soal apa yang dimiliki, tetapi bagaimana dijalani.

Kini, estafet itu diteruskan oleh putranya, Kiai Ali Barqul Abid. Dalam setiap pengingatnya, ia tidak hanya mengajak untuk tetap terhubung dengan guru, tetapi juga untuk terus kembali ke dalam diri: memperbarui, memperbaiki, dan meluruskan niat.

Bagi para salik—para penempuh jalan—niat bukan sesuatu yang sekali jadi. Ia harus dirawat. Ketulusan dan keikhlasan tidak datang sekali, lalu menetap. Ia diuji oleh waktu, oleh keadaan, oleh kepentingan yang pelan-pelan bisa menyusup tanpa terasa.

Karena itu, Kiai Ali Barqul Abid mengajarkan untuk terus memurnikan tujuan dan menjernihkan harapan. Dalam doa yang kerap beliau panjatkan bersama para murid, arah itu ditegaskan dengan sederhana namun dalam:

“Ilāhī anta maqṣūdī wa riḍhāka maṭlūbī wa ma‘rifataka maṭlūbī, a‘ṭinī maḥabbataka wa ma‘rifataka.”

Tuhanku, Engkaulah tujuanku, ridha-Mu yang kucari, dan mengenal-Mu adalah yang kuinginkan. Anugerahkanlah kepadaku cinta kepada-Mu dan ma’rifat kepada-Mu.

Doa itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah kompas. Penunjuk arah agar langkah tidak melenceng, agar hati tidak keruh, agar tujuan tidak bergeser.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh godaan, menjaga niat mungkin adalah perjuangan paling sunyi. Tidak terlihat, tidak terdengar, tetapi menentukan segalanya.

Barangkali di situlah seluruh ajaran ini bermuara: pada sesuatu yang sangat sederhana, tetapi paling sulit dijaga.

Tetap terhubung dengan guru.
Tetap menjaga tali itu.
Dan memastikan hati yang menggenggamnya tetap jernih.

Sebab tanpa kejernihan niat, tali sekuat apa pun bisa terasa longgar. Namun dengan niat yang lurus, bahkan yang tak terlihat pun akan tetap terikat kuat—hingga ujung usia.

(30 Ramadhan 1447)

Posting Komentar untuk "Menjaga Tali yang Tak Terlihat"