Bergua Hira di Lantai Dasar Kehidupan

Tulisan Mas Pepih Nugraha tentang “Menikmati Titik Terendah Kehidupan” mengingatkan saya pada Kiai Suyadi Ali (Pak Yadi, orang yang membawa kami mengenal KH Imam Muhadi, guru Mursyid kami). Beliau pernah mengatakan sesuatu yang terdengar paradoksal: seorang wali—kekasih Allah—justru merasa tidak disayang ketika hidupnya terlalu tenang tanpa cobaan.

Kalimat itu sekilas terasa ganjil. Sebab dalam logika umum, kasih sayang Tuhan sering kita ukur dari kelapangan hidup: rezeki yang cukup, kesehatan, dan kedudukan yang baik. Padahal dalam pengalaman spiritual, ukuran itu sering terbalik.

Di dunia tasawuf, cobaan bukan selalu tanda murka. Ia sering dipahami sebagai panggilan agar manusia kembali menyadari siapa dirinya.

Guru kami juga sering mengingatkan ketika seseorang berguru kepada seorang mursyid—dalam hal ini kepada Kiai Imam Muhadi—tujuannya bukan untuk mencari kenyamanan dunia, apalagi mengejar kekayaan atau kedudukan. Jalan spiritual tidak pernah dijanjikan sebagai jalan yang memudahkan urusan dunia.

Justru sebaliknya. Kita mengikuti orang yang hidupnya repot mengurus umat. Ribuan santri, ribuan persoalan, dan manusia datang silih berganti dengan keluh kesahnya. Ada yang datang karena kesusahan, ada pula yang hanya datang ketika masalahnya menumpuk. Mengaji kepada guru kadang seperti meminum aspirin: dicari hanya ketika kepala sedang pusing.

Di pintu masuk rumah Pak Yadi tertempel sebuah tulisan tangan sederhana: “Bergua Hira’ di puncak kehidupan materialistis.”

Tulisan itu seperti pengingat: di tengah dunia yang semakin rasional, penuh hitung-hitungan keuntungan dan persaingan, manusia tetap membutuhkan ruang sunyi seperti Gua Hira—tempat Nabi Muhammad menyepi sebelum menerima wahyu.

Artinya jelas: tetaplah sederhana, merendah, tidak perlu terlihat, bahkan jika dunia di luar sana sedang gemerlap dan riuh oleh ambisi.

Dalam perspektif inilah tulisan Mas Pepih menemukan resonansinya. Titik terendah kehidupan, seperti yang ia gambarkan sebagai “lantai dasar”, bukan semata tempat kehancuran. Ia bisa menjadi ruang perjumpaan yang paling jujur antara manusia dengan dirinya sendiri—dan dengan Tuhannya.

Selama manusia masih berdiri tegak di puncak keberhasilan, ia sering terlalu sibuk melihat cermin atau menatap mereka yang berada di bawahnya. Tetapi ketika seseorang jatuh hingga ke dasar sumur, seperti metafora yang dipakai Mas Pepih, barulah ia menengadah ke langit.

Tasawuf menyebut momen ini sebagai saat runtuhnya kesombongan diri. Luka yang terasa pahit itu seperti operasi yang membuang tumor ego.

Godaan yang menyakitkan sering menjadi alarm kesadaran. Sebaliknya, godaan yang menyenangkan justru lebih berbahaya karena membuat manusia terlena.

Dalam banyak kisah para sufi, ujian yang paling berat bukanlah kesulitan, melainkan kelapangan. Kekayaan dan kekuasaan justru lebih sering membuat manusia lupa kepada Tuhan dibandingkan kemiskinan atau kesusahan.

Karena itu, titik terendah kehidupan tidak selalu berarti Tuhan sedang menjauh. Bisa jadi justru sebaliknya: itulah saat manusia berhenti melarikan diri dari-Nya.

Di sanalah seseorang belajar diam. Tidak melawan kenyataan dengan amarah, tetapi menerima kehancuran dirinya dengan kesadaran.

Barangkali benar seperti yang ditulis Mas Pepih: kekuatan terbesar bukan muncul saat manusia melawan kehancuran, melainkan saat ia berani merangkulnya.

Dari dasar sumur itulah langit sering terlihat paling jernih.

Dan mungkin, justru dari sana
pula seseorang mulai menemukan jalan pulang.

Alfatihah katur KH Imam Muhadi dan KH Suyadi Ali.

***

NB: ini merupakan komentar atas tulisan saya mengomentari Facebook Mas Pepih Nugraha seorang wartawan senior Kompas, "Menikmati Titik Terendah Kehidupan": https://www.facebook.com/share/p/1C4uEwDq9G/

Posting Komentar untuk "Bergua Hira di Lantai Dasar Kehidupan"